Showing posts with label just a femme_not feminist. Show all posts
Showing posts with label just a femme_not feminist. Show all posts

Saturday, March 5, 2011

tentang sendiriku


Kesendirian mengajariku banyak hal,
Banyak sekali.

Pelan, kesendirian mengajariku untuk kuat ...
Mengajariku bertahan.

Meski sesekali membuatku tampak lebih egois,
Tapi membuatku lebih comfortable.
Karena aku tidak harus selalu berharap,
Ada seseorang lain disana.
Atau disampingku, yang bisa kupinjam bahunya ...
Semenit saja untuk menangis.

Semenit, saja ...


---------------------------perempuan, kabut, dan pesona-------


#sambil ndengerin you are not alone-nya Saosin#

Tuesday, December 29, 2009

Perempuan, Jika Suatu Saat Harus Berbagi.

Saya mengenal perempuan itu belum begitu lama, belum genap setahun.Saya tidak perlu menceritakan dimana saya mengenalnya. Cukuplah kisahnya sedikit banyak telah menginspirasi saya membuat tulisan ini.

Namanya, sebut saja Camelia (ah saya sangat suka nama ini, sejak Ebiet G Ade mempopulerkannya di jagat musik Indonesia). Umurnya sudah 40 tahun (entah lebih berapa, tepatnya saya kurang tahu). Tetapi, di usia yang sudah menginjak kepala empat itu, wajahnya masih terlihat ayu dan parasnya berbinar. Manis, dengan kacamata hitam menghias wajahnya. Sungguh, sebelumnya saya tak menyangka wajah secantik dan semuda itu sudah berusia 40 tahunan. Perempuan itu sudah bersuami dan mengarungi hampir 15 tahun lebih hidupnya bersama sang suami tercinta. Usia suaminya berjarak beberapa tahun darinya, terlihat dari uban yang hampir menutupi kepalanya. Ya, usia pernikahannya dengan sang suami sudah sangat lama. Lama sekali, dan tanpa seorang putra sekalipun.

Saya kurang tahu apa penyebabnya, yang jelas mungkin Alloh belum mempercayakan seorang putera untuk dititipkan pada sepasang suami-isteri itu. Meskipun pada akhirnya, Mbak Camelia (saya menyebutnya demikian) dan suami mengangkat seorang anak perempuan. Namun sang suami tetaplah menginginkan seorang anak kandung, anak yang benar-benar lahir dari rahim isterinya dan itu adalah benihnya sendiri.

Hingga suatu ketika, terbongkarlah sebuah rahasia. Sang suami ternyata selama ini telah menikahi seorang perempuan lain, secara siri. Dan perempuan itu akhirnya mengandung. Mulanya Mbak Camelia tidak percaya dengan omongan ibu-ibu di tempat pengajian yang diikutinya. Mbak Camelia mengatakan dengan tegas, “Saya sangat percaya dengan suami saya.” Hingga suatu saat, entah bermula darimana, Mbak Camelia akhirnya mengetahui bahwa sang suami telah menikah lagi tanpa sepengetahuan dan seijin dirinya. Mbak Camelia terguncang, jelas. Apalagi setelah tahu bahwa perempuan itu tidak lain adalah khadimat-nya (pembantu rumah tangganya), yang artinya selama hampir setahun itu dia tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam rumahnya. Sakit hati, sangat. Sampai-sampai keluarga besarnya menyuruhnya untuk minta cerai saja pada sang suami. Tapi dengan tegas pula, perempuan berhati mulia itu menolaknya. Mbak Camelia memilih mempertahankan rumah tangganya, dengan menerima kehadiran madu-nya yang tak lain adalah bekas khadimatnya dahulu. Berat memang, tapi perempuan itu mencoba mengikhlaskannya. Hingga akhirnya, si isteri muda melahirkan anak pertamanya, seorang bayi lelaki yang sangat mirip dengan sang ayah. Mbak Camelia dengan ikhlas ikut merawatnya.

Meskipun diakuinya, kadang merasakan sakit di dadanya. Apalagi, seperti yang saya lihat juga, si isteri muda ternyata kurang baik akhlaknya dan sangat pencemburu. Sedang sang suami, semenjak kehadiran anak lelaki dari isteri keduanya, mulai dirasakan perubahan sikapnya. Lagi-lagi, Mbak Camelia menerimanya dengan ikhlas dan mencoba tetap menjalani hari-hari seperti biasanya. Orang-orang disekitarnya hanya perlu tahu bahwa kehidupan rumah tangganya dengan sang suami dan isteri muda baik-baik saja. Bahkan terlihat rukun, ketiganya sering pergi bersama.

