Showing posts with label bukan galau. Show all posts
Showing posts with label bukan galau. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

kabar baik itu ....



Pernikahan.

Kadang benci banget denger kata-kata ini. Karena mengingatkan saya akan seseorang. Seseorang yang pernah (saya bilang pernah, karena nggak tahu apa dia pernah menganggap saya ada :nyengir:) menjadi teman saya. Dan itu terasa menyebalkan.

Dulu saya pernah punya seorang teman di kampus. Kami kenal secara nggak sengaja, atau lebih tepatnya kami bertemu karena takdir Alloh. Sama-sama satu angkatan, sering bertemu di banyak acara kampus, dan finally satu perguruan a.k.a satu guru ngaji. Tapi jelaslah, saya masih jauh dibawahnya. Ilmu saya masih cetek dibandingkan dengannya. I am just an ordinary woman hahaha.

Diantara semua teman ngaji saja, saya sangat dekat dengan satu orang bahkan sampai sekarang saya selalu menganggapnya sebagai teman terbaik saya. Dan kalau bicara level kedekatan, dibawahnya lagi yang cukup dekat dengan saya ya dia, seseorang yang menjadi bagian cerita saya disini. Pemikiran kami hampir sama, pokoknya banyak hal yang mempertemukan kami dalam satu titik.

Sampai suatu kali, kami tidak lagi dalam satu kelompok ngaji karena rotasi yang biasa dilakukan dalam sebuah kelompok. Otomatis komunikasi pun agak terputus, karena kami juga sama-sama sibuk di wilayah kami masing-masing. Selang beberapa lama saya mendengar sebuah kehebohan, berita pernikahannya. Bisa dibilang heboh, karena saat itu memang berita pernikahannya mengejutkan banyak orang dan membuat banyak orang kecewa (saya nggak perlu jelaskan kekecewaan mereka) karena beberapa hal.

Saya justru tahu berita pernikahannya dari teman saya yang lain tepat di hari pernikahannya. Teman saya bilang pagi itu dia akan melaksanakan akad nikah. Wow! Seharusnya saya gembira dia menikah, tapi nyatanya saya kecewa. Saya kecewa bukan karena dia menikah, tapi karena dia tidak memberitahu saya berita pernikahannya bahkan hingga detik ini. Hahaha, saya ingin tertawa. Sepertinya saya terlalu berlebihan menelan kekecewaan, sepertinya saya harus mulai sadar bahwa mungkin saya bukan teman yang pantas untuk diberi kabar pernikahannya. Siapa lah saya .... Yang lebih mengecewakan, beberapa lama setelah pernikahannya secara tak sengaja kami bertemu dia masjid kampus. Tebak apa yang terjadi? Bahkan menyapa pun tidak. Kami hanya bertemu pandang, sampai saya berpikir mungkin dia malu tentang berita pernikahannya yang menghebohkan kampus. Ingin saya menyapa saat itu, tapi sayangnya dia seperti setengah berlari keluar masjid. Saya sampai ketawa-tawa waktu cerita ini sama teman-teman lain yang ternyata juga (hampir) memiliki cerita yang sama tentang dia.

Semua itu hanya membuat saya tertawa. Apa yang dulu pernah diucapkannya tentang pernikahan ternyata hanya omong kosong. Janji untuk saling mengabari itu hanya sebatas basa-basi. Bullshit! Ah, sudahlah. Itu bukan urusan saya. Dia mau nikah atau mau punya anak juga bukan urusan saya. Saya hanya perlu berterimakasih pada Tuhan bahwa dia pernah dihadirkan dalam hidup saya, sebagai seorang teman.

Tapi ada cerita membahagiakan yang lain. Beberapa teman saya, meskipun tidak terlalu dekat tapi justru memberikan kabar bahagia itu jauh sebelum hari-H. Dan itu membuat saya benar-benar bahagia, senaaaaaaaaang bukan kepalang. Saya nggak meminta mereka mengundang saya tapi mengejutkan mereka malah meminta restu dan meminta do’a padahal saya hanya minta cukup dikabari saja. Sungguh, itu sudah sangat cukup bagi saya. Itulah yang disebut sebagai persahabatan.

Benar, pernikahanmu bukan urusan saya. Tapi saya hanya ingin mendengar darimu langsung tentang kabar bahagia itu. Saya hanya ingin tahu betapa bahagianya engkau yang telah menemukan seseorang yang kau cintai dan mencintaimu.

Dan saya akan berdo’a dengan tulus untuk kebahagiaanmu.

Saya selalu siap mendengarkan kabar baik darimu.Saya hanya tidak siap jika harus mendengarnya dari orang lain.

 .....................................................fin.


Teriring do’a yang tulus untuk sahabatku yang besok Ahad insya Alloh akan mengucap janji suci. Terima kasih teman, sebuah kehormatan bagiku karena kabar baik itu kudengar langsung darimu. Semoga engkau bahagia, selamanya. Aamiin. :)

Wednesday, December 19, 2012

Maaf, saya tidak sedang menggalaukan seseorang yang ….


Orang bilang umur sekian-sekian adalah masa galau seseorang menantikan jodohnya. Benarkah? Entahlah, perspektif tiap orang berbeda-beda. Tapi kalau saya pribadi, sampai saat ini saya bahkan belum berniat untuk setidaknya apa yang agama katakan sebagai menggenapkan separuhnya. Eh bukan belum berniat ding, sudah kok sudah niat … hanya saja saya belum benar-benar tertarik untuk menyempurnakan niat itu dengan tindakan (halah, kok tindakan). Yeaaa … jujur saja, sampai detik ini prioritas untuk menikah masih ada di urutan yang kesekian. Ada cita lain yang ingin saya capai terlebih dulu, meski saya pun tak tahu nantinya apa yang akan dituliskan oleh Tuhan untuk kehidupan saya. Dan alhamdulillahnya lagi, saya tidak perlu bergalau-galau seperti beberapa teman saya yang (kayaknya) sudah ngebet pake banget untuk segera menikah. Galaunya dibawa kemana-mana. Makhluk bumi dari ujung barat sampai ujung timur sampai tahu. Bukan berarti saya nggak pernah galau, hanya saja kegalauan saya itu bukan dalam urusan married atau ngejar jodoh, tapi galau yang lain hihihihi.

