Showing posts with label FIKSI_Holic. Show all posts
Showing posts with label FIKSI_Holic. Show all posts

Sunday, July 24, 2011

Sorry, I Love You



She
May be the face I can't forget
The trace of pleasure or regret
May be my treasure or the price I have to pay

She
May be the song that summer sings
May be the chill that autumn brings
May be a hundred different things
Within the measure of a day

She
May be the beauty or the beast
May be the famine or the feast
May turn each day into a heaven or a hell
She may be the mirror of my dreams
The smile reflected in a stream
She may not be what she may seem
Inside her shell

She
Who always seems so happy in a crowd
Whose eyes can be so private and so proud
No one's allowed to see them when they cry

She
May be the love that cannot hope to last
May come to me from shadows of the past
That I'll remember till the day I die

She
May be the reason I survive
The why and wherefore I'm alive
The one I'll care for through the rough in ready years

Me
I'll take her laughter and her tears
And make them all my souvenirs
For where she goes I've got to be
The meaning of my life is

She
She, oh she ….

*romantisme akut di pagi hari gara-gara ndengerin SHE-nya Elvin Costello hihihihi

Posted by lelakibiasa
Dec 23, '10 05:45 AM
for everyone

Comments:

kletingkuning wrote at 10:38 AM:
ciyeee … suit-suit, siapa tuh “She” …? :D

lelakibiasa wrote at 10:41 AM:
coba tebak …. ? :p

kletingkuning wrote at 10:45 AM:
ini lagi nyanyi apa lagi tebak-tebakan sih …? -_-“
*garukgarukkepala

lelakibiasa wrote at 10:47 AM:
nggak dua-duanya :)

kletingkuning wrote at 10:50 AM:
so …?

lelakibiasa wrote at 10:53 AM:
lagi kasmaran …. :D


kletingkuning wrote at 10:56 AM:
gubraaakkkkkssss

lelakibiasa wrote at 11:00 AM:
hahaha jatuh ya dek …?
duh, sakit dong :D
ayo dong tebak, who is she …?

kletingkuning wrote at 11:05 AM:
ogah ah

lelakibiasa wrote at 11:09 AM:
kenapa?

kletingkuning wrote at 11:14 AM:
takut :D

lelakibiasa wrote at 11:17 AM:
takut kalau She is …. :D

kletingkuning wrote at 11:20 AM:
huss huss ... udah ah, sana balik kerja.
malah onlen mulu -_-”
*ta laporin pak boss loh

lelakibiasa wrote at 11: 30 AM:
nanggung ah, ni dah hampir dhuhur.
*lah saya kan pak boss-nya :D

kletingkuning wrote at 11:33 AM:
*ngeloyor ke pantry

lelakibiasa wrote at 11: 45 AM:
hahaha, met siang dek …
jangan lupa makan ya :)

kletingkuning wrote at 11:50 AM:
:)

lelakibiasa wrote at 11: 52 AM:
manis deh senyumnya
^.*

kletingkuning wrote at 11:20 AM:
hee …………………………………? -_-“


Mata saya mulai berkabut. Membuka kembali akun saya di Multiply seperti membuka sebuah luka. Luka yang tanpa sadar saya ciptakan sendiri.

Arrrrggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh!!!

---oo0oo---

Saya pikir saya tidak akan jatuh cinta lagi setelah cinta monyet saya jaman SMP berakhir dengan tragis. Tragis karena saya hanya mampu memendam rasa suka saya, sendiri. Tanpa pernah mengutarakannya pada dia yang saya sukai. Mungkin karena masih SMP, jadi masih malu-malu kucing gitu. Hahaha.

Tapi ternyata saya salah. Definitely, I’m in love!

Semua itu dimulai sejak saya –secara nggak sengaja- bertemu dengan seorang lelaki. Lewat jejaring sosial, Multiply. Nggak keren banget khan tempat ketemunya? Hehehe. Memang diantara sekian banyak jejaring sosial, Multiply menjadi tempat nongkrong yang paling asyik. Apalagi saya memang suka sekali menulis, especially poem. Suatu kali saya nggak sengaja (oh my … ini bukan kebetulah toh?) sedang mengapresiasi puisi teman saya di journalnya, dan ketemu lah dengan lelaki itu (yang menjadi contact’s Multiply temen saya) yang guess what? He’s love the poem, same with me!

So, dimulailah kisah ini.

Penasaran who is he …? Yes, of course. Stupid you, kalau nggak penasaran dengan pintarnya dia mengolah kata menjadi puisi. Gara-gara headshotnya yang gambar Hello Kitty (aduh please deh, kenapa harus Hello Kitty yang interpretasinya cewek banget? Mending headshot saya dong, sepasang kaki dengan sendal gunung yang berdiri di tepi pantai :D) ini pula yang membuat saya penasaran. Saya klik profilnya, album photonya.

Namanya Rizal. Rizal Herlambang. Wajahnya teduh … kloningan Lee Dong Gun :D. Owner dari sebuah perusahaan advertising. Interest dengan poem, design, dan musik cadas like Simple Plan (coincidence …?). Dari foto-foto di albumnya, terlihat kalau pemiliknya suka sekali dengan traveling dan fotografi.

Saat saya tengah asyik berselancar di home-Multiply nya, muncul testimoninya di guestbook saya.

lelakibiasa wrote today at 10:11 AM:
Assalamu’alaykum.
Diaz Maharani.
Keren banget puisinya.
Suka fotografi dan traveling juga ...?
Simple Plan-holic ....?
Kemiripan yang kebetulankah …. Hihihihi

How small this world!
*the pretty name’s with smart person :D


Saya cuma bengong mendapati testimoninya.

Dan bisa ditebak bukan? Sejak saat itu, kami mulai akrab. Saling kirim SMS dan reply komen via Multiply. Beberapa kali kami bertemu muka berawal saat saya ditugasi pak boss untuk order iklan di perusahaan Rizal. Maklum, perusahaan saya bekerja sedang mengadakan ekspansi besar-besaran. Semuanya mengalir begitu saja.

Selamat berpagi hari dek, semoga berkah untuk harimu :D

Sudah makan siang? :)


Dan puluhan short message service lainnya yang kadang membuat saya merasa menjadi perempuan yang utuh. Diperhatikan dan di .... cintai (maybe).

Sekarang coba bayangin deh, seandainya kamu di pihak saya. Ketemu sama lelaki 3T. Tampan, Takwa, Tajir. Perhatian lagi. Apalagi yang saya cari coba?

Benar, tidak pernah ada ikrar cinta diantara kami. Meski kami sama-sama menyadari ada sesuatu yang tak biasa diantara kami yang tak pernah sekalipun diungkapkan. Kami lebih memilih diam dan menjalani semua seperti biasanya. Seperti layaknya ….. sepasang manusia yang sedang kasmaran. Meski kami tak melakukan hal yang aneh-aneh layaknya ABG yang pacaran (ha?) tapi semua itu sudah cukup membuktikan bahwa mulai tumbuh benih cinta antara kami. Dan ternyata, saya menikmatinya.

Hingga suatu ketika …

Secara tak sengaja saya menemukannya sedang jalan-jalan di sebuah Mall. Tapi dia tak sendirian, ada seorang perempuan berjilbab panjang yang menggandeng mesra lengan kirinya. Membuat darah saya kembali berdesir.

kletingkuning : Kenapa nggak jujur sedari awal?
lelakibiasa : Maksudnya, dek ...?
kletingkuning : Saya melihat tadi siang Abang jalan dengan siapa ...


Sesaat seperti ada ruang kosong diantara mereka.

lelakibiasa : Maafkan Abang, dek.
kletingkuning : Kenapa harus ..... saya, Bang?
lelakibiasa : Maafkan saya, dek. Saya memang telah menikah.


Dan saya seperti jatuh ke jurang yang sangat dalam. Hancur, lebih dari berkeping-keping.

lelakibiasa : Dek ...
kletingkuning : Saya telah memonopoli kebodohan saya dengan mengira bahwa semua yang ada di hadapan saya akan saya dapatkan dengan mudah.
lelakibiasa : Dek ...
kletingkuning : You’re married to someone, Bang!
lelakibiasa : Dek ...


Saya teringat dengan curhatan saya dengannya. Saya akui, saya nyaman sekali bercerita dengan lelaki itu. Dan seolah-olah saya tak bisa keluar dari ”lingkaran” ini. Saya sudah jatuh terlalu dalam.

lelakibiasa : Dek, saya mencintaimu ….

halah, prett.

lelakibiasa : Sungguh …
lelakibiasa : Sejak pertama kali mengenalmu di MP, saya merasa ada sesuatu yang lain dari sosokmu. Ternyata benar. Setelah bertemu denganmu secara langsung, saya semakin yakin bahwa …
lelakibiasa : bahwa I was born to love you ….


please, jangan buat saya jatuh lebih dalam lagi.

lelakibiasa : Dek, saya serius. Saya nggak nggombal.

Tuhan, saya nggak kuaaaaaaaaaaaaaaaaattttttt.

kletingkuning : Kenapa kita baru ketemu sekarang ya, Bang?
lelakibiasa : Dek …
lelakibiasa : Maafkan saya, saya hanya lelaki biasa. Dek ....

Mati-matian saya menolak bahwa semua ini adalah kebetulan.
But no coincidence, that’s true! Tuhan, what should I do ….?


---oo0oo---

Are you falling in love with someone? Exactly!


Diaz, please.
What?
Kamu tahu Rizal sudah beristri khan?
Yez.
Apa kamu tak memikirkan perasaan isterinya? She’s woman, same with you!
Tapi saya … mencintainya.
Aduh, Diaaaazzzzz … sadar dong! Semua itu nggak cukup dengan CINTA!

Someone, help me please :’((


Harusnya sejak awal saya sadar bahwa nggak mungkin lelaki seganteng dia belum punya gandengan. Stupid you, Di!

Meski akhirnya Rizal mengakui bahwa dia mencintai saya, tapi saya tetap merasa tak nyaman dengan status maritalnya. He’s married to someone, please! Okelah mereka belum punya anak meski dua tahun pernikahan mereka tapi he’s a husband! Huhuhuhu, rasanya saya pengen nangis aja kalau tahu betapa malangnya saya. Sekalinya ketemu lelaki ganteng dan sholeh, eh udah punya isteri.

Tapi GUE CINTA! Aduh, Di ... kamu memang sudah gila!

Semua makin membuat saya stress saat Rizal mengajak saya bertemu. Saya siapkan hati saya untuk semuanya. Sore itu sepulang dari kantor saya langsung menuju resto tempat kami biasa bertemu. Rizal sudah sampai duluan. Dan saya sedikit terkejut ketika kami memakai warna yang sama. Saya dengan jilbab biru muda dan gamis dengan warna senada. Dan lelaki itu semakin terlihat tampan dengan jas kemeja biru mudanya. Tapi seya mencoba untuk tak lagi percaya dengan apa yang disebut dengan kemiripan.

Lima menit kemudian.

”Dek, saya sudah berpikir panjang tentang kita.”

Saya pura-pura mengaduk orange juice yang ada di hadapan saya.