Hingga suatu saat, keajaiban Alloh datang. Mbak Camelia mengandung, seorang anak yang telah ditunggunya selama belasan tahun kini hadir di rahimnya. Mbak Camelia menjaga janinnya dengan baik, dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Tetap membantu suaminya menjaga bengkel dan toko, merawat ibu mertua (yang sudah pikun), menyiapkan keperluan suami dan anak angkatnya.

Dan ujian Alloh selalu datang pada orang yang tepat. Pada usia kandungan yang sudah mencapai 8 bulan, Mbak Camelia mengalami pendarahan. Penyebabnya, Ibu Mertuanya terjatuh di kamar mandi dan kebetulan saat itu tidak ada seorangpun di rumah, hanya ada 2 orang karyawan laki-laki (kebetulan rumah dan bengkel menjadi satu). Akhirnya Mbak Camelia dengan dibantu 2 karyawannya mengangkat tubuh Ibu Mertua dan membawanya ke rumah sakit. Mungkin karena kelelahan, tiba-tiba Mbak Camelia mengalami pendarahan. Dan akhirnya harus opname di rumah sakit. Karena kandungannya sudah tua dan fisiknya agak lemah, membuat Mbak Camelia berkali-kali harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Sang suami mengurusnya dengan dibantu sang isteri muda. Seperti yang saya lihat, sang isteri muda memperlihatkan sikap tidak sukanya. Jujur, saya kurang suka dengan sikap sang isteri muda itu, karena beberapa kali berinteraksi dengannya, saya tidak mendapatkan keramahan darinya.

Hingga puncaknya, suatu sore ketika kondisinya sudah membaik, pendarahan terulang lagi. Ssng suami membawanya ke rumah sakit. Dan akhirnya Alloh memang yang paling berhak mengambil segala sesuatu yang dititipkan pada hamba-Nya. Dengan pertimbangan banyak hal, maka dengan sangat terpaksa Dokter menyarankan untuk mengeluarkan si bayi sebulan sebelum waktunya (prematur). Dokter menyarankan untuk caesar namun Mbak Camelia menginginkan untuk melahirkan secara normal. Dan dengan kegigihan serta keyakinan, Mbak Camelia dapat melahirkan secara normal. Namun sayangnya, si bayi hanya mampu bertahan hidup selama satu jam. Karena kondisi Mbak Camelia yang lemah dan untuk menjaga sisi psikologisnya, sementara waktu Dokter menyarankan untuk tidak memberitahukan kondisi si bayi pada Mbak Camelia. Hingga akhirnya saya menjenguknya di rumah sakit, kondisinya memang masih lemah. Saya tidak berani menyinggung tentang bayinya, saya hanya menanyakan kondisinya dan mencoba membesarkan hatinya. Dan sangat tidak disangka-sangka, Mbak Camelia akhirnya menceritakan semuanya, kondisinya dan si bayi. Ternyata, keluarga sudah memberi tahu kondisi si bayi.

Saya mencoba menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Lidah saya kelu, tak tahu harus berkata apa. Hanya mampu bilang, “Sabara ya mbak ... Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Bayi lelaki yang sudah diimpikannya sejak belasan tahun lalu, harus direlakannya untuk diambil kembali oleh Pemiliknya.

Saya tahu, Mbak Camelia pasti shock, tetapi saya yakin perempuan itu mempunyai kesabaran lebih.

Ah ya, inilah sosok perempuan yang begitu menginspirasi saya. Yang tegar, meski diduakan oleh kekasih tercintanya. Tegar, saat semua yang dengan susah payah diusahakannya harus dikembalikan lagi pada Sang Pencipta.

Perempuan, jika suatu saat harus berbagi. Dia akan tahu, bagaimana dia harus melangkah sebagai seorang perempuan.

Dan suatu saat, jika saya dihadapkan pada sebuah pilihan, saya akan memilih apa yang memang saya inginkan. Karena saya tahu, Alloh pun memang telah memilihkannya untuk saya.