Jujur lagi, saya juga males pake banget pake lagi kalau tiap ketemu orang apalagi teman lama pasti yang ditanyain pertama kali bukan kabar tapi “udah nikah belum?” Haiyyaaaah, seolah-olah hidup ini hanya urusan nikah aja. Kalau saya jawab “masalah buat lo? Wowww!!” kena sambit sandal deh saya hahahaha. Pengen saya jawab iya, tapi nggak ada buku nikah sebagai buktinya sih hahaha. Pertanyaan gini kadang bikin gerah. Atau sebenernya mereka itu curious tentang WHO’S THAT PERSON yang berhasil mengikat hatiku kekekekek. Yah gimana enggak, wong saya aja kadang curious sama teman saya, suka mikir “nih anak ntar dapet siapa ya” atau …. jangan-jangan dia malah jodoh saya (sotoy, ngarang banget). Enggak lah, malah bikin ngeri aja kalau kejadian :D.

Back to galau.

Kadang saya juga bertanya-tanya sendiri (like crazy lah) kenapa saya belum juga galau ya? Hahaha padahal banyak adik-adik tingkat saya dulu waktu di kampus yang baru juga lepas SMA dan masuk kampus sudah galaunya tingkat dewa, nggak bisa tidur mikirin jodohnya -_-a. Mungkin galau saya tentang hal itu udah lewat kali ya, bukan jamannya lagi ngegalauin cowok eh lelaki. Untuk saat ini, benar-benar ada sebuah cita yang perlu (dan harus) saya capai, semoga Alloh mengijinkan, amin ya Alloh :D.

Bukan, saya bukan malu karena belum menikah sampai umur udah seperempat abad gini (masih bayi banget kannn? ahihihi) tapi karena bagi saya nikah itu bukan urusan sepele, bukan sekedar datang ke RT trus minta surat pengantar buat ke KUA. But, married is a long journey with “that person”, perjalanan panjang menguji kesabaran dua ego makhluk bumi (halah, kayak udah tahu aja nih saya). Setidaknya itu yang saya lihat dari pernikahan kedua orangtua saya.

Bahwa menikah itu nggak sesepele kita jahitin baju pengantin atau bikin dekor pelaminan, tapi kalau boleh saya berpendapat pribadi bahwa menikah adalah sebuah tempat menyatukan ego-ego yang kadang bisa memunculkan surga atau bahkan hujan berkepanjangan. Wuih, keren amat bahasa yang saya pakai :D. Yeaa … kadang itulah yang membuat saya tidak punya keberanian untuk mencoba “new life with someone who love me”, belum siap untuk menjadi makmum. Mungkin karena saya terbiasa mengerjakan apa-apa sendiri, menanggung semua beban sendirian, jadi ada sebuah rasa tidak percaya ketika saya harus “mempercayakan” diri saya pada seseorang. Time will healing. Healing from fear and faith, someday.

Anehnya makin saya belum siap, kenapa setiap satu pergi malah datang yang satunya. Dan inilah yang membuat saya makin takut kalo saya makin nggak siap dengan yang namanya berkomitmen. Berlebihan? Mungkin. Tapi saya benar-benar belum siap menderivasikan niat ini dalam sebuah ikatan. Nggak tahu kapan siapnya. Orang bilang pun, kita nggak akan pernah siap kalo nggak mencoba. Tapi menikah bukan untuk coba-coba kan? Dan selagi berikhtiar mencapai sebuah cita, saya juga sedang belajar untuk menyiapkan mental saya untuk bisa menerima seseorang yang bersungguh-sungguh berkomitmen dengan saya kelak. Well, kita lihat saja apa yang akan Alloh tuliskan nanti.

Loh, malah curcol :D
------lha bukannya ini memang curcol ya ahihihihi----

Boleh kok dibilang curcol, tapi sejujurnya saya cuma sedang latihan nulis lagi (loh?? What the .....) hehehe, enggak ding. Saya hanya sedang mengekspresikan sebuah pemikiran tentang sebuah kesiapan hati untuk menerima komitmen (halah) yang bagi sebagian orang dijadikan pijakan kegalauan. Atau ini yang namanya galau yah? Hahahaha. Bukan. Saya yakin bukan. Karena kalau orang lain (mungkin) sedang galau tentang cinta monyetnya atau tentang jodoh yang dikejarnya, saya justru sedang menggalaukan sebuah cita saya yang lain yang sama sekali nggak ada hubungannya sama cinta. Apa itu? Yah sebut saja itu sebuah ”pride”. Selebihnya, biar saya yang tahu dan berikhtiar terlebih dulu untuk mencapainya. Masalah jodoh, saya tahu dan yakin Alloh sudah mengaturnya tapi untuk saat ini memang saya belum ingin memikirkannya. Next time, maybe. We’ll see :D.

Maaf, saya tidak sedang menggalaukan seseorang yang ...... belum menjadi hak saya. Karena sejujurnya, saya sangat takut hal itu justru akan menjadi bumerang bagi saya, ketika hati belum siap tetapi angan sudah jauh melangkah. Lebih baik fokus pada apa yang ingin dicapai saat ini. Kalaupun saya mengekspresikan beberapa tulisan horor di blog ini, sungguh sebagian besar itu bukan karena menggalaukan cintanya perempuan pada lelaki yang bukan haknya.

Dan sekarang, saya sedang butuh memperbaiki diri saya. Ya, saya ingin hidup saya sekarang lebih baik. Itu saja. Sedang berusaha untuk tidak galau, kecuali galau karena amalan masih amat sedikit, masya Alloh ....

SEMANGAT, Ucix!!!
Berdoalah, dan sempurnakan ikhtiarmu ^^

*****galau karena lama nggak nulis, dan mulai kehilangan gairah menulis -_______-a***

Wednesday, January 4, 2012

Married … again? :D



Kalau ngomongin yang satu ini emang nggak ada habisnya. Adaaaa aja penyulutnya :D Tapi tenang, saya nggak lagi sedang meluapkan keinginan untuk menikah. Malah masih jauh dalam bayangan saya tentang my wedding’s day. Yeah, let see our line http://eemoticons.net

Pengen aja nulis tentang married (sekalian senam jari http://eemoticons.net), gara-gara habis dikejutkan dengan wedding’s plan seseorang. Siapakah dia? http://eemoticons.net Tak perlu ditebak-tebak, disini saya cuman pengen share tentang married-nya, bukan someone-nya. Begitulah :D

Sempet ngobrol sama temen juga, sharing tentang married gitu. Yang intinya tentang “perintah married” (halah). Why? Kenapa musti PERINTAH? http://eemoticons.net Yap! Sengaja menyebut demikian, dikarenakan begitu banyak dorongan-dorongan eksternal untuk SEGERA menikah. Wkwkkwkwkwk. Dorongan eksternal? -___-“ Maksudnya, begitu banyak orang yang mendorong untuk segera menggenapkan setengah dien termasuk dari keluarga atau teman-teman. Gileee bener, udah kayak dikejar deadline.
Tapi kalo boleh dibandingkan, lebih mengerikan dikejar deadline skripsweet daripada deadline nikah.
Stressnya lebih berasa. http://eemoticons.net Wkwkwkwkkwkwkwkw.