“Dek, kita sudah banyak dosa.”

Hati saya semakin deg-degan. Saya sengaja mengalihkan pandangan saya ke luar resto karena saya tahu Rizal sedang menatap saya.

“Kita harus segera mengakhiri semua ini, dek.”

Well, Di. Kamu lihat kan? Nggak mungkin dia akan meninggalkan isterinya. Siap-siap kehilangan, Di.

”Ya ... Saya tahu, Bang ....” saya mencoba menyembunyikan kegugupan saya.

Tiba-tiba saja mengalun tembang Sempurna-nya Andra and The Backbone dari sound resto ini. Ugh! Kenapa juga lagu ini sih …??

“Ehm, dek. Saya sudah berpikir panjang dan istikharah.”

Lagi-lagi saya cuma bisa diam.

Tuhan, saya nggak mau dengaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.

“Will you marry me ...?”

Hah??

Traaaangggggg!!!!

Sendok yang saya pegang jatuh. Dan membuat saya terpaksa bertatap mata dengan lelaki itu. Matanya teduh, ada sebentuk sabit di wajahnya.

Duh, ganteng banget nih orang. Kenapa kita nggak ketemu dari dulu sih? Huhuhuhuhu protes saya dalam hati.

Glekkh!

“Maksud Abang apa?”

“Kita menikah, dek.”

Kita ...??

“Ehm .... bagaimana dengan Mbak Niken, Bang?”

Dia menghela nafas.

Benarkah kamu lebih memilihku, Bang? tanyaku dalam hati.

“Dia akan jadi kakakmu, Dek.”

W-whaaaaat?

”Dia tetap menjadi isteri saya, Dek.”

Tuh kaaaaaaaaaaaaaaaann ....

”Terlalu mendadak, beri saya waktu mempertimbangkannya.”

Poligami?

Tak pernah terpikir dalam hidup saya jika saya dipinang oleh lelaki yang sudah beristeri. Untuk jadi yang kedua. Kedua.

Kedua mata saya mulai memanas. Saya takut tak bisa menahan airmata yang sepertinya mendesak ingin keluar, maka saya pun beranjak pergi meninggalkannya termangu sendiri.

Ah, Tuhan .... Engkau mau mengajariku apa?

---oo0oo---

Malamnya saya menumpahkan semua perasaan saya pada Fika, satu-satunya sahabatku yang paling kupercaya untuk semua cerita-ceritaku termasuk tentang lamaran Rizal.

”Di, kamu sudah mempertimbangkannya?” tanyanya.

Kuseruput kopi di depanku.

”Di, saya tahu kamu begitu mencintainya. Tapi, jangan sampai semua itu mengalahkan logikamu.”

Saya masih diam sambil memandangi langit yang malam itu tak berbintang.

”Di, pernahkah kamu memikirkan perasaan isterinya? Apa isterinya mau menerimamu sebagai adiknya? Apa ... apa dia tidak sakit hati ketika tahu suaminya mencintai orang lain. Ketika tahu bahwa dia bukan satu-satunya.”

”Fi, apa saya salah kalau memilih menjadi yang kedua? Bukan yang pertama .... dan satu-satunya.”

Fika tersenyum.

”Ini tak mudah bagi siapapun, Di. Siapapun perempuan itu. Pikirkan kembali. Rizal, isterinya, dan kamu. Juga keluarga besar kalian.”

Pecah juga tangis saya. Fika mendekat dan memeluk saya dengan erat.

“Kudoakan selalu kebaikan untukmu, Di sayang ….” ucapnya dengan terbata-bata.

---oo0oo---

Dingin bayu tak menjadikanku ragu
Kedamaian t'lah lama ada di kalbu
Walauku melangkah sendiri
Jiwaku tak sepi
Ku dapat apa yang kucari dan tak harus ku miliki

Rinduku mencair dalam rintik air
Bagai selimut kaca yang menemani tidurmu
Kasihku bicara dalam sunyi senja
Hadirku tanpa kata, tanpa satu rahasia lagi

Ketulusan tak pernah berjejak pinta
Janji, fana, manis kata dunia, semua akan berlalu
Sepi yang mereka sangka sebuah siksa
Hampa yang mereka duga akhir segala-galanya

Apa yang kau sebut sejati jadi milikku kini
Karena apa yang kau cari tak perlu kau miliki
Sekeping damai surga yang hadir di jiwa
Jadi milikmu selamanya dengan mencintaimu

Cintaku mengalir tak akan berakhir
Tak perlu kau mengerti arti ketulusan ini
Cintaku mengalir tak akan berakhir
Tak perlu kau pahami arti keyakinan ini
Arti ketulusan ini
Arti keyakinan ini*

Lagu ini kutuliskan kembali, untuk seseorang yang harus tahu bahwa tak selamanya kita akan memiliki apa yang kita inginkan.

Harusnya kita sadar, sejak awal pertemuan kita adalah salah.

Cinta yang berkah adalah cinta yang membahagiakan semua orang.
Cinta itu tumbuh bukan untuk saling menyakiti, tapi untuk menentramkan.
Maka, biarlah cinta ini kubawa pergi.
Dan kutiupkan ke langitNya.

Dan biar Alloh yang akan membawanya ke genggaman yang menjadi haknya.

Ps: Sorry, I Love You.

*Tak Perlu Memiliki, dipopulerkan oleh RSD

Posted by kletingkuning
Mar, '11 03:15 AM
for everyone


Beberapa menit setelah postingan itu, seorang lelaki terpaku di depan komputernya. Darahnya berdesir halus. Ah, seperti ada yang mencubit sakit hati kecilnya.

Saya tahu, kamu akan memilih.


----end-----


dapet ide terus gak sabar nulis ... lima jam jadi deh ... lama yaaa
heheheh
just a fiction :D

salam,

ucixholic


nb: gambar ilustrasi dari album pribadi

Wednesday, July 6, 2011

Karena Aku Sahabatmu, Rey

“Hana!!!”
Rey berlari kecil menuju ke arah seorang gadis berjilbab biru langit yang dipanggilnya Hana. Hana menoleh tepat ketika Rey telah sampai di hadapannya.
“Ssttt… Kukenalin sama seseorang, yuk?!” ucap Rey setengah berbisik di telinga Hana.
Disamping Rey ada seorang lelaki tampan.
“Hana, ini temen baruku. Temen baru kita. Namanya Raka. Dia pandai melukis lho!” Rey mengenalkan lelaki disampingnya.
Laki-laki berkacamata minus itu mengulurkan tangannya tapi Hana menyambutnya dengan tangkupan kedua tangan di dadanya. Lelaki itu paham.
“Raka.” ucapnya singkat.
Oh .. Tuhan ... kenapa sosoknya semakin cantik saja ... meski terbungkus rapat oleh kain lebar itu ... batin laki-laki itu.
Hana tersenyum. Kaku.
Ah… kenapa aku harus ada di antara mereka. Bodoh!!
***

Sore yang tak begitu cerah. Di luar jendela gerimis-gerimis kecil tampak semakin indah dengan lukisan pelanginya. Dan Hana masih setia di meja belajarnya. Matanya menerawang jauh ke luar jendela, mencoba meniti pelangi di hatinya. Hana memainkan pena di tangannya. Dan otaknya mulai memaksa untuk mengeluarkan slide-slide kecil yang istimewa.
Hana lahir sebagai bayi …
Tangis bahagia mengiringi kelahirannya di dunia. Tapi kebahagiaan itu hanya sekejap karena Allah telah memilihkan takdir untuknya dan untuk sang Bunda. Allah lebih menyayangi Bundanya. Dan Hana hanyalah bayi, yang hanya tahu bahwa ketika keluar dari gua garba sang Bunda, tugasnya adalah membawa sebuah tangis bahagia. Tapi ternyata kali ini ada tangis sendu mengiringinya. Hana masih beruntung, di sekelilingnya ada 4 lelaki tampan yang selalu siap berperan menggantikan Bundanya, seorang ayah dan 3 kakak lelakinya. Satu-satunya wanita berhati lembut yang dikenalnya hanyalah Bibi Sumi, pembantu di keluarga Hana. Karena dari wanita tua itulah, Hana mulai mengenal siapa wanita yang melahirkannya.

Hana tiga belas tahun …
Hana mulai remaja. Posturnya sudah mencapai 168 cm walau baru kelas 2 SMP. Hana tumbuh menjadi gadis tomboy yang keras, tapi pendiam. Satu lagi, Hana mewarisi kecantikan wanita yang telah melahirkannya. Tapi Hana tetaplah sosok dingin tanpa kata-kata dan tanpa ekspresi. Ya, Hana menjadi gadis pendiam, bahkan terkesan angkuh bagi sebagian teman-temannya.


Hana dan putih abu-abu …
Hana telah menjadi gadis remaja yang cantik dengan segudang kelebihan. Mulai dari atlet taekwondo yang pernah mengikuti beberapa kejuaraan bahkan hingga tingkat nasional, hingga menjadi aktivis KIR (Karya Ilmiah Remaja, sebuah program ekstrakurikuler di SMA-nya yang bergerak di bidang keilmiahan). Cerdas, tangguh tapi hatinya masih beku. Hatinya masih belum mau disentuh oleh sesuatu yang abstrak bernama cinta.
Hingga suatu ketika …

Hana menghela napas. Pedih.
Mulai tumbuh bunga-bunga liar di hatinya. Dan Hana ternyata membiarkannya hingga bunga-bunga itu merekah indah dan memenuhi ruang hatinya. Bunga-bunga liar itu telah menjelma menjadi sebuah taman firdaus di hatinya. Taman yang membuatnya selalu tersenyum kala ia bersedih dan membuatnya selalu menangis kala ia bahagia. Karena taman itu bernama cinta. Tepat di usianya yang ketujuh belas, Hana telah memutuskan untuk jatuh cinta. Meski ia sempat ragu apakah keputusannya untuk melabuhkan hatinya pada seorang makhluk bernama lelaki adalah keputusan yang tepat. Karena ia takut terluka ... karena cinta.

Jatuh cinta?

Oh… Sweety! batin Hana.
Hana dan Cintanya …
Cinta. Cinta ternyata telah melunakkan karang di hati seorang Hana. Di hati yang tak pernah disentuh oleh cinta seorang lelaki tampan. Karena hatinya telah penuh dengan cinta 4 lelaki yang selama ini telah menemani hari-harinya. Cinta dan kasih sayang yang telah diberikan oleh Ayah serta ketiga kakak lelakinya, Bang Hendy, Bang Hafidz, dan Bang Haryo, begitu besar dan tulus hingga terkadang Hana merasa tidak perlu lagi mencari cinta yang lain. Dia telah mendapatkan semuanya di sana.
Namun suatu ketika, Hana bertemu seorang lelaki tampan yang baik hati. Bibit cinta yang disemainya tak bertepuk sebelah tangan. Lelaki tampan itu, dialah yang menghampirinya dan menawarkan bahunya untuk bersandar.


