Showing posts with label poli(c)ik. Show all posts
Showing posts with label poli(c)ik. Show all posts

Saturday, March 19, 2011

bullshit

Saya nggak habis pikir dengan sistem hukum di Indonesia.
Makin bobrok aja.
Yang berkuasa, punya duit segentong, makin melenggang dengan leluasa.
Yang miskin dan nggak tahu apa-apa dengan mudahnya dijebloskan ke penjara.
Hukum macam apa ini?
Sumpah ya, logika saya nggak bisa jalan dengan hal yang satu ini.
Seorang relawan ditangkap hanya gara-gara bawa pisau lipat tanpa izin kepemilikan. Arif Johar, relawan Merapi yang juga tergabung di SAR.
Ini polisi-nya kurang kerjaan atau JPU-nya yang nggak punya otak???
Berita terakhir yang saya dengar, Arif Johar didakwa 5 bulan penjara dan denda Rp 1.000,-.

Faktanya di sidang, jaksa dan kepolisian aja nggak bisa jawab pertanyaan tentang institusi mana yang memberikan izin kepemilikan pisau lipat (multitools), so …???? Mau dicari apalagi kesalahannya?

Lebih menyedihkan lagi, lihat penampakannya Arif Johar. Kalem, sopan, huhuhuhu … miris.

Bener-bener hukum di Indonesia makin nggak mutu!
Bullshit lah dengan penegakan hukum!

Friday, February 18, 2011

antara sedih dan marah

Masih seperti malam-malam yang lalu.
Malam ini, rasanya seperti ingin meledak-ledak.
Marah, sedih.
Semua bercampur menjadi satu.
Rasanya kelu.
Melihat twitterland penuh dengan twitwar.
Semua media menjadi sampah!
Dan itu semua tentang agama-Mu.
Tidak ada kesabaran ketika agama-Mu dicaci.
Sungguh, rasanya saya ingin melaknat mereka, yang telah mencaci kesucian agama-Mu.
Saya tak rela, ya Alloh.
Bolehkan?

Tragedi akal-akalan di Cikeusik, itu.
Semua sungguh tak masuk logika.
Gilanya, media massa dan elektronik begitu cantik memainkan kata.
Pembunuhan kecil mereka sebut dengan pembantaian.
Genosida?
Bullshit!!!!
Hanya orang bodoh yang percaya hal itu.
Ditambah bumbu-bumbu kebencian para liberalis, lengkap sudah mereka menghinadinakan Islam.
Mereka lecehkan, hina, dan fitnah keji terhadap para ulama yang sungguh masih kami tsiqohi sebagai penolong agama-Mu.
Lebih gila lagi, media massa dan elektronik menggiring masyarakat untuk ikut membenci para ulama,
Astaghfirullahal’adziim …
Kaum kafir bersuka cita untuk goyahnya persaudaraan muslim.
Iblis dan syaithon begitu gembira berhasil mengubah manusia-manusia itu menjadi pengikutnya.

Ya Alloh …
Mereka sedang menggugat syariat-Mu
Mereka menebarkan fitnah atas agama-Mu
Mereka melecehkan para penolong agama-Mu
Mereka mencaci agama-Mu
Mereka mengobarkan perang terhadap-Mu duhai Rabbi …

Rasanya, saya benar-benar dalam kemarahan luar biasa.
Tidak ada kesabaran untuk agama yang sedang dicaci ini
TIDAK ADA!

faghifirli ya Alloh … yang tak cukup menjadi penolong agama ini
12/02/2011 12:54 AM
*midnight-bujangan-feels like insomnia*

Kepengecutan Media

Tadi pagi nggak sengaja lihat tayangan rutin si tivi OON dan ngakak-ngakak abis. Sumpah, lucu banget! Mungkin ada yang nonton juga?

Kebetulan itu tivi lagi ngebahas insiden Cikeusik. Seperti biasa, anchor/ presenternya bakalan habis-habisan membela kebathilanlebai. Memang ini tivi berusaha mengekspose kejanggalan-kejanggalan di insiden Cikeusik itu, tetapi sangat aneh ketika mereka berusaha menggiring kacamata publik ke satu kelompok ormas tertentu dan menimpakan kesalahan pada ormas tersebut. Padahal belum ada fakta atau bukti yang menguatkan, bahkan mungkin memang tidak ada. Sebelas-dua belas dengan pemberitaan di metromini tivi, yang bahkan anchor-nya menyebut insiden Cikeusik sebagai PEMBANTAIAN. Wah, ini sih namanya lebai akut bin kronis! Wajar aja sih, masalah-masalah penyimpangan aqidah muslim ini memang menjadi sasaran empuk bagi kaum sekuler dan liberal dengan memanfaatkan media untuk menggiring opini publik. Salah satunya ya, stasiun tivi yang nggak pernah absen mencari celah kesalahan para muslim yang beramar ma’ruf nahi mungkar. Terlalu banyak kalau harus dibeberkan satu persatu, saya kira masyarakat sekarang cukup cerdas untuk menilai kredibel atau tidakkah media tersebut. dan mengarahkan opini publik ke jalan yang

Dan tumben-tumbennya pagi ini tivi OON mengundang narsum (narasumber) yang “bener”. Biasanya ini tivi paling seneng kalo mengundang narsum yang nggak kompeten di bidangnya dan nggak kompeten di topik yang sedang dibahas. Lebih nggak logis lagi, ini Tivi juga suka mengundang ustadz jadi-jadian kayak tempo hari. Saya aja heran, emangnya ini tivi nggak takut kena “kutukan” apa?? Apa mereka nggak ingat dengan kasus “MARKUS” yang sudah mencoreng kredibilitas mereka sebagai News Television?? Oh my …