Memang sih, beberapa teman satu-persatu mulai mengikuti sunnah Rasul itu dan beberapa yang lain juga mulai ancang-ancang (hahaha) untuk menyiapkannya. Kalau saya? Huwahahahahahaha. Not yet lah. Saya tahu, menikah adalah sunnah. SEGERA (???). Kalau ada yang bilang “nggak usah takut soal rejeki kalo mau nikah”, kalau saya boleh menanggapi … “cinta nggak bikin kenyang kaleee”. Bukan tidak percaya pada janji Alloh, atau apapun itu namanya. Hanya saja bagi saya, yang namanya married itu (insya Alloh) sekali seumur hidup. Harus disiapkan, harus diawali dengan niat yang baik. Bukan begitu? Nggak semua hal bisa dihitung dengan hati, tapi juga logika. Atau sebaliknya. Baiknya, keduanya sejalan. Hati dan pikiran http://eemoticons.net.

Saya pernah agak sedikit miris ketika salah satu teman saya mulai khawatir karena satu-persatu teman kami mulai menggenapkan setengah diennya (bahkan ada yang masih terhitung junior). Teman saya itu mulai takut kalau “dibalap” sama yang lain.
Pikir saya, dikira ini balapan motor apa? http://eemoticons.net .
Bagi saya, nggak bisa nikah itu cuman karena sekelilingnya udah pada nikah juga kaleee. Cepet-cepetan. Nikah bukan ajang coba-coba kan? Kekhawatiran yang berlebihan kalau saya bilang. Semua sudah ada yang mengatur. Jodoh, rezeki, maut. Kita hanya harus menyempurnakan ikhtiar dan mengumpulkan banyak doa dengan NIAT yang benar.
Kalau sampai salah meletakkan niat, wah bisa berakhir dengan kekecewaan. http://eemoticons.net


So?

Wkwkwkwkwkwkw.
Now I am still single, and always very happy about that. Single fighter (lebay).
Kalo kemarin teman saya sempat bilang, “Cix, inget kalau terlalu merasa tangguh (mandiri sebagai seorang perempuan) bisa jadi kamu malah nggak beda sama kaum feminist”.
But, absolutely I am not a feminist. Just a femme :D. Hmm, emang sih kadang-kadang saya juga merasa lebih maskulin daripada mereka para makhluk bernama lelaki (but, trust me that I am still a girl http://eemoticons.net ). Wkwkwkwkwkw. Mungkin karena saya terbiasa dilatih mandiri sejak kecil. Apalagi saya adalah sulung. Jadi sejak kecil, mindset
“saya nggak boleh lemah, saya harus melindungi keluarga saya, saya nggak boleh terlihat sedih di hadapan adik-adik saya”
sudah terbangun dan ketika saya dewasa pun tak lepas dari mindset itu. Saya harus bisa bangun sendiri kalaulah nantinya saya jatuh. Jangan manja! Harus tangguh, nggak boleh dikit-dikit merengek minta tolong. Jadi saya belum bisa menerima orang lain untuk menjadi bagian dari hidup saya. Not yet. Begitulah.

And until now, I am still learn about sharing my life with other guys. Huwahahahaha. Dan saya paling sebel kalau sudah DIBURU-BURU untuk segera nikah. Why? Kalau kata Bon Jovi, “it’s my life” jadi hanya saya sendiri yang berhak menentukan 5W+1H jika suatu saat nanti saya harus menikah.
Sampai saat ini, saya merasa hanya saya yang berhak mengendalikan diri saya pribadi.
Bukan orang lain. Saya nggak bisa katakan mindset “single fighter” ini akan terus terpasang dalam pikiran saya karena bisa jadi bulan depan atau seminggu lagi akan berubah 180 derajat. Who knows? Yang jelas, saya tahu married adalah sunnah. Saya hanya masih menimbang-nimbang tentang bagaimana agar bisa mengalahkan egoisme pribadi dengan sharing life with other namja demi menumbuhkan banyak kebaikan di dalamnya. Bingung dengan kata-kata saya? Sama! http://eemoticons.net Wkwkwkwkkwkwkw.

Biarlah semuanya go with the flow, bukan gone with the wind :D. Yah, saya kira masih banyak hal yang bisa saya lakukan sebagai seorang single. Masih banyak amanah yang harus diselesaikan. Masih banyak keinginan yang belum tercapai. Banyak cita yang masih ingin saya gapai. Biarlah Alloh yang menggariskan cintanya, pada siapa dan bagaimana (prikitiwww)http://eemoticons.net.

So, Mom … trust me, I am your child. Let me have my life with happiness. One day, I’ll give you someone who like plus love me … and you so much. Someday.

Semoga Alloh menyampaikan usiaku untuk memenuhi keinginanmu, segera. Amin.


nb: poto punya sendiri http://eemoticons.net

============cuman catatan di awal 2012 http://eemoticons.net ========

Wednesday, July 6, 2011

cinta is prettt

Kalau ngomongin cinta emang nggak ada habisnya.
Bahkan untuk sekedar mendefinisikannya pun nggak cukup satu halaman postingan ini.
Emang apa sih cinta?
Cinta is prettt http://eemoticons.net
*kwaa kwaaaaa … gak ding

Tiba-tiba pengen nulis tentang cinta http://eemoticons.net
Bukan karena lagi jatuh cinta atau apalah namanya, cuman pengen sedikit mengekspresikan cinta (maklum, saya khaaaan emang agak ekspresif).

Semua orang butuh cinta (kayaknya).
Bahkan sejahat apapun orang itu.
MENCINTAI http://eemoticons.net.
Mudah untuk mencintai orang lain, apalagi jika orang itu adalah orang-orang terdekat kita.
Bunda, adik-adik. Atau bahkan sahabat kita.
Atau kecengan kita? http://eemoticons.net

Mencintai itu sebuah kebebasan. Bebas untuk mencintai siapapun. Bebas untuk mengalirkan energi cinta, sebesar apapun. Bebas untuk memberikannya kapanpun.

Tetapi berbeda dengan keinginan untuk dicintai.
Butuh waktu dan tenaga untuk meminta orang yang kita harapkan untuk mencintai kita.
Dan terkadang harus memaksakan diri untuk semua itu.
Iya kalau akhirnya kita dicintai, kalau akhirnya semua hanya sia-sia?

Ah, sebenernya semua memang mempunyai resiko. Untuk cinta sekalipun.


Mencintai sesuatu atau seseorang, lalu ketika sesuatu itu hilang atau seseorang itu pergi meninggalkan kita, akan memunculkan rasa kecewa. Mematahkan harapan kita padanya.