Mata gadis itu berkaca-kaca.
Romantisme lima belas januari …
Pagi yang cerah, di sebuah sudut taman kota, ada dua makhluk duduk terdiam membisu. Membiarkan desiran angin yang berbicara.
Gadis itu masih saja memandangi selembar kertas berwarna biru langit yang di sudut kanan bawahnya terlukis setangkai lotus putih yang cantik. Gadis itu menghela napasnya yang terasa berat. Gadis itu menoleh ke arah pemuda yang duduk di sampingnya. Kedua pasang mata itu pun bertemu pandang.
Mata itu … batin pemuda itu lagi.
Gadis itu mengalihkan pandangannya. Dan pemuda itu pun mengikuti gerak matanya.
“Hatiku di lotus putih itu, dan engkaulah lotus putih itu” ucap pemuda itu.
Gadis itu terdiam. Dan tanpa disadarinya, ada dua butiran bening di pelupuk matanya.
Kenapa menangis, Bidadari kecilku … tanya pemuda itu dalam hatinya.
Sekali lagi pemuda itu menoleh. Ditatapnya kedua bola mata gadis manis disampingnya. Lagi-lagi pesona mata sang gadis membuatnya tertegun cukup lama.
Mata yang cantik … ada sebuah binar di sana… batin pemuda itu lagi.
Dua pasang mata itu bercahaya, menyiratkan sebuah bahasa bernama Cinta.

Mata Hana berkaca-kaca. Ditepisnya kenangan-kenangan itu. Hana tak ingin mengingatnya lagi.
Aku menginginkannya. Dia juga … Menyesalkah aku?
Hingga setengah jam berlalu, Hana masih termenung di meja belajarnya. Kertas berwarna biru langit yang di sudut kanan bawahnya terlukis setangkai lotus putih yang masih terlihat cantik, kini ada di hadapannya. Sudah hampir satu tahun lebih kertas itu disimpannya tapi masih tetap terlihat bersih dan cantik. Hana menemukannya kembali dalam tumpukan file-file lama di atas rak bukunya.
Hatinya berdesir ketika membaca kembali kata-kata yang tertulis di lembaran itu.
Hana, tahukah engkau …
Saat ini aku hanya mempunyai satu sayap untuk terbang, meraih cinta yang selama ini hanya diangan. Dan aku masih membutuhkan satu sayap lagi. Hingga akhirnya kutemukan pada seorang bidadari bermata jeli. Maukah engkau memberikan satu sayap itu padaku, duhai bidadari? Kita akan terbang bersama ...

with love,
Raka

Gombal !!! Tapi kenapa aku percaya ?
Dulu kata-kata itu telah menyentuh hatinya, membuatnya selalu merindukan sang Pangeran. Tapi kali ini Hana ingin merobeknya dan membuangnya jauh-jauh. Hana menyandarkan tubuhnya.
Ah ... betapa bodohnya aku waktu itu ... rutuknya dalam hati.
Karena pemuda di taman kota itu adalah teman baru Rey, si tampan Raka. Lelaki asing yang berhasil melunakkan karang di hatinya dengan lotus putihnya. Hana menghela napas. Ada gemuruh didadanya.
Dan gadis yang ada di taman kota itu adalah aku! Ya Rabb, bantu aku…
Di luar jendela, rintik-rintik kecil masih setia mengiringi lamunannya.
***

Reyvalina Ratna Handika.

Hana mengenal Rey ketika Ospek di kampusnya. Saat itu keduanya sama-sama satu kelompok. Pandangan Rey tentang Hana adalah dingin, cuek, jenius, simple tapi terkesan angkuh. Berbeda dengan Rey yang cerewet, periang terkadang kekanak-kanakan tapi supel. Tapi ada satu kesamaan yang dimiliki keduanya, sama-sama tomboy! Semula Rey segan untuk berkenalan apalagi bergaul dengan Hana. Tapi setelah Makrab Maru (Malam Pengakraban Mahasiswa Baru) pada hari terakhir Ospek, Rey mulai dekat dengan Hana. Dan di luar dugaan Rey, ternyata Hana tidak seangkuh yang dipikirkannya. Hanya saja mungkin karena Hana terlihat paling pendiam dan cuek, maka kesan yang muncul darinya adalah sikap angkuh. Tapi kesan itu telah memudar, setelah Makrab. Dan hingga semester kedua mereka kuliah, mereka telah menjadi sahabat dekat. Sifat Hana yang dingin dan cuek mampu mengimbangi sifat Rey yang cerewet, periang dan manja. Hana terlihat cukup dewasa dibandingkan dengan Rey. Kekaguman Rey terhadap Hana semakin bertambah ketika menginjak bulan keempat mereka kuliah, Hana memutuskan untuk berjilbab. Bahkan ikut aktif dalam organisasi dakwah di kampus mereka. Hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tapi Rey tak pernah mempermasalahkan jilbab Hana, juga aktivitasnya di organisasi yang diikutinya. Bahkan Rey sangat mendukungnya. Tapi entahlah, sampai saat ini Rey belum berniat untuk mengikuti jejak Hana, berjilbab.
Tapi sekarang Hana merasa dunia ini benar-benar terasa sempit. Raka kembali hadir dalam hidupnya. Memberi sekat antara Rey dan dirinya.
Sehari sebelum Rey mengenalkan Raka pada Hana, Rey telah mencurahkan isi hatinya pada Hana.
“Ehm … gimana menurutmu, Han?” tanya Rey sambil tiduran.
Mata Rey menerawang langit-langit kamar kost Hana. Sementara Hana sibuk dengan komputer kesayangannya, mengerjakan laporan.
“Rey, kau tahu prinsipku untuk yang satu ini kan?”
Rey terdiam.
“Tapi ... kalau aku di posisimu, aku mau pacaran dengannya.”
Rey melongo, tak percaya.
“Setelah menikah!” ucap Hana sambil tertawa-tawa.
Blugg!!!
Sebuah bantal melayang ke arah Hana. Dan Hana hanya tertawa melihat Rey marah-marah.
Hana, maafkan aku. Aku belum bisa memahami prinsipmu yang satu itu. Tidak mau pacaran? Mungkin nanti, Han … batin Rey.
***

Sejak Rey mengenalkan Raka pada Hana, hubungan mereka menjadi semakin jauh. Hana seringkali berusaha menghindar bertemu dengan Rey sekaligus menghindar dari cerita-cerita Rey tentang Raka. Hana tahu cinta Rey begitu menggebu. Setiap saat yang dibicarakan Rey adalah lelaki itu. Rey yang tomboy sudah hilang, berganti dengan Rey yang suka sekali mematut diri di depan cermin. Dan Hana hanya bisa memendam perasaan di hatinya.
“He is my first love, Hana!” ucap Rey suatu saat.
Hana tak ingin merusak kehidupan Rey dengan cerita cinta dari masa lalunya. Bahwa Raka pernah mengorbankan segalanya untuk Hana. Bahwa Raka pernah membuat taman cinta di hatinya. Bahwa Raka pernah menawarkan bahunya untuk bersandar. Bahwa Raka lah yang mampu menyentuh karang di hatinya. Karena saat ini Raka adalah impian bagi Rey.
***

Di sebuah taman perpustakaan pusat kampus …
Sepi. Desiran angin sore menerpa jilbab lebar Hana.
“Mau apa kesini? Kita tak ada urusan kan?” tanya Hana dengan nada datar.
Bukankah kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi ... sejak kau memutuskan untuk kuliah di Sidney? Dan sungguh waktu itu aku tak sanggup jika harus berpisah darimu, kau tega meninggalkan kerapuhan di hatiku ... tapi sekarang? Aku ingin kau pergi menjauh dariku ... kurasa waktu itu aku telah membuat keputusan yang salah karena telah membiarkan engkau menawarkan bahumu untuk menjadi sandaranku ... Tak seharusnya aku menduakan cinta Rabb-ku.. Dan sekarang biarkan aku menghilangkan nama seorang Raka dihatiku. Kumohon, Raka ... pergilah !
“Aku ...” kata-kata Raka tertahan.
Raka melirik sekilas.
Dingin dan ... cantik. Tapi ...
Raka menyaksikan ada telaga bening di pelupuk mata jeli sang bidadari.
Engkau menangis lagi, Bidadariku ... seperti setahun lalu. Tapi aku tak bisa mengeja tangismu kali ini.
Hana menarik napas. Pelan.
“Saya ingin sendiri.” pintanya halus.
Saya ...? Terdengar asing ... batin Raka dalam hatinya.
Raka paham. Dia pun menyingkir, beranjak pergi dari tempatnya berdiri.
Maafkan aku, Hana … Sungguh, aku menyesal meninggalkanmu waktu itu. Andai aku bisa mengulang kembali. Tapi sepertinya itu tak mungkin bagiku, hatimu sudah benar-benar tertutup sekarang. Dan kau pasti masih sangat membenciku ... karena pernah meninggalkan sebuah kata kecewa di hatimu.
Raka berhenti sejenak, menatap sosok pujaan hatinya cukup lama. Kemudian perlahan lelaki berkacamata minus itu melangkahkan kakinya, meninggalkan Hana yang sedang berkubang dalam kesendiriannya.
***

Lima hari yang lalu, tanpa sengaja, Rey menemukan lembaran kertas bergambar lotus putih yang dibuat Raka untuk Hana. Rey benar-benar kaget. Hatinya hancur seketika, serasa tak percaya dengan semua fakta yang ada di hadapannya. Dan Hana tak mampu berbuat apa-apa karena Rey sudah terlanjur kecewa. Rey selalu menghindar jika bertemu Hana. Rey benar-benar memutuskan persahabatannya dengan Hana. Rey merasa Hana telah membohonginya. Rey yang selalu mengagumi Hana karena keteguhan prinsipnya dalam menjalankan Islam dengan kaffah, meski dia belum bisa mengikuti Hana sepenuhnya. Tapi sekarang? Ternyata Hana pernah berhubungan dengan Raka, lelaki yang kini selalu membersamainya dan mengisi hari-harinya.

Surakarta, 15 Januari 2008 …
Rey memutuskan untuk pindah kuliah ke Jakarta. Dia ingin sekali menjauh dari segala kenangan yang mengingatkannya pada Hana dan Raka. Dan hari ini adalah hari terakhir Rey di Solo. Hati Hana bertambah kalut ketika tahu Rey akan pergi ke Jakarta. Hana merasa sangat bersalah. Hana bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan Rey, hari ini juga sebelum Rey berangkat ke Jakarta.
Hana mengendarai Shogun-nya dengan kecepatan tinggi. Hatinya benar-benar gelisah. Pikirannya hanya tertuju pada Rey, sahabat dekatnya.
Rey, sebegitu bencikah engkau terhadapku ? Tidak adakah tempat untukku lagi di hatimu? Apakah aku terdakwa yang tak punya hak untuk membela diri?

Dari sudut matanya, tetesan bening meluncur deras.
Kenapa tak mendengarku? Kenapa tak memberiku kesempatan? Bukankah kita adalah sahabat?