Solo, hujan deras mengguyurnya sore ini ....
_di setiap jengkal kehidupan saya sebagai perempuan, i’m proud to be a woman_

Friday, November 6, 2009

SKETSA : “Mari kita lihat bisa sebaik apa kau tanpa seorang ibu!”

Hari ini (bahkan dari beberapa waktu yang lalu), koran masih membahas hal yang sama : Anggodo, Anggodo, Anggodo! Hah! Hebat benar dia, sampai diperbincangkan dimana-mana. Dan dunia Indonesia pun semakin semrawut dengan “mafia-mafia”nya. Tapi saat ini aku sedang tak berminat untuk membahas apa, kenapa, dan bagaimana itu makhluk bernama Anggodo.
.................................................................................>>

Pernah dengar lagu ini?
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ...
Ibu
Ibu

Tadi pagi kubaca sebuah berita di salah satu sudut sebuah koran cukup terkenal di Solo. Disana ditulis sebuah kisah seorang Ibu di China yang berusaha menyelamatkan anaknya. Usianya sudah mencapai 55 tahun. Perempuan itu rela berjalan kaki sejauh 10 kilometer setiap hari selama 7 bulan. Hal itu dilakukannya agar dia bisa menurunkan berat badannya dan menyelamatkan nyawa putranya.

Chen Yurong, perempuan itu, berjalan kaki lebih dari 2.000 kilometer secara keseluruhan setelah diberitahu bahwa putranya yang berusia 31 tahun, Ye Haibin, memerlukan cangkok hati. Namun pada Februari lalu dokter mengatakan hati Chen tak cocok karena telah tertimbun sangat banyak lemak.

Dalam upaya membuat hatinya siap untuk pencangkokan, Chen berjalan kaki di sepanjang tanggul sungai di dekat rumahnya di kabupaten Jiang’an, Provinsi Hubel, setiap hari. Ia juga menjalani diet, dan hanya makan nasi serta sayuran. Dan upaya keras si ibu itu terbukti tidak sia-sia. Berat badannya berhasil turun 8 kilogram, dan 19 Oktober lalu, tim dokter menyatakan hatinya telah mencapai standar untuk pencangkokan.
Dalam operasi selama 14 jam di Tonggi Hospital University, Chen telah memberikan sebagian hatinya kepada sang anak.

Desember tahun lalu, Chen memutuskan untuk mendonorkan hatinya kepada si anak, yang selama 18 tahun menderita penyakit Wilson. Penyakit Wilson merupakan penyakit genetika yang disebabkan oleh timbunan tembaga yang terlalu banyak dalam tubuh sehingga menyebabkan degenerasi (kemerosotan fungsi) hati.

Tim dokter mengatakan bahwa secara teori, hidup Ye Haibin dapat diperpanjang untuk waktu yang lama. Chen adalah ibu yang “luar biasa”.

SUBHANALLOH!

Aku benar-benar menangis membaca berita ini di koran.
That’s the wonderful person, IBU!
Dia lakukan semua untuk anaknya, meskipun nyawa taruhannya.

Ah, Ibu ...
Membayangkan wajahnya saja, terlintas begitu banyak kenangan.

Jadi ingat, kalau dulu sewaktu aku masih kecil, setiap kali Ibu menghadiri walimahan tetangga atau ketika rapat di kantor (kebetulan Ibuku adalah seorang guru) dan mendapatkan makanan kardus atau snack-snack kecil pasti dibawa pulang. Untuk anak-anaknya di rumah.

Setiap habis masak untuk keluarga dan tiba saatnya waktu makan, selalu menunggu semua anggota keluarga mengambil makan terlebih dahulu. Ibu menunggu untuk memastikan bahwa suami dan anak-anaknya telah kenyang.

Saat aku sedang menghadapi UAN SMA, dan jatuh sakit, Ibu dengan setia menemaniku belajar dan merawatku.

Saat aku akhirnya memutuskan untuk kuliah di Solo, dan kemudian menjadi aktivis (sok) sibuk hingga kadang jarang pulang ke rumah, Ibu hanya bisa bersabar dengan pertanyaannya “Kapan pulang, nduk?”.

Saat akhirnya aku collapse dengan tipusku dan opname beberapa kali di rumah sakit, Ibu berkata, ”Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa merawatmu dengan baik.” Kekhawatiran seorang Ibu.