Dicintai seseorang, yang ternyata bukan orang yang kita harapkan selama ini, akan memunculkan sebuah pertanyaan bahwa betapa cinta itu memang tak bisa dipaksakan.

http://eemoticons.net

Jadi ingat tulisan Dee di Recto Verso (Hanya Isyarat) yang satu ini;

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
Yang lenyap keluar dari bingkai mata
Sebelum tangan ini sanggup mengejar seseorang
Yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.




errrrrrrrrrrrrrrrrrr .........................
http://eemoticons.net
*tulisan nggak jelas ini nggak usah digagas.

Saturday, February 26, 2011

Curcol aaaahhhh …..

Masih mencoba mencerna, kenapa ada yang begitu terburu-buru menikah.

Hemmm …. Satu persatu temen mainku udah (dan hampir) married.
Artinya, aku mulai kehilangan satu persatu dari mereka.
Kehilangan?
Kok?
Kayaknya lagi ngawur nih aku.
Kalau tidak merasa memiliki, kenapa harus merasa kehilangan?
Aneh.
Tapi kurasa benar juga.
Mereka hanya teman, tidak berhak ku miliki.

Ah pada akhirnya, kamu kembali pada dirimu sendiri.
Nggak tahu aaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh …………..!
Rasanya begitu menyakitkan ketika kau ditinggalkan bukan?
Seperti ada yang berlubang di hati.
Kecil sih, cuma berapa mili aja … tapi menyiksa.
Ampuuuuuuuunn!

Berulang kali menyadarkan diri sendiri, bahwa setiap orang berhak untuk menjalani hidupnya.
Sendiri.
Ya, setiap orang kelak akan mempunyai ruang sendiri dalam hidupnya.
Ruang yang tak boleh dimasuki orang lain, selain belahan jiwanya.
Huhuhuhu.
Sedih.
Kenapa sih?
Harusnya aku senang kan?
Seneng lihat mereka bahagia.
Tapi …. (ada tapinya)
Married harusnya nggak meninggalkan kesan yang menyebalkan untuk orang lain kan?
Menyebalkan karena ada orang asing tiba-tiba mengambil orang yang pernah duduk bercerita dengan kita hingga berjam-jam lamanya.

Ah, mungkin kalian tak mengerti tentang ini.

Ah, mungkin ini hanya keegoisanku semata.
Merasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah kumiliki adalah sebuah kebodohan yang indah.
Bolehkan aku merasa kehilanganmu ……?



------------------------------siiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnggggggggggggggggggg----------------------------------



Aku pun tak membayangkan jika nanti aku yang akan diambil oleh orang asing itu …


@$#%^&JHGFDSZCV B#$%P{>{P*&^%$#@WOPO(*&^%$#@!@ASZXCVVC

Auk ah gelap >:)))

Curcol et midnight, di pojokan sarang cute evil

Friday, February 18, 2011

First Sight Love?

Saya nggak percaya sama yang namanya first sight love a.k.a jatuh cinta pada pandangan pertama.
Nggak tahu kenapa.
Mungkin karena saya adalah tipe orang yang berkeyakinan bahwa semua yang ada di hidup ini membutuhkan proses.
Karena saya yakin, sesuatu yang instant banyak memunculkan sakit hati dan rasa kecewa yang lebih besar.

Saya nggak percaya akan cinta pada pandangan pertama.
Cinta itu butuh proses, hubungan itu butuh waktu.
Menumbuhkan rasa cinta itu seperti menanam pohon pisang.
Butuh waktu cukup lama untuk menikmati tandan pisang, yang bisa jadi di tengah pertumbuhannya mengalami banyak gangguan.
Dimakan ulat atau busuk dengan sendirinya.
Atau tak berbuah sempurna seluruhnya.
Jadi ketika suatu saat saya jatuh cinta pada seseorang, itu artinya beberapa waktu saya telah berusaha mengenal “siapa dan bagaimana” seseorang itu.
Dan waktu yang saya jalani untuk mengenal orang itu mungkin menumbuhkan banyak perasaan yang menjadi pelajaran besar untuk saya.
Perasaan yang bukan hanya senang, tapi juga sedih, marah atau bahkan malu.
Saya mudah simpati pada orang, tapi tak mudah jatuh hati.
Entahlah, ini insting atau apa namanya.
Butuh waktu bagi saya untuk bisa jatuh hati pada seseorang (apalagi lawan jenis).
Saya harus tahu siapa dan bagaimana seseorang itu.
Just need time.
Dan waktu yang akan menguji, sekualitas apakah chemistry yang telah saya bangun dengan orang itu.
Tetapi, ketika saya sudah benar jatuh hati pada seseorang itu, saya bisa mengabdi padanya dengan loyalitas yang tak perlu ditanyakan lagi.
Well, kesetiaan adalah harga tak tergantikan untuk sebuah hubungan.

Hanya coretan biasa, menjelang malam.
13/02/2011 05:51 PM

Taaruf?

Sebenarnya paling males ngomongin masalah ini, kayaknya lebai sih. Intinya udah penuh sama teori, tinggal praktek aja #halah apaan deehh, sok gedhe xoxoxo#.

Taaruf itu kan intinya perkenalan
. Sama temen kek, sama sodara kek, sama orang yang nggak kita kenal sekalipun. Pokoknya, intinya kenalan. Tapi kalau mau lebih dipersempit dalam ruang lingkup pernikahan, ya taaruf lebih ke bagaimana “mendalami” seseorang #eh, iya nggak sih?#. Bagaimana meyakinkan diri, bahwa seseorang itu adalah orang yang kita tunggu dan kita cari selama ini. Bukan pacaran. Karena sampai saat ini, saya masih menganut paham antipacaran untuk urusan menikah. Daripada ngasih cokelat dan bunga ke anaknya, mending langsung datengin calon mertua kan? Hahahaha Well, saya kira banyak jalan untuk menemukan jodoh tanpa harus pacaran toh? #njlimet amat sih, ya gitu deeehh#

Ngomong-ngomong masalah taaruf, saya jadi inget sesuatu. Suatu kali, pernah ada seseorang lelaki yang I-don’t-know-who-is-he-and-I-don’t-care-about-him tiba-tiba mengajak taaruf.

Begini kira-kira …

He : Anda bukan perempuan biasa. Kelihatan dari tulisan-tulisan anda.

Me : Anda siapa? Dan ada urusan apa dengan saya?

He : Perkenalkan saya ****menyebutkan*nama****.

Ehm, bagaimana ya ngomongnya?

Me : ?

He : Begini mbak, saya pengen mengajak mbak untuk taaruf.

Me : Taaruf untuk apa?

He : Ya saya belum tahu, untuk dijadikan isteri atau teman.

Me : ???