Ketika sampai di belokan di dekat Sahid Raya Hotel, dari arah depan ada sebuah Kijang melaju dengan kecepatan tinggi pula. Hana terlambat menyadarinya. Dan tabrakan tak dapat terhindarkan lagi. Tubuhnya terpelanting dan menghantam jalanan beraspal. Bau anyir darah mulai tercium.
“Rey …” ucapnya lemah.
Tangan kirinya menggenggam dua buah amplop berwarna biru langit yang terkena percikan merah. Hana merasakan matanya hendak terpejam lama.
Duhai Allah, sampaikan salamku untuk Rey … Maafkan aku …
***

“Hana!!!” teriak Rey.
Mimpi…
Tubuh Rey berkeringat. Rupanya Rey bermimpi buruk tentang Hana. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Dan pikirannya kacau.
Kenapa aku bermimpi tentang Hana? Benarkah aku memben ... ci .. nya .. ?
Hana menoleh ke arah jam dinding. Masih ada waktu sekitar 3 jam untuk ke stasiun. Rey terpaku di tempat tidurnya. Di luar, hujan mengguyur bumi Surakarta.
***

Gundukan tanah merah itu masih basah. Dan satu persatu orang yang takziah mulai beranjak pergi hingga tinggal dua orang yang masih setia berdiri di tepi nisan yang masih baru itu.
Hana Sukmayanti
binti Hermawan
Lahir 18-10-1986
Meninggal 15-01-2008

Rey mencoba menahan tangisnya.
“Hana, maafkan aku… semua karena aku…” ucapnya lirih.
Rey berdiri. Ditatapnya Raka dari balik kacamata hitamnya.
“Maafkan aku. ”
Raka hanya terdiam.
“Oh ya… Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku.” ucapnya seraya tersenyum getir dan mulai beranjak pergi.
Meski seharusnya ... engkau tak perlu hadir dalam kehidupanku ...
Kini tinggal Raka sendiri. Dipandanginya nisan biru langit sang Bidadari. Hatinya remuk. Separuh nyawanya terhempas.
Hana, akulah yang salah atas semua ini. Kenapa aku begitu bodoh. Maaf, jika aku telah memaksamu. Aku telah kehilangan dirimu, Bidadariku…
Raka mencoba menahan gemuruh di dadanya.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku mampu bertahan … setelah kepergianmu.
Hujan rintik-rintik membasahi tanah merah itu.
Dan lelaki tampan itu menangis.
***

Dalam sebuah gerbong kereta api eksekutif jurusan Surakarta-Jakarta ...
Buat Rey-ku tersayang ...
Rey, kau tahu? Kau telah banyak membuatku berubah. Aku tahu, semua orang yang mengenalku pasti menganggapku keras kepala, dingin, dan cuek. Kau tahu kenapa? Karena aku tak pernah bisa mengenal ibuku. Yang kutahu hanyalah bahwa dia adalah orang yang melahirkanku. Tapi disekelilingku ada lelaki yang mencintaiku, 3 kakak lelakiku dan ayahku. Dan aku senang sekali Rey, karena takdir Allah mempertemukanku denganmu.
Rey, mengenai Raka. Aku memang mencintainya. Tapi itu dulu. Dan kertas itu memang pemberian Raka. Tapi percayalah Rey, aku sudah melupakannya. Aku tidak bermaksud membohongimu. Karena kau tahu pasti tentang prinsipku yang satu itu kan? Aku bahkan menyesal jika mengingat masa laluku itu, aku menyesal pernah menduakan cinta Rabb-ku. Maaf karena aku tak menceritakannya padamu, aku hanya tidak ingin mengungkit masa laluku. Trust me!
Rey, meskipun engkau membenciku, namun seumur hidupku aku tetap akan mencintaimu. Karena aku sahabatmu, Rey.
Semoga Allah mempertemukan kita di Firdaus-Nya sebagai orang-orang yang saling mencintai karena-Nya. Aku akan sangat merindukanmu, Rey. Selamat tinggal, Rey… (Jangan lupakan aku ya …)

Sahabatmu,
Hana

Rey terisak.
“I love you too, Hana.” ucapnya lirih.
Jilbab Rey basah oleh air mata.
Terima kasih, duhai Allah …
***

Di satu sisi yang lain ...
Surakarta, 14 Januari 2008
Buat : Raka yang baik
Raka, maafkan aku. Aku tidak ingin kembali ke masa laluku. Semua sudah berakhir. Bukan karena aku masih membencimu. Tapi karena aku tidak ingin menduakan cinta Rabb-ku ... Kuharap engkau pun bisa mengerti prinsipku ini. Aku benar-benar ingin berhijrah, Insya Alloh. Tapi terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku. Karena aku bisa belajar banyak hal darimu.
Raihlah hidayah itu, Raka. Belajarlah lebih banyak tentang arti hidup ini.

Hana

Mata Raka berkaca-kaca.
Aku ingin meraihnya, duhai Alloh ...
***

By : ucixholic
Pernah dimuat di majalah SAHABAT edisi 27-28 Th IV No.4

Friday, May 20, 2011

Kenapa bukan aku satu-satunya …?

You're one in a million
You're once in a lifetime
You made me discover one of the stars above us *

Tembang lawas itu mengantarkanku pada sebuah kenangan indah, saat seorang lelaki yang begitu mempesona mengatakan sesuatu yang takkan pernah kulupa sepanjang hidupku. Lebih tepatnya, sebuah permintaan.

Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak?

Kulihat bayanganku di depan cermin. Hanya ada wajah pucat dengan kedua mata sembab. Lalu kualihkan pandangan pada selembar kertas yang tergeletak tepat di hadapanku. Hatiku berdebar lebih kencang.

Kau cantik, tapi kau belum sempurna menjadi seorang perempuan jika …

Aku tersedu.

***

Aku hanya seorang perempuan biasa. Dengan hati yang siap menerima, meski itu adalah sebuah luka. Luka yang diciptakan oleh seorang lelaki. Karena aku selalu ingat pesan Ibuku.

Nduk… apapun yang terjadi pada suamimu, ia tetap suamimu.

Lelaki itu, hampir 10 tahun kuabdikan diriku padanya. Lelaki yang selalu bisa membuatku tenang ketika kubersandar di bahunya, ketika tanganku digenggamnya dengan erat. Dan aku telah memutuskan untuk mencintainya, bahkan dengan segala kekurangannya. Aku tak pernah peduli siapa dan darimana asalnya. Karena yang kutahu, dia adalah lelaki terbaik yang dikirimkan Tuhan padaku.

Apapun yang terjadi di kehidupanku yang lalu, saat ini dan yang akan datang, aku telah memilih untuk bersamanya. Bahkan ketika ternyata aku sadar bahwa banyak yang jauh lebih menarik, lebih setia, lebih dari segala-galanya daripada lelaki itu, aku tetap pada pilihanku untuk mencintainya. Tak perlu alasan apapun untuk memilihnya, hatiku hanya perlu berkata “ya” saat dia meminangku. Ya, semua ini tentang sebuah pilihan. Cinta.

Dan pilihan itu, kini ada dihadapanku.

Suamiku terdiam di tempat duduknya. Tatapan kosongnya seakan membunuhku. Berganti kutatap wajah perempuan di sampingnya. Perempuan yang tiba-tiba datang dan menghancurkan semua yang telah kubangun dengan hati. Perempuan yang tiba-tiba meminta izin untuk menerima pinangan suamiku. Perempuan yang tak ingin kutahu namanya.

Kanker rahim Anda sudah mencapai stadium IV, Anda harus segera melakukan operasi pengangkatan rahim.

Dik, bolehkah Abang menikah lagi?

Ranti, sudah sewindu usia pernikahanmu tapi kapan kau memberiku cucu???

Biarkan Hendra menikah lagi!

Mbak Ranti, saya tidak pernah bermaksud merebut Mas Hendra darimu. Maafkan saya…

Ibu selalu mendoakanmu, Nduk. Selalu.


Kini, air mataku seolah habis. Meninggalkan sebuah pilihan, memaafkan dan memutuskan untuk tetap percaya pada lelaki yang (pernah) kucintai itu.

***

Aku selalu percaya padamu, selalu.
Sekeras apapun kau menyakitiku, aku selalu percaya.

Tapi kenapa?
Kenapa bukan aku satu-satunya …?


Aku pun menangis bersama hujan.

Ibu, tolong peluk aku…

-TAMAT-


Alhamdulillah tepat 400 kata in injury time :))))

Keterangan:
*One In A Million, dipopulerkan oleh Bosson


Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut lombanya Mbak Leyla Imtichanah (Lomba FF 400 kata bertema POLIGAMI )

Wednesday, April 13, 2011

chemistry



Kini tinggal sepasang pengantin baru di kamar yang telah disulap menjadi kamar pengantin. Medelina tengah duduk menghadap cermin sambil membersihkan polesan tipis di wajahnya. Sesekali diliriknya pria yang duduk di atas tempat tidur yang tertutup sprei berwarna kuning gading. Masih sibuk membaca buku tanpa memperdulikan bahwa ada seorang wanita di dalam kamar itu.

Medelina tak berani membuka jilbabnya. Rasanya malu karena ada seorang lelaki bersamanya malam itu. Meski lelaki itu adalah suaminya sendiri. Mungkin karena belum terbiasa.

Akankah hingga esok hari akan terus begini? Kenapa tak mengajakku bicara?

Medelina menarik napas dan menghembuskannya pelan.

Sedingin inikah pertemuan pertama kita?

Randy menutup bukunya. Menyandarkan punggungnya dengan dagu terangkat. Matanya terpejam. Mungkin terlalu lelah karena seharian tadi harus menghadapi ratusan tamu undangan. Lebih menegangkan lagi saat mengucapkan ijab qabul. Malam ini saatnya melepaskan seluruh kepenatan, pikirnya.

Diam-diam Medelina mengamati wajah lelaki itu dari cermin rias di depannya.

Tampan ...

Tiba-tiba Randy membuka matanya. Sepertinya dia memang tidak benar-benar memejamkan matanya. Medelina menjadi salah tingkah lalu berpura-pura merapikan meja rias di hadapannya. Kemudian lelaki itu beranjak dari tempat tidurnya.

”Aku keluar sebentar.” pamitnya seraya melangkah keluar kamar.

Medelina hanya terdiam.

Ehm ... mumpung dia keluar, lebih baik kubuka jilbabnya sekarang.

Tangannya gemetar ketika hendak mencopot jilbab putihnya itu. Inilah pertama kalinya gadis itu membuka auratnya di hadapan laki-laki, selain ayah dan kakaknya tentu saja. Lalu Medelina beranjak menuju kamar mandi hendak berganti pakaian sekaligus membasuh muka dan berwudhu. Airnya terasa segar membasahi wajah cantiknya.

Tiba-tiba ...

Deg!!!

”Maaf, saya salah ... kamar ...” ucap Randy begitu membuka pintu kamarnya.

Salah kamar? Ini kan bukan hotel ...? batin Medelina.

Medelina menoleh ke arah pintu. Randy berdiri terpaku di depan pintu kamar demi melihat Medelina yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Medelina juga jadi salah tingkah.

Inikah dirimu yang sesungguhnya ...?

”Kenapa masih di depan pintu?”

