Monday, October 27, 2008

Jangan Tolak Cintaku

By : Karima Al Fathiyya

sekedar info nih cerpen pernah dimuat di majalah SAHABAt hehe ..

Karima sedang membereskan ruangan tempatnya mengajar. Ruangan yang penuh dengan gambar berwarna-warni khas anak TK itu terlihat sedikit berantakan. Anak-anak TK yang diajarnya tadi sudah pulang lebih dulu. Sekolah TK itu kelihatan lebih sepi karena para guru dan juga kelas yang lain sudah pulang 5 menit yang lalu. Hanya tinggal seorang satpam dan tukang kebun.

“Assalamu’alaikum …”

Karima menoleh.

“Waalaikumsalam warahmatullah …”

Betapa terkejutnya Karima ketika mendapati siapa orang yang kini sedang berdiri di hadapannya dan mengucapkan salam padanya.

Panji ?

Sesaat keduanya terpaku dalam keheningan.

“Apa kabar ?” tanya lelaki berkacamata minus itu sedikit kaku.

Karima tersenyum tipis.

“Alhamdulillah baik. “

Suasana kembali hening. Dan kaku.

Ah … aku tak suka dengan suasana seperti ini. Kumohon, Panji … pergilah.

“Bolehkah aku berbicara sebentar denganmu?” tanya lelaki bernama Panji itu.

Karima menghela napasnya pelan.

Kenapa kau harus datang lagi?

***

Sudah hampir dua bulan Karima menganggur, tanpa pekerjaan tetap. Gelar SE (Sarjana Ekonomi) yang disandangnya pasca wisuda dua bulan yang lalu ternyata belum mampu memberikannya pekerjaan. Beberapa perusahaan besar dan kecil dimasukinya surat lamaran tetapi tak satupun yang menerimanya bekerja disana. Sebagian besar menyatakan keberatan karena jilbabnya terlalu lebar dan panjang. Terkadang Karima tak habis pikir, apa yang salah dengan jilbab lebarnya? Apa hubungannya jilbab dengan pembukuan dan administrasi perusahaan? Salahkah jika seorang muslimah hendak menegakkan kewajiban agamanya? Entahlah, mungkin mereka risih melihat jilbab lebar milik Karima. Tapi Karima tetaplah Karima, gadis cantik yang tak pernah menyerah dengan keadaan apapun. Dirinya sudah tertempa begitu kuatnya, apalagi sejak ayahnya meninggal ketika Karima masih berumur 15 tahun. Kalau tidak ingat akan tanggungan hidup ibu dan ketiga adiknya, Karima tentu tak mau menerima pekerjaannya yang sekarang.

Hari ini adalah hari pertama Karima bekerja di rumah keluarga Hermawan Kuncoroningrat, salah satu keluarga terkaya di kotanya. Karima diterima bekerja di keluarga itu menjadi asisten pribadi putra tunggal keluarga itu.

Karima sedang berhadapan dengan sang pemilik rumah, Nyonya Hermawan.

“Jadi tugasmu nanti hanya khusus melayani dan menyediakan segala keperluan putraku saja. Untuk urusan memasak dan yang lainnya, biar pembantu yang lain yang mengurusnya.”

Karima mengangguk pelan.

“Mulai hari ini kamu bisa bekerja. Ingat, tugasmu hanya melayani putra tunggalku saja. Dan semoga kamu betah disini, Nak Rima.”

Karima tersenyum.

Tiba-tiba seorang lelaki muda dengan penampilan yang sedikit berantakan datang dan tanpa mengucap sepatah kata pun, lelaki itu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika Nyonya Hermawan memanggilnya.

“Panji !”

Lelaki muda yang ternyata bernama Panji itu berhenti.

“Ada apa sih, Ma?” tanya lelaki itu dengan santainya.

“Sini sebentar !”

Inikah Tuan Muda itu?

Panji turun dan menghampiri Mamanya.

“Panji, kenalkan ini Karima. Nanti dia yang akan mengurusi segala keperluanmu. Dan Karima, ini Panji, anak Ibu satu-satunya yang tadi Ibu ceritakan.”

“Ma, ngapain sih pakai baby sitter segala? Kayak anak bayi aja!” Panji protes.