#inti percakapan kami berdua; He (lelaki itu) dan Me (saya)#

Meskipun saya tahu kalau maksud si lelaki itu ingin mengajak taaruf dalam rangka menikah, tapi jawaban “Ya saya belum tahu, untuk dijadikan isteri atau teman.” dari lelaki itu justru langsung membuat saya mencoret dia dari daftar the-man-I’am-looking-for.

Kenapa?

Yaiyalah, jelas saya tolak. Bagi saya yang namanya taaruf ya jelas tujuan utamanya adalah untuk menjadikan seseorang itu sebagai partner hidup kita. Get married! Bukan malah masih bimbang antara teman biasa atau teman hidup. Meskipun, memang pada akhirnya kita memang tidak tahu pasti apakah proses taaruf itu akan berhasil atau gagal. Karena taaruf hanyalah bagian dari ikhtiar kita, bukan keputusan final. Tapi bagi saya, jawaban atau pemikiran seperti itu menunjukkan kalau seseorang itu belum siap dengan “siapa(pun)” yang akan berproses dengannya.

Bagi saya, menikah adalah keputusan besar. Taaruf bukan untuk sekedar main-main, mencoba semua yang datang untuk mencari jodoh. Taaruf bukan ajang seleksi, tapi ikhtiar. Saya pun masih belajar, untuk mengikhlaskan diri pada siapapun yang Alloh takdirkan untuk saya. Ihhh, suka ngeri ngebayangin siapa jodoh saya nanti. Cuma berharap, dia adalah yang saya cari selama ini dan akhirnya Alloh memang mempertemukan kami meskipun jalannya berliku seperti sirkuit balap motor hihihihi #gubrakkkk#.

Intinya, kalau mau menikah musti dipikir dan dipertimbangkan masak-masak. Bener-bener harus menyiapkan proposal hidup yang meyakinkan, yang menggambarkan 5W+1H-nya kita. Jangan asal sradak-sruduk, apalagi hanya karena ada yang datang. Tetapi menikah karena memang kita sudah siap dengan segala kehidupan pasca pernikahan. Taaruf adalah bagian ikhtiar dari sebuah pernikahan, dan kesiapan untuk “mengenal” seseorang pun harus menjadi bagian di dalamnya. Taaruf bukan ajang coba-coba!

In the end, just pray and hope, menikah hanya sekali seumur hidup dengan seseorang yang kelak akan menjadi imam saya di dunia dan di akhirat. Lelaki duniaku dan akhiratku. Amiinnn.

Menjelang petang dengan segenggam asa :)

13/02/2011 05:36 PM

Friday, November 26, 2010

Cintaku, Bukan Cinta Biasa



Ciiiintakuuuu bukanlah ciiinta biiiiasaaaa Jika kamu yang memilikiiiiii*

Banyak orang mengungkapan cinta dengan berbagai gaya.

Semua orang punya gaya sendiri-sendiri.
Ada yang romantis, ada yang narsis, ada yang cuek, ada yang malu-malu.

Ah biarlah cinta diungkapkan dengan banyak bahasa.

Karena dengan begitu, dunia ini akan lebih berwarna.

Dan itu sah-sah saja.


*eits, jangan lupa kalau cinta itu luas, bukan hanya perasaan antara lawan jenis. tolong pahami itu*

Cinta bisa diungkapkan dengan ekspresi bahagia dan rasa suka.

Dan ini adalah hal biasa.

Sangat biasa.

Tapi cinta bisa juga diungkapkan dengan kesedihan, kemarahan, kekecewaan.
Ini cara yang mungkin tak biasa.

Ketika seseorang kecewa dengan sikap kita, mungkin itu adalah ekspresi cintanya pada kita.
Bisa jadi.


Ketika seseorang menyakiti hati kita, mungkin itu adalah ekspresi cintanya pada kita.

Karena, amat beda tipis antara benci dan cinta.


Cintaku ini bukanlah cinta biasa, yang kuungkapkan dengan cara tak biasa.
Dan aku yakin kau tahu bagaimana harus menangkapnya dengan genggaman yang tak biasa pula.
Ah, ini hanya soal sesuatu yang tak biasa.
Pahamilah.


Cintaku ini, bukan cinta biasa!


geje gerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr 27112010
#kepikiran sesuatu yang tak biasa#

Friday, October 8, 2010

m.e.n.y.u.k.a.i

pada akhirnya
saya sadar
bahwa
saya tidak bisa memaksa
diri saya
untuk menyukai
sesuatu yang tidak saya sukai


_that's my way, please understand me, just it_

Tuesday, February 2, 2010

show me the meaning of being LONELY

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono
Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia
Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa
Dan untuk berapa lama tidak penting
Ia sudah tahu cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil
Agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang
*sedikit mengutip Recto Verso-nya Dee*

..................
So many words for the broken heart
It's hard to see in a crimson love
So hard to breathe
Walk with me, and maybe
Nights of light so soon become
Wild and free I can feel the sun
Your every wish will be done
They tell me...

Show me the meaning of being lonely
Is this the feeling I need to walk with
Tell me why, I can't be there where you are
There's something missing in my heart

*Mendengarkan lagu ini ... mellow-mellow gimana gitu (hahaha).

Maha Suci Alloh yang telah menciptakan makhluk di bumi berpasang-pasangan, dengan jodohnya masing-masing.
*Kalimat pembuka yang terlalu serius. ^^

Kini ada jeda ... sebentar saja, tak apa kan?
*menghela napas panjang, melanjutkan bait berikutnya dengan gaya penulisan yang aneh hihi*

Setelah tadi siang, mendapatkan kembali berita mengejutkan (bahagia, red) dari seorang kawan yang sebentar lagi akan melangkah menuju fase hidup yang baru bersama lelaki pilihannya. Seorang lelaki yang (tentunya) ia harapkan bisa menjadi seorang imam di hidupnya yang baru. Seorang lelaki yang bersamanya, ia akan bisa membangun rumah di surga-Nya.
Saya turut berbahagia, sungguh.
Senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangggggggggggnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ..... ^^V
*hiks ... terharu (???)

Satu persatu teman saya (yang seangkatan tentunya, red) mulai berani mengambil keputusan untuk menjalani hidupnya bersama seorang sahabat sejati. That’s the great!
*standing applause for them ^^V, nggak bermaksud lebay

Sebenarnya, bukankah itu hal yang biasa? Maksud saya, pernikahan adalah sesuatu hal yang biasa, yang (insya Alloh) pasti akan dijalani oleh setiap orang. Hanya saja, ketika teman-teman saya yang sebaya yang menjalaninya, saya merasa itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Bayangkan, biasanya saya bermain (dalam arti sungguhan, red) bersama mereka dan tumbuh dewasa bersama mereka juga. Belajar kelompok di SMP, SMA atau saat di Kampus. Atau sekedar jalan-jalan menenangkan pikiran di saat tugas kuliah menggunung. Tertawa bersama, menangis bersama dalam pelukan. Saling menasehati, saling menyemangati, saling mendoakan. Melakukan hal-hal gila bersama, hal-hal ajaib yang selalu akan dikenang.