Randy segera tersadar.

”E ... aku ... aku keluar dulu ... ada yang tertinggal.” ucapnya dengan nada terbata-bata.

Oh My God! Speechless nih ...

Melihat Randy yang keluar begitu saja, Medelina hanya terbengong-bengong di tempatnya.

Kenapa dengannya?

Medelina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Randy yang aneh. Kemudian gadis itu pun mengambil mukenanya dan shalat. Seusai shalat, Medelina tak sengaja tertidur masih dengan mengenakan mukena. Kelihatannya lelah sekali.

Lima belas menit kemudian, Randy masuk ke kamar lagi. Melihat Medelina yang tertidur di atas sajadah, lelaki itu mendekatinya.

Matamu lentik sekali ... wajahmu juga berseri-seri ...

Randy tersenyum.

Seandainya aku bisa menyukaimu ...

Kemudian digotongnya Medelina, yang kini telah resmi menjadi isterinya, di atas tempat tidur dengan hati-hati dan menarik selimutnya.

Lasting Love

Malam tanpa bintang …

Medelina duduk pelan-pelan di dekat Randy yang tengah mengutak-atik laptop di hadapannya. Disodorkannya segelas susu ke arah suaminya itu.

Ini pertama kalinya …

Randy menyandarkan tubuhnya di sofa. Diteguknya segelas susu itu dengan perlahan. Dan tak sengaja pandangan matanya jatuh tepat di wajah perempuan yang ada di sampingnya itu.

“Kamu manis sekali …” ucapnya pelan.

Medelina menoleh.

”Apa, Mas?” tanyanya spontan.

Randy gelagapan.

”Oh ... e ... ini ... susunya manis sekali. “ jawabnya.

Untung dia nggak dengar, hhh ...

Randy kembali menatap wajah Medelina. Yang ditatap menjadi salah tingkah. Kedua pipinya merona merah.

“Ehm ... tahu nggak kenapa malam ini nggak ada bintang?”

Medelina mengernyitkan alisnya.

“Kenapa, Mas?”

Randy tersenyum. Perlahan tubuhnya mendekat hingga hampir tak ada lagi jarak antara mereka. Keduanya bertatapan lama, saling menyelami kedalaman hatinya masing-masing.

”Karena ... semua bintangnya pindah ke matamu ...”

Oh! So sweet .... Ini ya rasanya digombali hihihihi ... Medelina terasa terbang ke langit ke tujuh. Laki-laki itu ternyata bisa romantis juga.

Aku jatuh cinta padamu, Bidadariku ...

Selanjutnya, malam ini adalah milik mereka berdua. Hanya berdua. Membiarkan getar-getar cinta tumbuh makin dalam. Membiarkan makhluk-makhluk langit iri dan malu menatapnya.

Malam ini memang tak berbintang, namun malam ini akan menjadi malam terindah untuk sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu. Sang Pencipta telah mengirim sepasukan malaikat untuk menebarkan bubuk-bubuk cinta khusus untuk mereka.

Malam, jangan cepat berlalu …

Biarkan kami bermandi cinta dalam rengkuhanNya ...

…

Why do birds suddenly appear
Everytime you are near?
Just like me, they long to be
Close to you.

Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you.

On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moondust in your hair of gold
And starlight in your eyes of blue.

That is why all the girls (boys) in town
Follow you all around.
Just like me, they long to be
Close to you*.


*lirik lagu Close To You-nya The Carpenter



huwaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh, akhirnya ending juga ... http://eemoticons.net
sebenernya masih ada cuplikan waktu mereka bertemu pertama kali, kira-kira perlu aye pasang gak ya http://eemoticons.net

Tuesday, April 12, 2011

Menjaga Bidadari

Suara angin malam terdengar begitu lembut. Keduanya tengah duduk di ruang makan, menikmati makan malam bersama.

Tiba-tiba handphone milik Randy berdering. Sekilas, ada perubahan di wajahnya hingga membuat Medelina penasaran. Semenit kemudian handphone-nya juga ikut berdering, ada nama seseorang dilayar handphone-nya.

Randy pun menyingkir ...

Dia lagi?

”Jaga dia baik-baik kalau kau tak ingin aku mengambilnya.”

Randy tersenyum kecut.

”Ambillah kalau kau bisa, karena kali ini aku tak akan melepaskannya lagi.”

Terdengar tawa di seberang. ”Oke!”

”Dari siapa, Mas?” tanya Medelina.

Randy tersenyum. Hal itu membuat Medelina semakin penasaran.

”Prasetyo.”

Deg!

Medelina terkaget-kaget.

”Tenanglah, semua sudah berakhir. Iya kan?”

Medelina mengembangkan senyum manis di bibirnya.

Terima kasih, Cinta ...

Keping Beku

Di depan sebuah pintu.

Sejenak Medelina terpaku. Seorang lelaki yang selama ini sangat dirindukannya, datang menghampirinya kembali. Lelaki itu berdiri tegap memandang jauh kedalaman matanya. Sesaat lamanya keduanya bertatapan. Betapa Medelina ingin sekali menghambur dalam pelukannya. Tapi langkahnya tertahan. Hatinya terasa masygul.

Sorot mata ini ...

”Boleh aku masuk?” tanyanya menyadarkan Medelina.

Medelina tergagap.

”E ... si ... silahkan.”

Ya Alloh, apakah ini nyata?

Keduanya saling membisu di ruang tamu. Sepanjang itu, Medelina hanya terdiam menunggu Randy mengajaknya bicara. Namun berkali-kali diliriknya, lagi-lagi hanya ekspresi datar yang ditangkapnya.

Kenapa diam saja? Bicaralah, Mas ...

Keduanya tampak kikuk. Hanya hati yang saling bicara. Mungkin karena hampir sebulan mereka tak bertemu. Ketika bertemu ternyata sudah banyak yang berubah. Randy sudah bisa berjalan dengan tegap, tidak lagi menggunakan kursi roda. Dan Medelina, perempuan itu terlihat semakin tirus saja. Matanya pun sedikit layu. Terlalu banyak beban yang harus dipikirkannya.

Ya Rabb ... Wajahnya yang dulu selalu berseri-seri, kini terlihat semakin pucat dan tirus. Apa ini karena aku? Oh ... betapa berdosanya aku ... Tetapi wajahnya terlihat semakin tegar saja. Betapa aku selama ini tak pernah mencoba memahami dirinya, memperhatikan kondisinya, meninggalkannya sendirian. Suami macam apa aku ini ... Randy merutuki dirinya sendiri.

Kenapa membiarkanku lemah sendirian, Mas...

”Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Suara bariton itu kini terdengar asing di telinganya.

Apa kau benar-benar ingin pergi jauh dariku?

”Saya ... ada yang ingin saya katakan juga.”

Saya ?

Kalimat itu seakan memperlebar jarak antara mereka.

”Saya tahu kita memang berbeda jauh. Jadi, saya benar-benar ikhlas jika semuanya harus berakhir sampai disini saja.”

Sampai kapan begini … dari pandangan matanya, aku tahu perempuan itu terluka.

Medelina beranjak dari tempat duduknya. Melangkah ke dalam.

”Tunggu!”

Langkahnya tertahan. Randy juga beranjak dari tempat duduknya.

”Apa aku masih punya kesempatan?”

Deg!

Jantung Medelina berdegup lebih kencang. Ada sesuatu terasa ikut mengalir dalam aliran darahnya.

”Medelina ...”

Medelina membalikkan badan. Dan kini mereka saling berhadapan.

”Aku tak mau kehilanganmu lagi.“

Aku juga ... batin Medelina dalam hati kecilnya.

Medelina masih diam terpaku di tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya. Matanya memanas.

”Bolehkah ... aku memelukmu?“

Medelina terisak. Randy merengkuhnya dalam pelukan. Pelukannya erat sekali, seolah takut ada yang mengambil paksa darinya.

Pastilah cinta… yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya demi memahami dirinya sendiri.*


*kutipan puisi Dee

sepotong episode kebekuan

Monday, April 11, 2011

jangan biarkan ikatan itu terlepas untuk kedua kalinya, Anakku ...

”Kalau memang ada masalah, segera diselesaikan. Jangan malah lari dari kenyataan.” nasehat Kakek Arya.

Randy memilih untuk meninggalkan rumah. Dengan susah payah, lelaki itu pulang ke rumah Kakeknya. Sang Kakek memang menerimanya namun Kakek menasehatinya untuk kembali pulang menemui isterinya. Ini adalah hari kedua, Randy pergi meninggalkan Medelina sendirian.

”Kau tahu, dia adalah gadis yang baik. Karena itu, kakek memilihkannya untukmu.”

Randy terdiam di kursi rodanya.

“Tolong jangan lepaskan dia, Nak!” ucap Kakek dengan nada bergetar.
Jangan biarkan ikatan itu terlepas untuk kedua kalinya, Anakku ...
Randy merasa seperti anak kecil. Kakek adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Dia tak ingin mengecewakan lelaki tua yang telah mengenalkannya rasa cinta sejak ditinggal oleh kedua orangtuanya puluhan tahun silam.

Untuk mengusir kegalauan hatinya, hampir setiap hari Randy melakukan terapi untuk menyembuhkan kakinya yang lumpuh akibat kecelakaan sebulan yang lalu. Sedikit demi sedikit, lelaki itu menemukan kepercayaan dirinya. Dia mulai bisa berjalan meski masih harus tertatih. Sepanjang itu pula, dia tak berhenti memikirkan Medelina. Jujur diakuinya, hatinya masih terpaut pada sosok jelita kekasihnya itu.

Ah! Aku rindu ...

Sunday, April 10, 2011

Aku Ingin Tetap Di Sisimu

Jam 02.13 WIB.

Randy terbangun. Sejak tadi tidurnya terasa kurang nyenyak. Ada yang mengganggu pikirannya. Tadi siang Helmi, kakak iparnya, bicara banyak padanya tentang Medelina. Helmi berusaha meluruskan kesalahpahaman yang ada. Randy memang tak memberikan reaksi apa-apa tapi hatinya mulai terbuka setelah Helmi mengajaknya bicara.

Dilihatnya, Medelina terlelap di tepi ranjang. Mushaf kecil juga masih dalam pelukannya. Sehabis tilawah beberapa ayat tadi, gadis itu kelelahan hingga tak sengaja tertidur di dekat suaminya itu.
Bila kuingat senyum manismu
Takkan habis waktu melamun
Bila kuingat canda tawamu
Takkan habis waktu berangan

Ingin kumiliki hari selamanya
Berdua denganmu selamanya
Bukan hanya angan yang kelamaan

Bila kuingat janji manismu
Kutunggu sampai malam meninggalkan ku
Semoga bukan angan yang kelamaan*

Randy menitikkan air mata.

Medelina, maafkan aku ... Maaf telah melukaimu ...

Tiba-tiba Medelina terbangun. Mendapati Randy tengah menangis, Medelina terheran-heran.

Dia menangis?

”Mas, kenapa menangis ?”

Ditatapnya dengan penuh kelembutan wajah cantik di hadapannya itu.