Baby sitter? Aku? Siapa yang mau jadi baby sitter …?

Karima terdiam di tempat duduknya. Kepalanya sedikit menunduk.

“Dia bukan baby sitter, Panji. Dia adalah asisten pribadimu. Bedakan itu !”

“Terserah lah, Ma.” ucap Panji seraya meninggalkan Mamanya dan Karima.

Nyonya Hermawan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak kesayangannya itu.

“Rima, kamu harus sabar ya menghadapi Panji. Dia memang seperti itu. Dia ... bla ... bla ...” Nyonya Hermawan tampak begitu bersemangat menceritakan putra tersayangnya itu.

Karima tersenyum tipis.

Ya … mungkin benar katamu, Tuan Muda. Aku akan menjadi baby sitter ... paling repot di dunia. Karena aku harus menghadapi bayi sepertimu …

Karima mendesah pelan.

***

Tok! Tok! Tok!

Panji membuka pintu kamarnya. Tampak seorang gadis berjilbab lebar berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah nampan berisi segelas susu putih dan sepiring nasi goreng dengan sedikit taburan bawang goreng di atasnya.

“Ngapain sih pagi-pagi udah gangguin orang?”

Karima sedikit kaget mendengar omelan Panji.

“Maaf , Mas Panji saya hanya mau mengantarkan sarapan pagi.” ucapnya seraya menunduk.

Panji mengambil nampan itu dan membawanya ke dalam kamar. Kemudian pintu kamar langsung ditutupnya. Dan Karima hanya mampu mengelus dada melihat sikap dingin Tuan Muda-nya itu.

Ketika Karima hendak membalikkan badannya, Panji membuka pintu kamarnya kembali dan memanggilnya.

“Hey, lain kali makananku nggak perlu dianter. Aku bisa turun ke bawah.”

Brakk!!!

Karima kaget ketika Panji menutup pintu kamarnya dengan kasar.

Maunya gimana sih? Bukannya yang menyuruhku untuk membawa makananmu ke kamar adalah kamu sendiri?

Karima mendesah pelan.

Allohu Rabbi ... beri hamba kekuatan ...

Sudah hampir seminggu lebih Karima bekerja di rumah besar berarsitektur megah itu. Karima berusaha melayani majikan muda-nya itu dengan sebaik-baiknya karena bagaimana pun juga Karima tetaplah pegawai di keluarga itu. Terkadang Karima merasa jenuh dan ingin keluar dari pekerjaan itu. Tetapi jika mengingat ibu dan ketiga adiknya di rumah, Karima mengurungkan niatnya. Karima sadar bahwa dia lah yang butuh pekerjaan itu. Meskipun kadang dia harus menerima perlakuan dingin dari Tuan Muda-nya itu. Seperti pagi ini, Panji sepertinya tidak suka ketika Karima mengantar sarapan paginya ke kamar. Padahal Panji yang memintanya sendiri beberapa hari yang lalu, tapi sekarang malah menyuruhnya untuk tidak mengantar sarapan paginya ke kamarnya.

***

Panji sedang menikmati segarnya udara pagi di balkon rumahnya. Jam dinding di kamarnya masih menunjukkan pukul 04.30 WIB. Sehabis shalat subuh, Panji memulai aktivitas barunya yaitu menghirup udara segar di balkon rumahnya. Secara perlahan Panji memang mulai terbiasa bangun pagi. Biasanya dia selalu bangun kesiangan hingga tak jarang shalat subuhnya pun bolong-bolong. Tapi semenjak Karima bekerja di rumahnya, Panji terlihat lebih rajin. Shalatnya tak lagi bolong-bolong bahkan perlahan sikap dinginnya mulai berubah. Lelaki muda yang kini sedang menempuh studi S1-nya di salah satu perguruan tinggi di Surakarta itu, mulai terbiasa dengan kehadiran Karima sebagai asisten pribadinya.