Kini, sebagian dari mereka telah sungguh-sungguh dewasa, mungkin lebih dewasa dari saya (bukan sekedar tua^^). Saya tahu, suatu saat hari seperti ini akan tiba. Hari dimana harus bersedia melepaskan sahabat-sahabat saya untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Hari dimana akan menjadi hari paling sakral di seumur hidupnya. Hari dimana kebijakan dan kedewasaannya akan lebih banyak diuji. Hari dimana mereka berhak menjalani hidup mereka sendiri. Dan meskipun dari semua itu, saya harus menanggung rasa kehilangan. Ah, tak mengapa jika sahabat saya menjadi bahagia karenanya. Toh, saya nggak kehilangan sahabat saya sepenuhnya, karena saya yakin persahabatan bukan sekedar bertemu secara fisik, tetapi persahabatan adalah bagaimana menyediakan sebuah ruang di hati untuk tempat singgah seorang sahabat. Dan saya akan selalu membawanya di hati saya (nggak bermaksud nggombal ^^).

Di usia yang segini, twenty three, kadang saya juga heran. Heran dengan mereka yang seusia dengan saya telah berani mengambil langkah besar, menikah. Mereka, kalian, keren!!! Saya bukannya iri atau cemburu dengan mereka (buat apa cemburu?), tidak sama sekali. Justru saya bahagia, senang.

Berulang kali saya mengatakan bahwa menikah adalah sebuah langkah besar. Karena menikah; hidup dengan seorang lelaki yang sama sekali belum pernah dikenal, menyambut suami di tiap pagi dan petang dengan senyum termanis, having children, hidup dengan mertua, melakukan semua pekerjaan rumah tangga, perlahan meninggalkan kehidupan bermanja orangtua, wowww! Saya berpikir, bagaimana mereka bisa memikirkan semua itu?

Saya (sungguh) nggak merasa cemburu sedikitpun, kemudian harus memaksakan diri menikah secepatnya. Menikah cepat-cepat hanya karena takut tersalip adik tingkat??? Oh, betapa bodohnya saya jika melakukan itu! Saya pikir, Alloh pasti sudah mempunyai rencana indah untuk setiap hamba-Nya. Just pray and do it! Lagipula, menikah bukan sekedar mampu, tapi juga mau. Menikah juga butuh persiapan, lahir dan bathin. Menikah bukan sekedar menerima lamaran seseorang, tetapi memantapkan hati. Right?

Di usia yang kepala dua, kenapa setiap orang selalu bertanya tentang when will you get married? Kenapa tidak bertanya, “Cita-citamu apa? Prestasi apa yang sudah kamu hasilkan? Untuk apa kamu hidup?” Tidakkah membosankan pertanyaan kapan nikah, padahal usia kita (saya, red) masih dua puluhan lebih dikit (hehe). Oke, saya sepakat dengan menikah muda, that’s the legal’s choice for everyone. Tetapi, kembali ke setiap individu yang saya yakin setiap dari kita punya banyak wishlist, punya banyak harapan dan cita-cita yang ingin diraih. Saya sendiri, saya punya target, saya punya keinginan, saya punya harapan, and I wish I hope it. Dan tentang menikah, bukan cuma mindset tentang tanggal menikah atau tentang anggaran menikah yang perlu diributkan, tetapi juga tentang apa yang ingin dicapai dari sebuah pernikahan. What is the wish of marriage? What is the goal of it?

Jadi, kalau ada yang tanya : “KAPAN NIKAH?”, saya hanya punya jawaban : “Segera, setelah saya menemukan seseorang yang tepat. Segera, setelah hati saya mantap.” (di usia berapa, hanya saya dan Alloh yang tahu) Sebenarnya saya kurang suka membahas tentang masalah ini, karena saya pikir the life’s goal isn’t just married with someone. Masih banyak hal lain yang harus dilakukan, terutama sebagai seorang lajangers. Toh, kita sebagai manusia punya hak untuk melakukan apa saja yang kita inginkan dan kapan kita ingin melakukannya.

Apapun itu, saya amat sangat bahagia melihat teman saya satu persatu mulai menggenapkan dien-nya dengan seseorang yang menjadi pilihannya. Saya hanya bisa berdoa semoga Alloh memberkahinya. Dan insya Alloh, saya akan menyusul. Segera.

*koleksinya Backstreet Boys, hihihi

Solo, 02022010
*show me the meaning of the being lonely, nitip selamat ya buat 2 sahabatku dan seorang kakak yang sebentar lagi akan menggenapkan dien-nya ... Barokallohufiikum*

Thursday, October 15, 2009

Jika bukan dia

_sedikit terinspirasi dari beberapa moment-moment manis di sekitarku (dan mungkin aku sendiri qqq)_

Apa yang kau sebut sejati jadi milikku kini
Karena apa yang kau cari tak perlu kau miliki
Sekeping damai surga yang hadir di jiwa
Jadi milikmu selamanya dengan mencintaimu

Cintaku mengalir tak akan berakhir
Tak perlu kau mengerti arti ketulusan ini
Cintaku mengalir tak akan berakhir
Tak perlu kau pahami arti keyakinan ini
Arti ketulusan ini
Arti keyakinan ini
_hmmm, suka banget lagu ini_

Mungkin ini musim orang jatuh cinta, makanya aku juga nulis tentang CINTA .... hah!

Kalian pernah merasakan apa yang orang-orang sebut dengan “JATUH CINTA” ....?

Pasti pernah, meski hanya cinta monyet (tuh kaaaan, monyet aja bisa jatuh cinta ... qqq). Mungkin pas jaman SD pernah suka sama teman sendiri sampai akhirnya ketika telah beranjak dewasa memutuskan untuk patah hati dengan kesadaran sendiri. Kenapa? Karena si pujaan hati telah menjadi primus (pria mushola, red) alias tobat duluan. Atau kisah lain, suka dengan pelatih bela diri (hehe) sampai akhirnya patah hati (juga) karena si pelatih sudah punya gebetan sendiri (lebih tragis).

Jatuh Cinta ya ...???

Kupikir, wajar! Perasaan suka itu fitrah manusia, asal bukan ke sesama jenis (hiiyyyy). Cinta adalah anugerah terindah dari Alloh yang diberikan kepada manusia. Tinggal bagaimana si manusia mengelola cinta itu.