”Aku ... aku tak ingin kehilanganmu ...” ucapnya pelan.

Mas ...? Apakah aku tidak salah dengar?

Medelina ikut menitikkan air mata. Hatinya basah, seakan ada gunung salju runtuh di hatinya. Dipeluknya sang kekasih hati. Baru pertama kali ini dia memeluknya dengan penuh cinta.

Aku ingin tetap disisimu, Mas.

Sepasang kekasih itu menangis dalam pelukan.

*lirik tembang lawasnya Lingua, "Bila Kuingat"

Saturday, April 9, 2011

Tak Ada Lagikah Ruang Untukku ... Dihatimu?

Sesampainya mereka di rumah, Randy tak ikut masuk.

”Aku keluar dulu. Tidak usah menungguku, mungkin aku pulang agak larut.”

Randy pun melesat meninggalkan Medelina yang termenung di depan pagar rumah mereka. Matanya berkaca-kaca.

Apa kau kecewa padaku? Beberapa detik kemudian, Medelina masuk ke dalam rumahnya.

Sementara itu ...

Randy mengendarai motornya dengan kecepatan sangat tinggi. Hatinya kacau. Pikirannya masih saja terganggu oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Ingatannya melayang pada peristiwa di toko buku tempo hari. Saat itu dia melihat Medelina tengah berbincang, entah tentang apa, dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya. Dan entah mengapa Randy teringat dengan tulisan yang ada di diary Medelina yang pernah diam-diam dibacanya.

Ucapan lelaki tadi pun masih terngiang-ngiang di telinganya.

Apa dia orangnya? Hingga membuatmu gugup? Aku belum pernah melihatmu seperti itu ... Tidak adakah tempat untukku lagi di hatimu?


Hatinya terasa sakit.

Inikah yang namanya patah hati?

Kenapa tak memberiku ruang dihatimu?

Apakah karena sikapku terlalu dingin padamu, duhai cintaku ...


Ketika sampai di belokan di dekat Karisol Restourant, dari arah depan ada sebuah Inova berwarna silver melaju dengan kecepatan tinggi pula. Lelaki itu terlambat menyadarinya. Dan tabrakan pun tak dapat terhindarkan lagi. Tubuhnya terpelanting dan menghantam jalanan beraspal. Darah mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuhnya.

“Medelina …” ucapnya lemah.

Pandangan matanya menjadi gelap. Hujan gerimis mengguyur jalanan, seakan mengiringi kesedihan dihati lelaki itu.

Tentang Dia

“Dulu aku pernah menyukai seorang perempuan. Tidak lembut, tapi menenangkan batinku. Pendiam, tapi aku tahu dia menyimpan sesuatu. Ceria, tapi senang menyendiri. Dia begitu menyukai ketenangan, atau lebih tepatnya sepi. Pesonanya hangat.”

Tetapi kami berdua tetap teman biasa.
Tak ada apapun diantara kami, yang harus diderivasikan dalam sebuah ikatan.
Untuk apa?

Kami mempunyai kehidupan sendiri-sendiri.
Tetapi aku sempat merasakan kebimbangan luar biasa, tentang sesuatu diantara kami.
Ketika orang mulai bertanya-tanya, ada apa diantara kami?
Rupanya, mereka mulai menangkap bola mata kami yang tak biasa ketika saling bertemu dalam jarak beberapa meter saja.

Gesture yang tercipta diantara kami pun diartikan dengan sesuatu yang tak biasa.
Serba salah jadinya.
Ah, apa yang harus kujelaskan?
Karena memang tak ada apa-apa diantara kami.
Tak ada yang istimewa.

Pun kami berdua tak pernah sekalipun berbicara tentang perasaan, diantara kami.
Tak pernah ada pengakuan secara lisan maupun tertulis tentang semua perasaan diantara kami.
Biarlah, aku menyimpan ceritaku sendiri.
Dan kubiarkan dia melangkah pergi, jika memang kami tak harus bertemu dalam satu cerita yang sama.

Lalu, bertahun-tahun pun berlalu.
Memutuskan cerita yang pernah tertulis dalam hubungan pertemanan kami.
Aku sengaja menjauh darinya, meninggalkan semua kenangan yang pernah tercipta diantara kami.
Meski itu adalah sesuatu yang biasa.
Ternyata sejauh apapun aku pergi darinya, tak bisa kuhilangkan bayangan perempuan itu dari hatiku.
Inikah yang sebenarnya terjadi?
Hingga suatu kali kupinta padanya, “Maukah kukenalkan pada Ibuku?”
Dia hanya diam.
Entahlah, aku tak tahu pasti apakah dia mempunyai perasaan yang sama denganku atau tidak.
Dia bilang, “Kau ingin berkomitmen denganku?”

Kali ini aku yang diam, gamang.
“Kenapa kau diam?” tanyanya lagi.
Kutatap sekilas, tak sengaja mata kami bertemu pandang.
Kulihat ada sesuatu berkaca-kaca di matanya.
Kenapa dengannya?
“Bagiku, komitmen adalah ikatan pernikahan. Bukan yang lain. Ini pilihan. Pergi dariku atau ikat aku dengan akad yang jelas di hadapan ayahku.”

Ternyata, kau … Ah!

Mari kita lihat, sebaik apa Tuhan melukis takdir kita!

Friday, April 8, 2011

Jangan lepaskan tanganmu ... Kumohon!



Jam 18.45 WIB.
Medelina baru saja keluar dari perpustakaan. Gadis itu masih mencari buku yang dibutuhkannya sehingga terpaksa pulang agak malam. Sebenarnya tadi Widita hendak menemaninya, namun Medelina menolaknya. Takut menyusahkan.
Medelina melirik jam tangannya. Medelina menyusuri jalanan kampus, hendak menuju boulevard depan kampus. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meter dari kampusnya.
Sudah jam segini, apa masih ada bus kota ya?
Tiba-tiba …
Langkah kakinya tertahan oleh kedatangan tiga orang laki-laki yang masih dikenalnya. Mereka yang dulu pernah mencoba menyerangnya seusai Ospek!
Ya Allah ... kenapa harus terjadi lagi ?
Salah seorang dari mereka maju dan menodongnya dengan sebuah pisau lipat.
”Masih ingat dengan kami? Hahaha ....”
Astagfirullahal’adzim ...
Medelina mundur beberapa langkah ketika lelaki berkaos hitam itu mencoba mendekatinya.
”Kamu akan merasakan pembalasan yang lebih kejam!” ancamnya lagi.
Sementara kedua lelaki yang berada di belakangnya tertawa menyaksikan ketakutan gadis itu.
Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini.
”Sudah malam, lebih baik kalian pulang saja.”
Medelina menoleh.
Pras ... ?
Ketiga laki-laki itu terlihat kesal melihat kedatangan Prasetyo karena telah mengacaukan rencana jahat mereka pada Medelina. Perkelahian sengit pun tak dapat dihindarkan lagi. Meskipun dengan jumlah tidak seimbang, satu orang melawan tiga orang, tapi Prasetyo cukup bisa mengimbangi mereka. Tak sulit baginya yang sudah sering belajar tifan, untuk mengalahkan ketiga pemuda yang hendak mengeroyoknya itu.
Saat Prasetyo mulai kewalahan mengatasi ketiganya, datang seseorang menolong mereka.
Randy!
Akhirnya ketiga penjahat itu melarikan diri. Medelina nampak diam terpaku.
Randy membalikkan badannya.
”Kau tak apa-apa?.” tanya Randy.
Prasetyo nampak terengah-engah setelah melawan ketiga pemuda tadi. Seolah tenaganya hampir habis. Apalagi lawannya cukup kuat.
”Kalau kau tak bisa menjaganya, aku akan mengambilnya!” ucapnya setengah teriak pada Randy.
Apa-apaan dia? Medelina terkejut mendengar perkataan Prasetyo yang diluar dugaannya.
Randy terdiam. Tubuhnya terasa gemetar. Ada sesuatu bergejolak di hatinya.
Kenapa?
Prasetyo melangkahkan kakinya meninggalkan sepasang suami isteri itu.
Maafkan aku jika lancang ... Aku tak rela kau terluka, batin Prasetyo dalam hatinya.
Untuk beberapa saat lamanya, Medelina dan Randy saling diam membisu. Keduanya membeku tanpa kata-kata.
”Naiklah!”
Medelina duduk di belakang Randy. Tangannya melingkar di pinggang lelaki itu.
”Terima kasih ...” ucap Medelina pelan ketika Randy hendak men-starter motornya.
Randy hanya tersenyum tipis.
Jangan lepaskan tanganmu ... Kumohon!


gambar hasil gugling

Aku Ini, Perempuan ...



Aku selalu ingat pesan Ibuku, “Nduk … apapun yang terjadi pada suamimu, percayai ia sebagai suamimu.”

Aku hanya seorang perempuan biasa. Dengan hati yang siap menerima, meski itu adalah sebuah luka. Luka yang diciptakan oleh seorang lelaki.

Lelaki itu, selama 17 tahun kuabdikan diriku padanya. Aku telah memutuskan untuk mencintainya, bahkan dengan segala kekurangannya. Ya, semua ini tentang sebuah pilihan.
Cinta.

Apapun yang terjadi di kehidupanku yang lalu, saat ini dan yang akan datang, aku telah memilih untuk bersamanya. Bahkan ketika ternyata aku sadar bahwa banyak yang jauh lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya, lebih setia, lebih dari segala-galanya daripada lelaki itu, aku tetap pada pilihanku untuk mencintainya. Ini adalah pilihanku, pilihan seorang perempuan biasa.

Bukankah memutuskan untuk tetap “percaya” pada seseorang, meskipun dia sudah melakukan kesalahan besar dan menyakiti hati kita, itu adalah pilihan?

Dan pilihan itu, kini ada di hadapanku.

Suamiku terdiam di tempat duduknya. Tatapan kosongnya seakan membunuhku. Berganti kutatap wajah perempuan di sampingnya. Perempuan yang tiba-tiba datang dan menghancurkan semua yang telah kubangun dengan hati. Perempuan yang tiba-tiba meminta pengakuan janin yang ada di perut buncitnya. Dia, perempuan suamiku.

Air mataku seolah habis. Meninggalkan sebuah pilihan, memaafkan dan memutuskan untuk tetap percaya pada lelaki yang (pernah) kucintai itu.

Memaafkan, pilihan dari seorang makhluk bernama perempuan.
Seperti aku?
Entahlah.

Thursday, April 7, 2011

Aktivis Super Sibuk

Tok! Tok! Tok!

”Assalamu’alaikum!”teriak Ucix sambil mengetuk pintu.

Oh, dikunci. Ditengoknya pot xansiviera di samping jendela. Ternyata kunci ada disana. Setelah masuk kamar dan melepas jilbabnya, Ucix buru-buru menuju dapur. Haus dan lapar. Ucix hendak mengambil piring dan sendok, tapi perkap dapur hampir kosong. Kemudian ditengoknya tempat cucian piring.

Doenggg!!!

Pantas saja isi dapur kosong. Lha seluruh perkapnya masih nangkring di tempat cucian. Kotor lagi! Gimana mau makan? Masa’ pake garpu? Nggak nyambung kalee.