Panji menuruni anak tangga pelan-pelan. Dilangkahkan kakinya menuju dapur dan membuka lemari es. Kemudian diteguknya segelas air minum dingin yang diambil dari lemari es yang ada di dapur. Ketika hendak menuju taman yang ada di belakang rumah megah itu, kakinya terhenti sejenak karena mendengar suara bening melantunkan ayat-ayat Allah dari kamar Karima. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Ditengoknya sekilas kamar asisten pribadinya itu. Tampak Karima sedang tilawah dengan masih mengenakan mukena putihnya. Karima tak sadar kalau ada seorang lelaki yang sedang memperhatikannya.

Gadis itu sangat berbeda dengan gadis lainnya yang pernah kukenal. Penampilannya yang aneh, jilbab panjang, kaos kaki, baju yang tertutup rapat, cara salaman yang berbeda … Setiap hari selalu bangun lebih awal. Shalat dan mengaji ... tetapi selalu diam jika kumarahi.

Untuk beberapa detik lamanya, mata Panji tak lepas dari sosok Karima yang sedang mengaji.

Apa aku terlalu jahat ya sudah memarahinya setiap hari? Padahal sebenarnya dia nggak salah … emm .. sebenarnya dia juga cantik sih … ah kenapa aku jadi melankolis seperti ini ??

Panji mendesah pelan.

***

“Rima!”

Panji melemparkan tas punggungnya ke atas tempat tidurnya.

“Rima!”

Karena merasa tak ada sahutan, Panji turun ke bawah. Di ruang makan, tampak Mama-nya sedang menikmati makan siangnya. Panji langsung mengambil tempat duduknya dan menyantap makanan yang ada di hadapannya.

“Rima kemana, Ma?”

“Pulang.” Jawab Mama-nya singkat.

Panji terkaget-kaget mendengar jawaban dari Mama-nya.

“Kemana, Ma? Kok nggak bilang-bilang ke aku? Nggak ijin lagi!” tanyanya seraya mengambil sepotong sosis ayam kesukaannya.

Wanita berumur hampir 45 tahun itu tersenyum.

“Satu-satu dong kalau tanya. Panji, Rima pulang ke rumahnya karena Ibu-nya sakit. Jadi tadi dia minta ijin sama Mama untuk berada di rumah selama seminggu.”

Seminggu?

Panji tersedak. Segera diteguknya segelas air putih yang ada di samping kanannya.

“Kamu kenapa? Makanya kalau nelan makanan itu hati-hati.”

Panji meringis.

Kenapa tiba-tiba aku merasa kehilangan … ?

***

Panji sedang rebahan di atas tempat tidurnya. Matanya menerawang langit-langit di kamarnya. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Hhh …

Kenapa aku ini? Kenapa aku kepikiran terus dengan gadis itu? Apa istimewanya sih dia sampai-sampai bayangannya seakan mengikutiku kemanapun aku melangkah. Oh My God … aku bisa gila kalau begini terus!

Panji membuka laci meja yang ada di samping kanan tempat tidurnya. Diambilnya sebuah bingkai kecil berwarna hitam polos. Ada foto seseorang disana. Seorang gadis manis dengan jilbab putih bermotif bunga tulip warna hitam.

Inikah yang namanya cinta? Hatiku bergetar kala menatap bola matanya yang indah, tanganku selalu basah oleh keringat kala berdekatan dengannya. Sosoknya terlalu lekat di mataku. Oh Tuhan … sampai kapan aku harus begini …

Perlahan sorot matanya mulai meredup.

Dan akhirnya terbang bersama mimpi indahnya.

***


bersambuuuuungggggggg ..................................

Binar Mata Sandra, episode 2

afwaan lama yah ... hehe ..

Brugg!!!

Tiba-tiba tubuh kurus itu jatuh terkulai di koridor gedung kuliah. Beberapa akhwat yang melihat gadis itu pingsan, dengan sigap langsung menggotongnya ke tepi.

”Masya Allah, Sandra! Kenapa ... ?” ucap Indy cemas.

Terlihat beberapa ikhwan, yang kebetulan berada di situ, bingung harus berbuat apa. Karena yang harus ditolong adalah seorang akhwat. Wajah Sandra terlihat sangat pucat dan darah terus mengalir dari hidungnya. Sandra masih belum sadar.

”Kenapa kalian diam saja! Cepat panggil taksi atau apapun untuk membawanya ke rumah sakit!!”