Saat jatuh cinta, cara mengekspresikannya juga berbeda-beda. Ada yang dipendam di dalam hati saja, bahkan sampai mati tak berani mengutarakannya. Ada yang secara ekspresif langsung diungkapan, bahkan hampir seluruh dunia tahu. Bahkan ada yang sampai “gila” karena cinta.

Sekalinya jatuh cinta atau suka dengan seseorang, sebagian pasti menginginkan bahwa kelak seseorang tersebut yang akan menjadi pendamping kita kelak. Dia yang kelak akan kita ajak membangun peradaban baru di bumi Alloh ini. Dia yang kelak akan menjadi partner kita baik dalam suka maupun duka. Dia yang akan menjadi sandaran hati kita, dan hanya dia yang akan selalu ada di hati kita. Manisnyaaaaa ...... Karena dia yang kelak akan menjadi satu-satunya yang halal bagi kita.

Ya.
Ada yang berpikir seperti ini, “AKU TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN SIAPAPUN, KECUALI DENGAN DIA” (hororrrrr!!!).

Sampai-sampai berdoa seperti ini:
Ya Alloh, kalau memang dia jodohku maka dekatkanlah
Kalau memang dia bukan jodohku maka jodohkan kami
Atau kalau memang kami benar-benar tidak berjodoh, jangan beri dia jodoh!
_tweeewww ... saiko!_

Lantas, jika ternyata Alloh berkehendak, seseorang itu bukan DIA ....? Bukan seseorang yang sejak dulu kita idam-idamkan. Bukan seseorang yang dulu sangat kita inginkan. Bukan seseorang yang dulu, kita pernah jatuh cinta padanya dan menaruh asa padanya. Karena ternyata, cinta kita padanya bertepuk sebelah tangan. Atau sebaliknya.

Kecewa ?
Terluka ?

Itu wajar, manusiawi. Bukankah kecewa adalah hak seorang manusia. Terluka pun boleh saja. Bagaimana tidak luka jika ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan.

Lalu apa kita akan memaksanya untuk mencintai kita?

Tidak terpikirkah bahwa ternyata jika kita bersamanya, hanya akan menambah luka. Kita tak mendapatkan kebahagiaan saat bersamanya.

Satu kalimat,
Percayalah, bahwa INI ADALAH YANG TERBAIK DARI ALLOH. Berbaik sangkalah kepada Alloh, karena hanya Alloh yang paling tahu yang terbaik buat kita. Dan yakinlah, bahwa kita akan mendapatkan seseorang lain yang lebih dari dia. Seseorang lain yang akan memberi kita kebahagiaan dan membuat kita bersyukur karena Alloh telah mempertemukannya dengan kita.

Dan bisa jadi Alloh menjodohkan kita dengan orang lain, bukan karena Alloh tak hendak mengabulkan seluruh keinginan kita, tapi karena Alloh tahu jika kita bersama dengan seseorang yang begitu kita idam-idamkan maka kita tak akan mendapatkan kebahagiaan. Ya, tidak terpikirkah bahwa kita (mungkin) tak akan mendapatkan kebahagiaan jika bersamanya? Justru kita akan menemukan kebahagiaan dengan seseorang lain, yang mungkin sama sekali belum pernah kita kenal sebelumnya namun begitu mencintai kita dengan segala kekurangan yang kita punya (duh, manisnya .... ).

Hhmmpphhh ....
What’s the point ? :)
Patah satu, tumbuh seribu! (husss).

Berkhusnudzonlah terhadap semua kehendak Alloh. Yakinlah, bahwa semua itu adalah pemberian TERBAIK dari-Nya, termasuk dalam hal jodoh. Lagipula, kalau memang sudah jodoh, nggak akan lari gunung dikejar (dimana-mana, yang namanya gunung juga nggak bakalan lari kalau dikejar hehe). Mungkin tidak sekarang Alloh mempertemukannya dengan kita, entah esok atau lusa. Alloh yang paling tahu waktu yang tepat untuk kita bertemu dengan seseorang yang kelak kita yakini sebagai soulmate kita, SIAPAPUN dia.

Percayalah,
Jika bukan DIA, pasti akan ada seseorang yang lebih baik yang dipertemukan dengan kita. Alloh telah menuliskannya sejak sebelum dunia ini ada, kita hanya harus berdoa dan berusaha. Selanjutnya tawakkal-kanlah pada-Nya.

Ehmm .... ini hanya coretan kecil.
Untuk belahan jiwaku,
Sabar ya ...
Alloh pasti akan mempertemukan kita
Di saat yang tepat
Karena saat itu aku yakin
Untuk memilihmu
-xixixi, isin ah-


NB :
Didedikasikan untuk teman-temanku yang sedang “bergejolak” asa di hatinya, percaya deh : kalau memang sudah jodoh, dengan jalan apapun, kapanpun dan dimanapun, kalian pasti ketemu!

Aku siap mendengarkanmu, Cinta

Aku siap mendengarkanmu, Cinta

Pada intinya, kuputuskan untuk menutup semua celah.
Dia masih menggantung, tapi aku rasa aku tak perlu menanyakannya.
Biar dia yang putuskan sendiri.

Sip!
Aku mendukungmu.
Itu merupakan satu langkah untuk membuktikan apakah dia benar-benar serius, berani, dan bertanggungjawab.

Aku sadis?
Biar saja.
Sudah kuputuskan untuk berhenti memikirkannya.

Sadis itu beda dengan tegas, Cinta.
Biar tidak menggantung.
Sebelum harapan itu terlanjur membumbung.

15102009: 09;51

Tuesday, October 13, 2009

Memperjuangkan cinta!

Iya, aku setuju
Cinta tak perlu memiliki itu
Adalah cara berpikir yang salah

Seharusnya cinta itu diperjuangkan
Dan setiap orang pasti punya cara masing-masing
Untuk memperjuangkan cintanya
Di jalan Alloh

Sebelum semuanya terlambat
Dan kita akan menyesal
Seseorang bilang, “go get her/ him”

Karena kita
Tak akan pernah tahu rasanya
Kalau belum mencobanya



_abu-abu_
12102009: 21;32

Tuesday, September 29, 2009

CATATAN HATI 3

Alloh,
Kenangan itu memang terlalu pahit
Bahkan untuk dilupakan
Saat coba disingkirkan
Dia selalu datang
Dan datang lagi
Seperti air yang melebihi batas normalnya
Hingga membanjiri seluruh kanal hati
Dan aku hanya bisa menangis perih
Kenangan, kenangan, kenangan
Hanya itu yang aku punya ...

CATATAN HATI 2

Duhai Pemilik Hati,
Baru kusadari betapa ringkihnya sebuah hati
Hanya satu panah cupido evil
Membuat sebuah lubang di hati
Ajari aku bagaimana mencabut panah cupido
Agar lubangnya tak bertambah besar
Jangan biarkan busurnya mengarahkan anak panahnya lagi
Tepat di jantung hati
Karena hati takut tak bisa mengelak lagi
Kumohon ...