Aku membuatnya sedih. Sedih.

Alloh ...

Aku tak bisa membayangkan, apa jadinya aku tanpa seorang Ibu. Siapalah aku, lahir dari rahim seorang perempuan tangguh, yang aku sangat tahu ketika beliau mendapatkan cobaan besar dalam hidupnya dan aku tak mampu berbuat apa-apa.

Alloh, kutitipkan penjagaannya pada-Mu.
Jangan ambil kebahagiaan dari sisinya, penuhi ia dengan limpahan rahmat-Mu.
Terlalu banyak kenangan, dan aku tak ingin menghapusnya.

Alloh, beri aku waktu ... sedikit lagi, untuk membahagiakannya.
Sampaikan usiaku hingga aku masih bisa mencium lembut kedua tangannya yang tak pernah henti menengadah ke langitmu, memanjatkan doa di tiap shalat malamnya.

Maafkan aku, Bu ...



_Ibu, akujatuhcintaditiapsenyumtulusmu_

Thursday, October 29, 2009

MOZAIK PEREMPUAN *hari ini aku belajar tentang hidupku sebagai seorang perempuan*

*hari ini aku belajar tentang hidupku sebagai seorang perempuan*

Perempuan.
Hampir aku selalu terkagum-kagum dengan nama itu. Sebuah nama dengan berbagai keindahan. Keindahan fisik dan hati. Jelita!

Hari ini aku benar-benar belajar tentang diriku sendiri, yang seorang perempuan, dengan segala warna yang pernah kupunya. Hitam, putih, dan terkadang abu-abu, menjelma dalam diriku yang seorang perempuan. Dan aku begitu bangga menjadi seorang perempuan. Atau jika tidak ada yang bisa dibanggakan dari ke-perempuan-anku, maka aku patut berbangga karena lahir dari rahim seorang perempuan tangguh dan jelita. Ah Ibu, engkaulah perempuanku.

And, the story goes …

Hari ini aku belajar banyak dari seorang perempuan. Dia tidak terlalu cantik tapi juga tidak terlalu jelek, secara penampilan fisik. Bahkan bisa dibilang terlalu maskulin untuk ukuran perempuan seusianya. Umurnya sudah hampir berkepala empat. Dia seorang isteri (yang dinikah siri) dari seorang tukang becak (yang notabene adalah penderita diabetes) dan seorang ibu dari lima anak. Dan sudah bisa ditebak, bahwa perempuan ini masih terdaftar dalam populasi makhluk pinggiran dengan ekonomi lemah. Saat ini dia tengah menanti kelahiran anak ke-enam-nya, anak yang entah apakah sangat didamba olehnya atau tidak.

Dan tahukah kalian? Perempuan ini dengan sangat jujur mengakui bahwa hampir kelima anaknya itu dipastikan bukan anak suaminya, melainkan hasil hubungannya dengan seorang lelaki lain (yang notabene lebih muda beberapa tahun darinya, atau bahasa kerennya disebut sebagai brondong), bahkan janin yang kini sedang dikandungnya pun hasil hubungan dengan pacar gelapnya. Masya Alloh!

Perempuan ini juga terang-terangan mengakui bahwa sang suami (yang tukang becak tadi) hanya menikahinya secara siri karena sang suami tahu bahwa perempuan ini sudah seringkali main serong dengan selingkuhannya. Bahkan sang suami men-capnya sebagai seorang pelacur (maaf). Na’udzubillah.

Memang dilihat dari cerita yang disampaikannya, perempuan ini seolah sudah tak punya malu lagi untuk menunjukkan bahwa dia tetap akan hidup dengan dirinya yang seperti itu. Terserah, orang mau men-capnya sebagai apa, dia tetaplah dia dengan wujudnya sebagai seorang perempuan. Toh, Alloh lebih tahu.

Saya tidak akan membahas masalah internal keluarga perempuan ini; kenapa dia selingkuh dan bahkan melahirkan anak-anaknya dari lelaki yang bukan suaminya hingga hampir enam kali, kenapa suaminya menjadi acuh terhadap segala kelakuannya dan kenapa dia masih mempertahankan bayi yang ada di rahimnya.