Ucapan Indy yang cukup keras segera menyadarkan para ikhwan untuk segera bertindak. Dengan sigap salah seorang ikhwan berlari keluar memanggil taksi. Di tengah kepanikan akhwat-akhwat itu, Sandra tersadar dari pingsannya.

Sandra berusaha mengambil posisi duduk. Disandarkannya tubuhnya yang lemah. Sandar terlihat sangat kesakitan.

”Aku nggak apa-apa. Kita nggak perlu ke rumah sakit ... ” ucap Sandra seraya menghapus darah yang keluar dari hidungnya.

”Sandra, kamu sakit. Lihat hidungmu, berdarah! Kamu ...”

Akhwat lain berusaha membujuk Sandra agar mau dibawa ke rumah sakit. Tapi Sandra bersikukuh untuk pulang saja. Akhirnya akhwat-akhwat itu mengalah dan Sandra pun pulang dengan diantar Indy.

Aku masih ingin hidup ... ya Allah ...

***

Di sebuah ruangan di rumah sakit ...

”Gimana akh? Sudah lebih baik?” tanya Sandra.

Bayu tersenyum.

”Alhamdulillah, Ukhti sekarang saya merasa lebih baik. Allah sungguh masih sangat menyayangi saya. Saya masih bisa menikmati hidup hingga kini.”

Hidup ... masihkah milikku? tanya Sandra dalam hati.

”Saya selalu ingat kata-kata anti. Bukankah bila Allah mencintai seorang hamba, maka diberilah hamba itu ujian. Dan mungkin inilah salah satu cara Allah mencintai saya. Inilah karunia terbaik dari Allah untuk saya. Walaupun sekarang saya tidak bisa melihat warna pelangi. Karena ... sekarang yang bisa saya lihat hanya hitam .. hitam ... dan hitam.” ada sesungging senyum ketika Bayu mengakhiri ucapannya.

Sandra ikut tersenyum. Tapi kali ini terasa pahit. Dan getir.

Ya Allah, dia benar, Engkau memberiku rasa sakit ini karena ... Engkau mencintaiku. Subhanallah, sekarang dia lebih terlihat dewasa dan ... bijak! Seharusnya aku bisa belajar dari ikhwan itu.

***

Suatu sore ...

Indy sedang menunggu seseorang di tepi sebuah pantai. Sesekali Indy melihat ke arah jam tangannya. Wajahnya terlihat gelisah.

Dimana kamu, Sandra?

Sejak menjenguk Bayu di rumah sakit, seakan-akan Sandra hilang ditelan bumi. Banyak yang menanyakan kabar gadis itu sejak kejadian pingsannya tempo hari. Bahkan Indy, seseorang yang paling dekat dengan Sandra, tak tahu keadaan sahabat dekatnya itu. Indy sudah berusaha menghubungi handphone Sandra, tapi setiap Indy mencoba meneleponnya tak pernah diangkat oleh Sandra. Sandra pun tidak ada di kost-nya. Sandra benar-benar menghilang dari kehidupan kampus.

Dan sekarang Indy benar-benar dibuat bingung oleh sikap Sandra. Sandra menyuruhnya datang ke pantai tempat mereka biasa bertemu. Tapi sudah setengah jam lebih, Sandra tak juga datang.

Tiba-tiba ...

Kedua gadis itu sudah berpelukan dan berlinangan airmata. Indy menatap wajah sahabat dekatnya itu seakan hendak memuaskan kerinduannya. Digenggamnya tangan milik sahabatnya itu dengan erat. Terasa dingin.

”Ndy, mau dengerin aku?”

Indy tersenyum dan mengangguk.

Sandra pun menceritakan segala kisahnya, tentang penyakitnya dan hidupnya yang seolah hampir mati. Tentang menghilangnya Sandra dari kehidupan kampus. Tentang waktu yang tersisa dalam hidupnya.

Airmata Indy semakin deras mengalir.

”Ndy, nggak usah nangis ... Semua sudah digariskan oleh Allah. Inilah yang terbaik buatku. Lihat, aku masih diberi kekuatan untuk bertemu denganmu hingga kini ...” ucap Sandra seraya tersenyum.