CATATAN HATI 1

Alloh,
Apakah salah jika hati ini mengarah pada selain-Mu?
Apakah salah jika hati ini mengharap pada selain-Mu?
Aku ingin tahu jawaban sejujurnya
Apa boleh, Alloh?
Karena aku terlanjur membuat noda di hati ini
Dan aku tak tahu, apa masih boleh aku membersihkannya
Aku hanya ingin terlanjur cinta pada-Mu
Pada-Mu ...

Alloh,
Aku takut buruknya hati ini memberi efek pada arah kehidupanku selanjutnya
Tapi apa menyukai seseorang itu menandakan buruknya hati?
Bukan kukira
Adalah hak tiap manusia untuk melabuhkan hatinya pada seseorang
Dan apa aku juga punya hak untuk melabuhkan hatiku pada sebuah dermaga bernama cinta?
Aku hanya masih ragu,
Apa ini benar?

Solo, 23 Februari 2009

Tuesday, September 15, 2009

Perlihatkan apa yang kamu bisa!

Kamu sudah susah payah datang ke sini.

Kuberi kamu kesempatan.

Kira-kira sejauh apa kamu bisa mengagetkanku.

Aku tak akan lari atau sembunyi.

Silakan saja kalau mau 'balas dendam'.

Kuberi tahu, kamu tak akan bisa melukaiku sekeras apapun kamu berusaha.


-hmm, show me the meaning of being lonely ... Backstreet Boys banget seh-

Sunday, November 2, 2008

GANDRUNG



28 oktober 2008 .. eh hari sumpah pemuda ya …

Bis magrib tadi lagi enak-enaknya ndengerin winamp …

Tuhan kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku dengan-Mu

Uhhhh …. So sweet banget sih liriknya … setelah a love to kill, ni lagu bener-bener membunuhku deh .. hiekkksss!!!
Lagi asyik dengerin muhasabah cinta gini, tiba-tiba ……..

Whuaaaaaaaaaaaaaaa ……………….!!!

Kaget tenan aku … jeritan dari ruang tipi.
Tahu nggak apa?
Ada Peterpan!!!
Watatataaaa ....!
Jadi ceritane ki, ada wabah ”peterpan” di kosku tercinta, sejak beberapa hari yang lalu. Gak tahu tuh pada kesambet apa ....

-tuing-tuing ...-

Heboh banget nih anak-anak kos semenjak konser terakhir peterpan yang katanya mau ganti nama (opo piye? Aku gak mudeng maksude ganti nama ... ra penting). Nah sejak itu, virus ”peterpan” tambah mewabah di kos. Anak-anak tambah gandrung ma yang namanya ariel, si vokalis ... wekssss!!! (tapi ku gak ikut-ikutan, gak seneng sih!)
Tiap ada peterpan langsung dah ada yang mengkomandoi buat nonton , ”Woiiiiiiiii ... peterpaners, ada peterpan ki!!!” langsung deh, pada nyanyi bareng ngikutin peterpan ... ada-ada aja. Wis, pokokny ruang tipi dadi rame!!!
Mbuh ki, gak ada angin gak ada hujan, eh anak-anak pada gandrung peterpen ... hare genee??

-hehehe...-

Nek aku pribadi sih, emang gak suka ma peterpan (maaf ya, peterpan ... ^.^ V) atau band-band lain yang sekarang ini ladi digandrungi sama anak-anak muda jaman sekarang. Gak mudeng juga sama perkembangan sekarang. Jadi sorri-sorri aja, mau lagunya sebagus apapun, namanya gak suka yo gak suka ... lebih enak dengerin lagu korea yang so sweet, mellow tapi ”dalem” banget maknanya .. hehe ... ato Muhasabah Cinta deh ...

-fufufufuu...-

Soale nek aku dhewe ki yo, emang rodo aneh .. disaat yang lain lagi gandrung ma band-band anyar dan sejenisnya, aku ki malah suka ma lagu-lagu jaman dulu ... yang menurutku masih rada alami .. (maksudnya? Dadi eling iklan Telkom yang telpooon ... telpooonn rumah ... bla bla bla ... lucu!).
Gini lho, nek sekarang, katanya lagu-lagu iku isine yo tentang perselingkuhan lah, pengkhianatan, wis semacam ikulah ... dipikir-pikir kasian juga bangsa Indonesia, ternyata sekarang kesetiaan mereka udah luntur ... maybe ... merasakan hal yang sama ?

-mesakke yow...-

Meskipun bagiku, tetep paling enak didengar yow nasyid lah!!! Hehe ... (apalagi nek ndengerin nasyidnya Izzis or JV, weh ... keren tenan ik!) mau haroki ... mau mellow ... or setengah haroki setengah mellow (maksude? Hehe) ... gak masalah lah, sing penting enak didengar .. ya kan?? Dan sesuai porsinya aja ... lebih enak lagi kalo dengerin murottal kan ya, nenangin ati dan pikiran. Alhamdulillah ....

-eh tapi yo seneng juga dengerin nasyid Korea lah ... wkwkwkwk ... nasyid Korea??? hihi -

Yah .. pilihan dan pendapat tiap orang emang beda. Ada yang sukaaa banget sama pop, regge ... opo dangdut ... ada yang suka nasyid ... atau yang antimusik sekalipun ... yang penting porsinya seimbang aja, nggak berlebihan aja. Meski musik terbaik adalah ayat-ayat cintaNya ...

-lagi belajar buat ninggalin musik” aneh ... hihihi-

Tapi betewi ki yo, ngomong-ngomong masalah musik, aku jadi inget something ...
Ada yang protes, udah jadi akhwat kok masih aja suka sama musik Korea ... hehe... nasyid dong ukh, nasyid! Lha ... gak masalah kalee .. daripada sama lagunya Trio Macan hayoouuu????

-wekekekek ... gak banget lah!!!-

Wislah ... selera orang emang beda, sing penting orang nggak merasa terganggu dengan seleraku ... hehe ...

-iki opo maksude??? .. mbuh lah .. ra penting-

Tiba-tiba ...
Na saranghaji mothage charai naui nuni molge heboril goshiji
we nega gudeui arumdaumul boge manduronunji
na ijen nomu nujoji gudenun imi neane pojyo
shiso neryohedo jiwoboryohedo kuthobshi on mome jomjom bonjyoman ga
jigumshig jichyogaji nomuna igsughan aphume
surojirago naui okkerul jidnurumyonso
sesangun marul haji nanun kumul kwosonun andoendago
amuron himangdo nowaui sarangdo negen horagdoeji anhun gorago

-wis ahh ... -