Dan saya rasa, saya juga tak berhak untuk mencap-nya sebagai makhluk nista, bukan perempuan baik-baik, yang menjual dirinya dengan sangat murah kepada syaithan. Hanya Alloh yang berhak menilainya, hanya Alloh yang lebih tahu segalanya.

Saya belajar, bahwa ternyata tidak cukup mudah untuk menjadi seorang perempuan dengan segala yang dimilikinya.

Perempuan, yang ternyata mampu menanggung beban psikologis yang lebih berat daripada lelaki. Mungkin inilah kenapa hanya perempuan yang bisa menjadi tempat curhat yang nyaman, khususnya bagi sesamanya. Dan mungkin inilah alasan, kenapa Alloh menganugerahi perempuan sebuah rahim untuk ditumbuhkan makhluk-makhluk mungil dengan pertaruhan jihad fii sabilillah. Subhanalloh!

Perempuan, yang dalam satu waktu tak akan mungkin mencintai dua lelaki sekaligus. Dia pasti akan lebih setia pada satu orang saja. Karena perempuan hanya punya satu hati dan hanya akan ada satu nama yang disimpannya di bilik hatinya itu. Berbeda dengan lelaki yang akan dengan mudahnya membagi cintanya dengan beberapa perempuan, dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan inilah alasan kenapa tidak ada poliandri di dunia seorang perempuan. How come ??

Perempuan dengan mozaiknya; kecantikan, kelembutan, ketangguhan, dan kesabarannya, membuat dunia begitu berbeda. Ia bisa menjadi “Peri Baik Hati” yang akan menjaga hati makhluk-makhluk maskulin agar tetap berjalan di atas kebaikan, tetapi ia juga bisa menjadi “Iblis Cantik” yang akan menaklukan hati makhluk-makhluk maskulin itu hingga jatuh ke jurang yang paling dalam bernama nista. Dengan “kecantikan”nya, ia bisa menaklukan semuanya, termasuk segumpal daging bernama hati. Karena tidak ada perempuan yang sangat cantik di dunia ini, yang ada ialah kaum adam yang sangat lemah bila berhadapan dengan kecantikan. Tetapi tahukah? Bahwa kecantikan perempuan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemuliaan akhlak dan perilakunya. Perfect wannabe!

Perempuan, yang bisa dengan mudahnya memaafkan, setelah berbagai pengkhianatan yang dilakukan orang yang dicintainya. Memaafkan, sebuah tindakan yang membutuhkan energi yang lebih besar dari matahari dan bintang lainnya di semesta raya, namun begitu mudah dilakukan oleh makhluk (yang katanya) lemah seperti perempuan. So deep!

Perempuan, makhluk lemah yang sangat berlebihan dalam mencintai dan membenci. Dia tidak berada ditengah-tengahnya. Hebat bukan? Sungguh beruntung makhluk-makhluk di bumi Alloh yang dicurahi perasaan cinta yang sangat kuat dari seorang perempuan, karena dia akan memberikan segala yang dimilikinya. Totalitas dalam mencintai, pengejawantahan cinta yang berbeda dari makhluk bumi lainnya. Mungkin inilah alasan kenapa lelaki tak boleh menyakiti hati perempuan. Seperti kaca ?

Perempuan, yang akan kesulitan jika dia berada diantara seorang lelaki yang dicintainya dan seorang lelaki lain yang mencintainya. Entahlah, ia akan memilih yang mana. Yang jelas, ia hanya akan memilih takdirnya sendiri. She still looking for her soulmate, in this small world!

Ah, jika begitu … benarlah, surga di telapak kaki ibu (baca: perempuan).

Saya hanya ingin menjadi seorang perempuan baik-baik, bukan karena saya ingin mendapatkan seorang lelaki baik-baik juga. Tetapi karena saya merasa bahwa saya memang menginginkannya, sejak sebelum saya menyadari betapa hebatnya menjadi seorang perempuan.

Betapa hebatnya ketika mengenang jejak hidup: titik-titik air yang menggenangi mata dan membentuk sebuah lingkar bernama telaga, peluh yang merusuhi jiwa dan merapuhi sekujur raga, sebongkah hati yang (amat sangat dan terlalu sering) lelah dengan kelelahan yang tak terlihat, hidup dengan segala hiruk pikuknya mozaik sebagai seorang perempuan. What’s a wonderful word, PEREMPUAN!