Indy memeluk tubuh Sandra yang terlihat semakin kurus saja.

Ya Rabb ... betapa tubuh ini semakin kurus saja. Wajahnya yang dulu selalu berseri-seri, kini terlihat semakin pucat. Tapi ... Subhanallah, senyum tak penah lepas dari bibir manisnya. Wajahnya bagai tak merasakan derita, karena yang kulihat kini adalah sebuah wajah penuh ketegaran. Ya Allah ... betapa aku selama ini tak pernah mencoba memahami dirinya, memperhatikan kondisinya, meninggalkannya sendiri. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Sahabat macam apa aku ini?! Aku tidak akan membiarkannya sendiri lagi ...

”Aku akan menikah, Ndy.” ucap Sandra lirih.

Indy melepaskan pelukannya. Indy benar-benar terkejut. Dipandanginya wajah tirus sahabatnya itu. Dan Indy melihat ada sebuah binar di mata bening milik Sandra.

***

Keluarga besar dan sahabat-sahabat dekatnya berucap syukur ketika lelaki tampan itu selesai mengikrarkan janjinya untuk seorang wanita cantik berkerudung putih. Dan lelaki itu pun tersenyum bahagia.

Polesan tipis di wajah wanita cantik itu hampir menghilang tapi wajah cantiknya tak pernah lepas menyunggingkan senyum ke semua orang yang hadir. Sedang lelaki tampan itu sesekali mencuri pandang ke arah wanita cantik yang kini telah menjadi istrinya.

Duhai Allah ... Maha Besar Engkau yang telah mengirim seorang Sandra, bidadari bermata jeli kepadaku ... batin lelaki itu berucap syukur.

***

”Sandra menikah?” tanya Bayu.

Siang itu Dodi dan Fendi datang menjenguk Bayu. Sudah hampir sebulan sejak kepulangan Bayu dari rumah sakit, mereka berdua sering berkunjung ke rumah Bayu. Bayu memang sudah sembuh walaupun tidak bisa melihat lagi. Bahkan Bayu sudah mulai aktif di kampus lagi. Hanya saja dia masih kesulitan untuk beradaptasi dengan ”dunia baru”nya. Dan ikhwan-ikhwan di LKI pun terus menyemangatinya. Hal itulah yang mampu membuat Bayu bertahan. Dan hari ini, Dodi dan Fendi datang ke rumahnya dengan membawa kabar bahwa Sandra, sekbidnya, telah menikah.

Dan Bayu hanya mampu berucap syukur.

***

Suatu sore di sebuah rumah sakit ...

Lelaki tampan itu duduk dengan perasaan gelisah. Matanya terlihat berkaca-kaca. Otaknya memutar kembali slide-slide kecil yang penuh kenangan.

Ya Allah ... selamatkan bidadariku. Jangan biarkan ia pergi. Aku masih ingin bersamanya ... Ijinkan aku mengucapkan cinta padanya ... Kumohon ...

Ircham, lelaki tampan itu, sedang menunggui Sandra, sang istri tercinta, yang kini tengah terbaring lemah di rumah sakit. Tadi pagi ketika hendak berangkat kuliah, tiba-tiba Sandra terjatuh dan langsung tak sadarkan diri bahkan hidungnya berdarah. Ircham langsung membawanya ke rumah sakit. Sudah seharian ini, dia menunggu tapi Sandra tak juga sadar dari pingsannya.

Baru seminggu mereka menikah. Baru seminggu ini kontrakan mungil dan sederhana itu mereka tempati. Mereka terlihat benar-benar bahagia. Bagi Ircham, Sandra bagaikan bidadari bermata jeli layaknya Bunda Khadijah. Meski sejak awal Ircham sudah tahu tentang penyakit Sandra tapi melihat Sandra terlihat bahagia, Ircham pun tak terlalu risau. Tapi kali ini, dia merasa bahwa Sandra akan meninggalkannya. Diingatnya lagi masa-masa bahagianya dengan Sandra.

Di suatu pagi, mereka sedang duduk berhadapan. Sandra terlihat cemas. Ini masakannya yang pertama. Tapi Ircham makan dengan tenang.