Ck ...ck...ck... kost akhwat kok kayak gini?
Akhirnya, meski perutnya sudah lapar dan menuntut minta diiisi, Ucix mencuci setumpuk perkap dapur yang kotor itu. Piring makan plus sendoknya yang kotor dan setumpuk gelas yang tidak langsung dicuci setelah menggunakannya. Ternyata perkap dapur yang kotor itu tidak sendirian. Di sampingnya ada 5 ember rendaman cucian. Beberapa diantaranya sudah nampak mengeluarkan bau kurang sedap, mungkin karena sudah 2-3 hari direndam.

Gini nih kalo penghuninya super sibuk ...

***

Ternyata bukan cuma tragedi piring kotor saja yang terjadi. Beberapa kali lantai terlihat kotor karena tidak disapu dan dipel. Mulai yang dari alasan kelihatan masih bersih sehingga tidak perlu di sapu apalagi dipel. Tapi ternyata keterusan. Seringkali tidak disapu dan dipel sehingga debu menebal. Halaman kecil depan kontrakan juga nampak kotor, bunga mawar dan anyelir yang menjadi hiasan yang mempercantik Wisma Putri Antik terkulai layu karena jarang disirami. Bahkan pintu gerbang samping yang lebih berfungsi sebagai garasi, terlihat semakin rimbun saja karena tanaman merambatnya tambah lebat. Yang bertugas piket kurang begitu memperhatikan sehingga lama kelamaan kost itu lebih mirip hutan daripada sebuah tempat tinggal. Segitunya?

Kamar mandi lebih parah lagi. Piket menguras bak mulai sering dilalaikan dan mulai tidak teratur. Dinding dan bak mandi bagian luar mulai lumutan. Ihh ... jadi ngeri. Puncaknya, ketika tagihan rekening telepon dan air membengkak. Fina yang kebetulan diserahi mengurusi keuangan dan administrasi mulai teriak-teriak. Tapi tetap saja ada yang membandel, terlambat membayar iuran bulanan.

”Ini siapa sih yang nelpon ke nomor-nomor asing. Mbok ya ngaku! Kasihan yang laen dong ... Huhh ...!” ujar Nania kesal.

”Kayaknya kita perlu segera rapat kos deh, Nan. Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa kita harus segera angkat kaki dari sini. Hehe ...” usul Ucix sambil menghitung-hitung pengeluarannya bulan ini.

***

Siang yang panas.

”Ini siapa sih yang piket??? Kotor banget nih lantainya.”

Nania nampak kesal. Baru aja pulang dari kampus, eh ternyata disuguhi pemandangan kost yang kotornya minta ampun. Sepertinya hari itu tidak ada yang tugas piket.

Belum lagi cucian piring dan rendaman baju yang numpuk di tempat cucian, membuatnya geleng-geleng kepala menyadari kondisi kost akhwat itu. Baju-baju yang sudah kering juga ikut menumpuk di bawah tangga, belum diambil sama yang punya, sehingga membuat kost lebih mirip tempat laundry.

Nggak bisa dibiarin nih, malam ini juga musti rapat kos. Harus!

***

Malam harinya penghuni Putri Antik mengadakan rapat kos dadakan. Heran. Masa’ setiap kali kumpul, yang dibahas seputar piket harian yang sering nggak jalannya. Malam ini semua penghuni nampak hadir lengkap.

”Saya harap semuanya bisa konsekuen dengan kesepakatan kita di awal. Nyuci piring sehabis makan apa susahnya sih? Okelah ada departemen kebersihan yang bertanggung jawab terhadap kebersihan kos, tapi itu nggak bener kalo kita bergantung pada mereka. Kasihan kan?” Nania menatap adik-adiknya.

Semua nampak diam mendengarkan. Mungkin malu.

”Kost kita kan kost akhwat. Masa’ kotornya melebihi kost-kostan biasa. Jangan sampai tetangga kita berpikiran negatif melihat wajah kost kita. Bener yang dibilang mbak Shinta, kita harus konsekuen dengan kesepakan kita dulu. Jangan sampai kita juga mendzalimi saudara kita yang lain.” imbuh Ucix.

Intan dan Tika nampak berkaca-kaca.

”Masalah rekening telepon juga. Kan udah disediakan buku telepon. Mbok ya dicatet kalao habis telpon. Biar tahu siapa yang pake telpon. Afwan mbak terpaksa bicara begini, agar kita semua sadar dengan tanggungjawab masing-masing. Ini juga bukan cuma tanggungjawab kita terhadap sauadara se-kost tapi juga di akhirat nanti, pada Alloh.” Nania mengakhiri ceramahnya.

Akhirnya diputuskan untuk memperbaharui peraturan kost. Mulai dari piket harian hingga piket mingguan. Mulai ditetapkan iqob atau denda bagi yang terlambat atau tidak melaksanakan tanggungjawabnya terhadap piket harian atau piket mingguan.

Tapi manusia memang tempatnya salah dan lupa. Belum ada seminggu mereka menetapkan kesepakatan baru, sudah dilanggar. Apalagi sebagian besar penghuni Putri Antik sudah mulai sibuk dengan aktivitas di kampusnya. Nania dan Ucix, sebagai tetua di kost, hanya bisa geleng-geleng kepala.

Memang harus dimulai dari yang paling kecil ...

***

”Tika!!!!” teriak Sarah kesal.

Yang dipanggil tidak menyahut, sepertinya sedang keluar.

”Ada apa sih, dek?”tanya Ucix keheranan.

Dengan wajah cemberut, Sarah memperlihatkan kondisi kamarnya yang super berantakan. Handuk tersampir di kursi. Beberapa pasang kaus kaki berada di atas tempat tidur. Tumpukan baju kotor yang tersembunyi di balik pintu membuat kamar terlihat lebih sumpek. Belum lagi, buku dan kertas yang berserakan di lantai.

”Mungkin, tadi Tika sedang terburu-buru hingga tidak sempat merapikan.” hibur Ucix.

”Tuh anak udah beberapa kali bikin kamar ini berantakan, Mbak! Emangnya yang menghuni kamar ini cuman dia? Perasaan masih sibuk-an aku. Tapi kok ancur-an dia?? ”

Ucix terdiam, menghela napasnya pelan.

”Ya udah, ntar coba ditabayunkan sama Tika. Nah, sekarang mbak bantu mberesin deh. Yuk?” Ucix menawarkan bantuannya.

Sarah pun mencoba menahan amarahanya pada adik semata wayangnya itu. Beberapa kali Tika memang meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan. Mulanya Sarah masih bisa membereskan kamar itu sendirian, namun lama kelamaan Sarah tidak tahan. Hampir setiap hari selalu saja berantakan. Dan hanya kata afwan yang diucapkan Tika kepada kakak perempuannya itu.

Keesokan harinya.

”Afwan, mbak Sarah ... Tika tadi keburu-buru. Tugasnya banyak banget! Ngejar deadline nih! Assalamualaikum!” pamit Tika dengan terburu-buru.

Oh My God! Nih anak nggak punya perasaan kali ya? Masa’ kakaknya disuruh kerja rodi terus?? Kapan nih kamar bisa bersih .... Fiuhhh...

Sarah mendesah pelan. Teringat kata Ucix tadi siang.

Keteladanan itu lebih penting, dek. Kalau ditegur terlalu keras, ntar dia malah lari. Ya kan? Pelan-pelan aja, dek Tika kan memang lagi sibuk-sibuknya.. Lagipula dengan begini kan, Sarah jadi lebih teratur. Kamar juga makin bersih.. Diambil hikmahnya saja.

***

Nania mengambil pena whiteboard-nya. Kemudian ditulisnya pengumuman, ”HARI AHAD BESOK KERJA BAKTI! WAJIB!!!”.

Begini nih kalo jadi ketua. Musti segera mengambil tindakan.

***

untuk pertama kali, kita ...

Randy sudah siap di atas motor kesayangannya. Sementara Medelina tengah berusaha mengeluarkan sepeda mini dari garasi kecil di samping rumah. Keduanya mempunyai kendaraan pribadi yang sangat berbeda jauh.

”Naiklah!”

Medelina kaget mendengar ajakan Randy.

”Kamu nggak mau terlambat kan?”

Dia memboncengku?

Kemudian tanpa berpikir panjang, Medelina duduk di belakang Randy setelah memasukkan kembali sepeda mininya ke dalam garasi.

”Pegangan yang kuat.”

Deg!!!

Dengan agak ragu-ragu, Medelina melingkarkan tangannya di pinggang Randy. Dan ini pertama kalinya mereka bersentuhan secara sengaja dan sadar.

Cess !!!



*cuman potongan salah satu adegan di novel wkwkwkkwwkwkwk lagi lebai nih yang posting

Tuesday, April 5, 2011

biar aku yang pergi ...



Mawar Biru?

Medelina mendapati setangkai mawar biru di depan pintu rumahnya. Ini sudah yang ketigakalinya dia mendapat kiriman bunga mawar di pagi hari. Dan yang lebih membuatnya tercengang karena pengirimnya adalah Prasetyo! Ternyata Prasetyo belum benar-benar bisa mengikhlaskan pernikahannya dengan Randy. Seperti lelaki itu sudah menutup mata dan telinganya terhadap semua rintangan yang ada.

Bahkan beberapa kali Medelina mendapat pesan di inbox handphone-nya. Meski hanya sekedar salam dan sapa di pagi hari atau menanyakan kabarnya. Sepertinya Prasetyo sudah benar-benar diselimuti rasa cinta yang berlebihan. Apalagi laki-laki itu seolah tahu bahwa pernikahan Medelina dan suaminya tidak semulus yang dibayangkannya.

Dia sudah gila!

”Mawar biru lagi?” tanya Randy retoris.

Medelina terkaget-kaget mendengar suara Randy dibelakangnya. Medelina membalikkan badan. Menatap wajah lelaki yang dengan tenang duduk di kursi roda itu. Sudah tiga hari sejak keluar dari rumah sakit, Randy menggunakan kursi roda. Lelaki yang dulunya tegap berjalan itu, kini harus selalu setia bersama kursi rodanya. Kedua kakinya lumpuh. Dan semenjak lumpuh itulah, Randy semakin menjaga jarak dengan Medelina. Randy semakin tenggelam dalam diamnya. Namun Medelina tetap berusaha melayani suaminya dengan baik. Menyuapinya, memandikannya, menyiapkan segala keperluannya. Mengabdikan cintanya dengan sepenuh hati.

Keadaan itu diperparah dengan hadirnya Prasetyo dalam kehidupan mereka. Randy merasa semakin tersisih dari kehidupan Medelina. Entahlah, disaat bunga-bunga cinta mulai bermekaran, Alloh menguji mereka untuk mengetahui sejauh mana mereka bisa bertahan.

”Sepertinya percuma kita mempertahankan semua ini.”

Glegarrr!!!

Ucapan Randy barusan seolah bagai petir di siang hari. Matanya berkaca-kaca.