Ah, inilah bahagianya menjadi seorang perempuan.
Saya sungguh ingin menjadi seorang perempuan baik-baik.
Karena kelak ketika (pada akhirnya) saya diijinkan bertemu dengan-Mu, saya ingin tampak baik di hadapan-Mu.
Selalu ingin menjadi lebih baik.
Sungguh!



Something about Me …. 29102009
*sunyi ini membunuhku ….. i’m speechless, feeling insecure urrggghhhh! ….. menabrak tembok, in my twenty three*

Tuesday, October 27, 2009

ah, perempuan

perempuan
adalah
makhluk
paling
lemah

ternyata!


karena
terlalu
mudahnya
dia
memaafkan
kesalahan
seseorang
(yang begitu dicintainya)


padahal
memaafkan
-bagi sebagian orang-
membutuhan
kelapangan
hati
untuk
menerimanya


ah, perempuan



_untuk seorang teman: benarkah kau bersedia memaafkannya?_

Cantik .....?

sesungguhnya
tidak
ada
perempuan
yang
sangat
cantik,



yang
ada
ialah
kaum
adam
yang
sangat
lemah
bila
berhadapan
dengan
kecantikan.



-beat to beat-

Wednesday, October 21, 2009

Menjadilah Aku

Menjadilah Aku
_bertasbih cerita di pagiNya_

Maka menjadilah api yang menyala-nyala dalam cahaya-Nya
Maka menjadilah angin yang menderu dalam lintasan-Nya
Maka menjadilah embun yang menyejukkan di pagi-Nya
Maka menjadilah hujan yang membasahi semesta-Nya
Maka menjadilah pelangi yang melukis di langit cinta-Nya

_menjadilah seorang perempuan yang (akan dan selalu) merangkai asa kesalehan di dirinya_
@prameks 18okt’09, 06.38 ... berbagi bening cinta@

Grafiti Hitam Putih, Catatan Di 23

_belajar lebih banyak lagi, merangkai asa di langit cinta-Nya_

Dari Abdullah bin Busr, sesungguhnya seorang laki-laki dari desa bertanya, “Wahai Rasululloh, siapakah manusia terbaik?” Rasululloh saw menjawab, ”Orang yang panjang usianya dan bagus amalnya.”

Ya Alloh,
Semoga usiaku yang lalu, yang telah tergerus waktu
Adalah usia yang bermanfaat
Bukan usia yang penuh kesia-siaan

Ya Alloh,
Hujan badai yang Engkau berikan
Membuat lukisan pelangi-Mu terasa lebih indah
Membuatku tetap berteguh di sini
Merangkai asa di langit cinta-Mu

Ya Alloh,
Jadikanlah sisa usiaku kelak
Penuh dengan keberkahan yang Engkau berikan
Dan kelak jika kuketuk pintu surga-Mu
Akan kudapatkan salam terindah-Mu

Ya Alloh,
Ijabahi doa saudara-saudaraku yang telah berdoa dengan tulus
Dan memohon kebaikan untukku
Maka ku mohonkan juga kepada-Mu
Iringilah persaudaraan kami dengan kebaikan-kebaikanMu

Amin ya Robb ...
Amin ya Robbal’alamin ...

Untuk sahabat-sahabatku tercinta,
Syukran jazakumulloh khoir untuk doa-doanya, hanya Alloh yang mampu membalas semuanya.
Semoga Alloh Yang Maha Mendengar mengabulkannya.

Solo, My first day in 23 ....
_aku tidak sedang menunggu untuk menyerah_
18102009; 20:32

Thursday, October 15, 2009

Menyusur Jejak Pelangi

Aku memang bukan orang yang pandai menasehati
Dengan deretan hadist Nabi atau kalam Ilahi

Aku hanya perempuan biasa
Yang suka menulis kisah (berhikmah)
Yang suka menulis puisi
Bercerita tentang diriku yang sedang dirundung duka
Atau bergelimang cinta
Bercerita tentang keluargaku
Bercerita tentang sahabat-sahabatku
Bercerita tentang suatu masa
Bercerita tentang sebuah asa
Meskipun hanya sebuah coretan kecil

Jadi,
Biarlah aku dengan diriku sendiri
Yang seperti ini


Jejak pelangi, ingin kurangkai banyak asa di langit-Nya
Solo 15102009; 17:28

Sunday, November 2, 2008

akhwat ...?