Nah karena narsum tadi pagi itu ada yang “bener”, makanya saya tertarik buat nonton. Tadi itu narsumnya 3 orang. Satu dari kepolisian (intelijen ato apa saya kurang paham), satu dari komnas HAM, dan satu lagi dari TPM (pak Mahendradatta). Dan seperti biasa, kedua anchor/ presenternya mengarahkan opini publik tentang insiden Cikeusik kemarin dengan mengajukan pertanyaan yang menyudutkan masyarakat muslim. Kelihatan banget itu anchor-anchor pengen ngomong “ini lhoooo, yang salah itu ya masyarakat non-ahmadiyah… titik!”. Gila aja tuh anchor, ngomong nggak pake logika dan fakta di lapangan. Prinsipnya, attack, attack dan attack! Untungnya, yang diundang sebagai narsum itu pak Mahendradatta (yang saya tahu betul kredibilitas beliau) yang akhirnya membeberkan banyak fakta di lapangan. Bahkan beliau sampe bilang “ahmadiyah itu sesat”, yang kalo saya lihat masih banyak itu para tokoh muslim/ ulama yang ragu-ragu dan nggak berani ngomong sesat-nya ahmadiyah di media padahal jelas-jelas kesesatannya. Wow? Hidup TPM! Hidup Pak Mahendradatta! ^^b

Saya seneng banget lihat diskusinya tadi pagi. Bersyukur banget, lihat pak Mahendradatta tampil di tivi OON dan akhirnya membeberkan semua fakta di lapangan (meskipun belum semuanya) yang mungkin selama ini tidak terekspose oleh media. Dan tahu nggak yang bikin ngakak? Semua statemen yang dikeluarkan oleh beliau membuat narsum lain wabilkhusus kedua anchor Tivi OON pada speechless (padahal biasanya kedua anchor ini terkenal paling suka memojokkan narsum hahaha), bingung mau meng-counterAnchor yang cowok aja diem, biasanya cerewetnya minta ampun dan suka memotong pembicaraan. Anchor yang cewek berkali-kali berusaha membelokkan, tapi yang keluar akhirnya cuma angguk-anggukan kepala. Hahahahhahahahahhahahah, beneran membuat saya terpingkal-pingkal. Sampai butuh banyak jeda iklan untuk menghentikan komentar beliau sebagai narsum. pernyataan beliau dengan apa.

Wakakakkakakakakak, saya puaaaaaaaaaaaaaaaaaaasssssssss banget ngelihatnya.

Paling nggak, masyarakat bisa menilai dengan lebih jernih permasalahan yang sebenarnya. Bukan hanya melihat akibat yang timbul, tapi juga SEBAB dari masalah tersebut, akarefek domino. Soalnya, selama ini kita seringkali melihat sebuah permasalahan hanya dari akibat yang muncul saja. Dan lebih parahnya lagi, suara mayoritas seringkali dijadikan patokan mutlak. Padahal suara mayoritas tidak selalu benar. Masyarakat kita kurang kritis tentang nilai mayoritas. Senang menjadi pengikut, ketika banyak yang memilih A maka kita akan memilih A dan menjadikan A sebagai patokan yang paling benar dan bernilai mutlak. Padahal dalam hal mayoritas dan minoritas berlaku hukum relativitas. Nggak semua yang BANYAK itu pasti BENAR, atau nggak semua yang SEDIKIT itu pasti SALAH. Nggak ada teorinya kalau benar-salah masalah tersebut yang kemudian memberi atau baik-buruk itu berbanding lurus dengan banyak-sedikit.

Nah, masyarakat harus lebih cerdas menerima info yang masuk. Apalagi dari media cetak dan elektronik. Masyarakat begitu mudah digiring opininya dengan pemberitaan berlebihan dan tidak relevan hingga lupa akar masalah yang sebenarnya. Dan mau nggak mau, harus kita akui bahwa media SANGAT SANGAT SANGAT berpengaruh terhadap kekuasaan. Bukan cuma pundit-pundi uang, tetapi juga KEKUASAAN. Faktanya, hampir tidak adaYang ada justru pemberitaan berlebihan, pengalihan opini bahkan pemutarbalikkan fakta! media (khususnya elektronik) yang benar-benar berani menyuarakan kebenaran.

Untuk insiden Cikeusik ini, saya pribadi pun tak pernah sepakat dengan yang namanya jalan kekerasan. Tapi bagi saya, tidak ada kompromi untuk aqidah! TIDAK ADA TAWAR-MENAWAR DALAM AQIDAH!

Well, ini Indonesia kawan! Jangan mau dibodohi oleh media!

Selepas dhuhur, 14/02/2011 01:40 PM

Tuesday, October 13, 2009

Teroris?

Sampai saat inipun, aku masih tak percaya dengan apa yang diberitakan di media massa tentang apa yang mereka sebut sebagai teroris. Entahlah, dengan banyaknya berita yang simpang siur dan bukti-bukti yang kurasakan kian aneh.

Apakah ini hanya akal-akalan segelintir musuh Islam yang sengaja memberangus Islam?? Wawallohu’alam bishowab

Kelak, suatu saat, semuanya akan terungkap dengan jelas.
Saat dimana hanya Alloh yang berhak memutuskan salah atau benar.
Saat itulah manusia akan menyesal, dengan perbuatannya terdahulu.

_semoga aku bukan termasuk orang yang merugi ... amin_
12102009: 21;26