Kenapa di saat aku mulai jatuh hati padamu, engkau memadamkannya? batin Medelina ingin berontak.

Randy memutar kursi rodanya dan bergegas menuju kamar.

Apa kau masih mencintainya? Kalau begitu, biar aku yang pergi ...

Medelina merasakan perih di hatinya.


*romantisme akut di siang bolong qeqeeqeqeq, tulisan jadulku yang lama tersimpan di leptop ... kuposting aja. gambar yoyo dan cici hasil googling hihihihi

Monday, April 4, 2011

tetaplah mencintaiku



Hampir tengah malam, Randy pulang. Kebetulan tadi dia membawa kunci sendiri sehingga tak perlu membangunkan Medelina. Melewati ruang tengah, Randy mendapati Medelina pulas tertidur di sofa.

Gadis ini menungguku ...?

Dipandanginya wajah cantik di depannya itu. Lama sekali.

Dia ... benar-benar cantik !

Rona wajahnya seketika memerah.

Maaf jika aku tak bisa bersikap lembut padamu, duhai cintaku ...

Untuk kedua kalinya, Randy membopong tubuh istrinya itu ke kamar. Dengan hati-hati Randy menyelimutinya. Tiba-tiba tanpa dikomandoi, tubuhnya tergerak maju mencium kening Medelina.

Jess!!!

Ini pertama kalinya dia mencium kening seorang wanita. Rasanya ada sesuatu yang menjalari hatinya.

Ah! Inikah rasanya ...

Tak sengaja matanya tertumbuk pada sebuah diary di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Diary itu setengah terbuka hingga menimbulkan rasa penasaran di hatinya. Diraihnya diary itu dan dibuka dengan perlahan.

Lembar pertama.
18 Maret 2008,
Akhirnya aku tahu kenapa Oma begitu ingin aku bersanding dengan lelaki itu. Kasih tak sampai itu ingin dirajutnya kembali. Tapi kenapa harus aku?
Aku tak berani menjelaskan pada Oma bahwa ada seorang lelaki yang telah melamarku sebelumnya bahkan kami sudah sepakat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi ... aku bukan wanita yang punya cukup keberanian untuk itu ...
Mungkin aku harus mengalah meski lelaki itu mungkin tak terima kalau aku memutuskan taaruf ini secara sepihak. Aku hanya tak ingin mengecewakan Oma. Dia cahaya hidupku ... Aku tak ingin melihatnya bersedih karena aku telah menolak keinginannya ...
Karena aku sayang Oma.
Randy mengerutkan keningnya.
Siapa lelaki itu?


Lembar kedua.
29 April 2008,
Lelaki itu sepertinya tak rela jika aku melanjutkan hidup dengan orang lain. Dari kata-katanya saja aku bisa menangkap ketidak relaannya itu. Bahkan kata-katanya sedikit memojokkanku hingga membuatku tak bisa membela diriku. Atau memang aku tak perlu melakukan pembelaan diri? Entahlah ...
Tapi ini keputusanku.
Meski ada rasa bersalah menderaku ... karena aku takut melukai perasaannya. Meski hatiku juga terluka ... Apa aku terlalu kejam padanya?
Aku hanya berharap dia mau mengikhlaskan semuanya ... karena mungkin inilah yang terbaik dari Alloh untukku, untuknya, dan untuk dakwah ...
Duhai Alloh, tolong bersihkan hati ini,
dari rasa yang seharusnya tak ada ...


Lembar ketiga.
30 April 2008,
Aku akan menikah. Dengan orang yang meski tak kukenal sebelumnya tapi aku yakin ... Alloh telah memilihkannya untukku. Aku yakin Alloh tahu yang terbaik untukku.
Tapi sejujurnya aku kaget. Karena calon suamiku adalah Randy! Lelaki yang pernah berseteru denganku tapi juga pernah menolongku. Aku tak tahu, apakah dia juga berpikiran sama denganku?
Ah! Aku tak ingin berprasangka ...
Ini rencana Alloh ... dan aku yakin rencanaNya selalu indah ... ^_^


Mata Randy mulai mengembun.

Lembaran keempat.
Awal Mei 2008,
Hari ini adalah hari terindah dalam seluruh hidupku. Aku tak mau menyesal. Tapi kenapa dia masih bersikap dingin padaku? Dia bahkan tak mau menyentuhku ...
Aku tahu pernikahan ini tak bermula dari cinta tapi aku ingin ... aku ingin ... cinta kami saling berpaut karenaNya. Aku ingin belajar mencintainya juga ... Aku ingin menjadi isteri yang sempurna di matanya. Mungkinkah?
Ya Rabb ... beri aku kesabaran atas semua ini ... tolong semaikan benih cinta diantara kami ...
Kirimkan malaikat-Mu untuk mendamaikan kami.


Lembar terakhir.
3 Mei 2008,
Dia membopongku ... untuk pertama kalinya!
Rasanya ... rasanya aku bisa merasakan pelukan hangat dari seorang lelaki yang kuharap akan mencintaiku ...
Semalam sepertinya dia sempat terpana melihatku tanpa memakai jilbab ... Ah! Aku pun terpana ketika melihatnya tertidur di sofa. Wajahnya lucu sekali saat tidur seperti itu. Tenang ... dan tampan!
Oh! Apakah aku mulai jatuh hati padanya ...
Kuharap cintaku pun tak bertepuk sebelah tangan ...


Begitu selesai pada lembar terakhir, Randy tergugu. Hatinya basah.

Maafkan aku, Cinta ... Maaf ...


*tulisan lama, yang ndeprok di leptop :') ... iseng aja posting*

Friday, March 4, 2011

Pulang

Mata tuanya berkaca-kaca.
Sayu menatap buah hati yang entah berapa lama tak pernah lagi ia peluk.
Si buah hati telah tumbuh dewasa.
Cantik, mewarisi kecantikan sang Ibu.

Perempuan tua itu merebahkan tubuh ringkihnya.
Memeluk gadis cantiknya dengan lembut.
Menatap punggungnya.
Kemudian mengusap lembut kepalanya.
Menyanyikan lirih tembang favorit sang gadis kala kecil.
Perlahan wajahnya berubah menjadi telaga.
Membasahi bantal lapuk yang menjadi sandaran kepalanya.
Namun dengan hati-hati disembunyikan serak tangisnya dari si gadis cantik yang mulai lelap di sampingnya.

Bagi perempuan tua itu, si gadis cantik tetaplah gadis kecilnya dulu.
Gadis kecil yang dua puluh lima tahun lalu lahir dari rahimnya.
Si sulung yang keras kepala tapi begitu pendiam.
Dan rapuh.
Meskipun sudah berkeluarga dan memberinya seorang cucu lelaki.
Sampai kapanpun, dia tetap menjadi gadis kecilnya.
Sampai kapanpun.

Nduk …
Masih ingatkah kau?
Waktu kecil, kamu sering pulang dengan menangis.
Kamu bilang teman-temanmu nakal.
Kamu mengadu padaku, Ibumu.
Beranjak dewasa, kamu sibuk dengan kuliahmu.
Sesekali pulang karena kebosananmu dengan hiruk pikuk dunia kampus.
Setelah lulus, kamu merantau ke kota.
Meninggalkan Ibu sendiri.
Setelah kamu merasa cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, kamu pergi lebih jauh.
Menikmati kedewasaanmu dalam perantauan.
Lalu datang lelaki yang tak pernah Ibu kenal memintamu, membawamu pergi.
Menyisakan keping rindu di hati Ibu.
Menantikan pelukan kecilmu.

Ketika lelaki itu menyakitimu, kamu menangis.
Lalu pulang padaku.
Ya, aku selalu menjadi tempat pulang bagimu.

Nduk …
Kapanpun kamu ingin pulang, Ibu akan selalu berdiri di pintu ini.
Menyambutmu dengan rentangan tangan lebar.
Lalu, memberimu pelukan hangat.

Ada yang mengiris tipis rasa rela di hatinya.
Gadis kecil yang disayanginya harus menerima luka dari orang lain.

Lihatlah, aku selalu menjadi tempatmu kembali.
Pulang.
Nduk …

24122010
@lalu ... adakah tempat untukku pulang?@

Saturday, February 26, 2011

Sebab Aku Sayang ....

Bu, kangen … Kenapa tidurmu panjang sekali?
Tidakkah kau ingin melihat Ayah?

Bruugggg!!!

Aku tengah menulis diary online-ku ketika tiba-tiba kudengar suara seperti seorang terjatuh. Bergegas kututup laptop serampangan dan berlari ke belakang. Kudapati Ayah terduduk di lantai kamar mandi.

“Masya Alloh, Ayah??”

Segera kuangkat tubuh Ayah dan membawanya masuk ke kamar. Bajunya basah, kuambil baju ganti untuknya dari lemari. Sementara aku mengganti bajunya, kulihat sekilas Ayah meringis menahan sakit.

“Riana … maukah kau menolong Ayah?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku tertegun. Kuambil selimut tebal, tapi Ayah menahan tanganku.

“Tolonglah Ayah, Nak … aakhh!” Ayah mencengkeram tanganku dan mengerang kesakitan.

Aku menangis lirih melihatnya.

Alloh, jangan biarkan dia putus asa …

“Hanya kamu harapan Ayah, kamu sayang Ayah kan? Tolong Ayah … untuk mengakhiri semua ini.”

Deg!

Ayah menangis. Sesuatu yang tak dilakukannya lagi semenjak kematian Ibu tujuh tahun lalu.

Alloh, aku harus bagaimana?
***

Aku mulai beku.

Apakah ini pertanda, aku mulai kelelahan ya Alloh …?

Kanker otak yang diderita Ayah semakin parah. Sebulan lalu, kemoterapi telah dihentikan. Dokter hanya memberikan obat penghilang rasa sakit. Kini, Ayah hanya bisa berbaring dirumah. Dengan aku, putri tunggalnya yang bahkan harus keluar dari pekerjaanku agar selalu bisa memantau kondisi Ayah. Semua kulakukan sendiri.

Kembali aku tertegun melihat pil-pil yang tengah kugerus.

Haruskah …?

Aku tergugu dalam diamku.

Alloh, maafkan aku … ini demi Ayah.

***

Kutinggalkan tanah merah yang masih basah itu. Sebuah mobil dan beberapa petugas berseragam serba cokelat tengah menungguku di luar pagar.

Selamat tinggal, Ayah.

Riana sayang Ayah …

-end-
=============================>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

repost FF-ku yang pernah ikut lomba FF di EMPE :))

Melting

"Titan?"

Dia yang kusapa Titan, tersenyum.

Manis.

"Apa kabar, Raya?" tanyanya pelan.

Aku hanya diam.

Kugeser kakiku beberapa sentimeter darinya.

Menjauh dari aroma parfum yang menjadi ciri khasnya.

Kualihkan pandanganku keluar jendela bus TransJogja yang menjadi saksi bisu pertemuan pertamaku dengannya.

Lelaki yang hampir 5 tahun kucoba hapuskan dari ingatanku.

Menghindari tatapan mata elangnya.

Ah, kenapa aku harus bertemu dengannya? batinku gelisah.

We'll see...