22 oktober 2008
Lagi-lagi ndengerin A Love To Kill ……. Erggghhh … kenapa lagu itu “membunuhku” ??

Beberapa waktu yang lalu kebetulan ada temen sma-ku yang menikah trus aku sama temen2 dateng ke sono, rame-rame … wah ini sih bukannya menghadiri walimahan tapi malah reuni sma. Hehe …

Sebenarnya yang ikut dateng itu banyak tapi kalo diitung sih ada 7 akhwat termasuk aku (ini lagi mau cerita masalah akhwat hihi ..)

Begitu ketemu, whuaaaaaa ….!!! Pada njerit (hehe) maklum, lama gak ketemu eh .. ketemu lagi ternyata tambah ancurrr!!! Hihi … nggak ding! Setelah sekian tahun berpisah, ketemu lagi eh ternyata udah banyak yang berubah. Tapi temen-temenku rata-rata udah pada jadi bu guru (abis mereka kan ngambil D1 UNY, so kalo diitung ya duluan mereka lulusnya lah … hiks) di tempatnya masing-masing. Jadi bu guru SD yang lucu-lucu. Dari ketujuh akhwat diantara kami, 4 diantaranya masih kuliah, nah yang lainnya udah jadi bu guru.

Tapi hiks .. reaksi mereka melihatku …

”Woii .. Cix, kamu nggak berubah ya?”

Aku bengong asli. Maksudnya??

”Lihat tuh, kita-kita udah pada feminin pakai sandal n sepatu yang kemayu, weladalah .. kok dirimu masih setia dengan sandal gunung-mu itu! Hahahaha ...”

Spontan ku melihat sepasang sandal gunung-ku tercinta ... Hiks... hiks ... T_T

Teganya kalian!

Huhfffff ... emang sih, temen-temenku uda pada ”kemayu”, bisa pakai sandal ”jinjit” berapa centi tuh ... dan begitu melihatku??? Karena ternyata diantara mereka, hanya aku satu-satunya yang masih setia dengan sandal gunung-ku tercinta .. ihik ..ihik ....

”Cix, moso gak ada perubahan? Hehehe ... sing rodo kemayu saithik lah ...”

Watatatataaa .....!!!

Yeee .... emangnya dosa kalo pake sandal gunung?? emangnya kudu pake sandal berhak tinggi? Huuhhh ... males banget! Mending pake yang nyaman. Ya kan?!

Tapi, btw anyway ... jadi rada mikir juga sih ... gara-gara mereka comment kaya gitu. But, kupikir nggak ada salahnya seorang akhwat bisa memperhatikan penampilannya. Terutama kalo udah berkaitan dengan sisi-sisi feminin dan maskulin atau diantara keduanya (haaa?). Takutnya tersibghah oleh sisi-sisi maskulin yang tak kita sadari, gitu ...

Katanya sih, seorang akhwat itu harus pakai jilbab rapi (dan berkibar-kibar hihihi), baju panjang (ya iya lah ... secara menutup aurat), sandal/ sepatu yang feminin (wekkssss!!), dan tas ”cangklekan”. Hwwuuaaaaa ..... ??

Tapi bagiku, nggak masalah deh kalo misal ada akhwat pake sandal gunung (hehe .. pembelaan diri neeh ..), meskipun kenyataannya jarang ada akhwat pake sendal gunung ... (hehe .. jangan-jangan cuman aku doang? wattaa ... nggak lah, ada 1-3 orang kok .. nyari pendukung neeh ...^o^ V). Meskipun mungkin banyak yang bilang, itu masih terlalu maskulin, mbok ya lebih feminin dikit, jangan menyerupai laki-laki gitu ... hiekkkk!!!

Nek bagiku, selama masih dalam kondisi wajar sih gak papa, (menurutku lho ...), lagian apapun yang kita pakai asal nyaman dan nggak mengganggu pemandangan sih, gak masalah!

Ah .. pada akhirnya tiap orang punya pilihan sendiri-sendiri. But bagiku, gak masalah lah yaw pake sandal gunung (wong itu belinya halal bin toyyib) dan pake tas punggung. Dan aku juga tetep seorang akhwat kok! Hehe ...

Yang penting, menjadi diri sendiri deh .. nggak perlu ikut-ikutan orang lain musti pake ini pake itu ... PD aja!