”Mas?” hati-hati Sandra bertanya.

Tak ada reaksi.

”Boleh nambah?” tanyanya seraya melirik Sandra yang masih terlihat cemas.

Nambah? Berarti masakanku ... enak? batin Sandra.

”Mas Ircham ! Bikin jantungan aja!” protes Sandra seraya mencubit pinggang suaminya tercinta.

Ircham tertawa melihat muka Sandra yang merah padam karena Ircham menggodanya.

Setiap hari yang terlihat di rumah kecil itu adalah keceriaan wajah Sandra, juga gurauan-gurauan kecilnya. Terkadang Sandra terlihat seperti anak kecil yang manja yang membuat Ircham hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Sandra. Tapi kadang juga bagaikan wanita dewasa yang menyenangkan baginya layaknya seorang ibu.

Dan kini wajah yang selalu bersinar bagai rembulan itu terdiam dalam tidur panjangnya.

Ah ... Sandra ... aku masih ingin merangkai cinta-Nya bersamamu ...

***

Sandra membuka matanya. Begitu banyak selang infus melilit tubuhnya. Di tepi ranjang, Ircham tertidur lelap memeluk mushaf kecil.

Ya Allah ... jika Engkau berkehendak aku tetap tinggal bersamanya, ijinkan aku membahagiakannya. Aku ingin melihatnya tertawa ... sekali lagi ya Rabb.

Air matanya mengalir perlahan.

Tiba-tiba ...

Ircham terbangun. Senyum mengembang dari bibirnya begitu melihat Sandra sudah sadar. Ircham hendak memanggil dokter. Tapi ...

Sandra memegang tangannya. Menyuruhnya untuk tetap disampingnya. Ircham mencium tangan istrinya. Matanya terlihat berkaca-kaca.

”Aku mungkin tak bisa mendampingimu lagi. Tak bisa memasak lagi untukmu. Tak bisa mencucikan lagi pakaianmu. Tak bisa lagi menjadi jamaahmu dalam tahajud kita ... Tapi berjanjilah untuk tetap hidup ... demi cinta-Nya yang akan kita rangkai bersama.”

Butiran bening mengalir dari mata Ircham. Pertahanannya jebol. Ircham menangis di depan istrinya yang terkulai lemah.

”Mas Ircham kok menangis ... Seharusnya kita bersyukur pada Allah, Mas. Bukankah ini cara Allah mencintaiku?!”

Ircham mencium punggung tangan isterinya itu dengan lembut.

”Kau ingin mengucapkan sesuatu untukku, Mas?”

Ircham menggenggam erat tangan istrinya itu. Dipandanginya wajah cantik istrinya.

Bidadariku ... aku ingin kau tetap disini, bersamaku. Maukah engkau?

”Sandra ... aku sungguh sangat mencintaimu ...” seketika ada kelegaan yang terbersit di hatinya.

Sandra tersenyum bahagia.

Kata-kata itulah yang selalu kutunggu selama ini, Mas. Akhirnya ...

”Mas, tersenyumlah untukku.” suara Sandar terlihat bergetar.

Ircham pun tersenyum.

Ya Rabb ... aku takkan bisa menemui senyum seperti ini lagi ...

”Mas, maukah engkau mengabulkan permintaanku?”

***

Gundukan tanah merah itu masih basah. Satu persatu orang yang takziah mulai beranjak pergi hingga tinggal dua orang yang masih setia berdiri di tepi nisan yang masih baru itu. Ircham dan Bayu.

Sandra Eliza Haris

binti Haris Setyawan

Lahir 18-10-1986

Meninggal 19-04-2006

Kemudian Ircham beranjak pergi meninggalkan pemakaman itu. Kini tinggal Bayu sendiri. Dipandanginya nisan itu. Hatinya remuk.

Ya Rabb, terima kasih. Lewat mata Sandra, Engkau membuatku bisa melihat warna pelangi yang pernah padam sesaat di hatiku. Berilah dia tempat yang baik di sisi-Mu ya Rabb ...

Hujan rintik-rintik mulai membasahi tanah merah itu.

Dan lelaki itu menangis.

***

Di satu sisi yang lain ...

Surakarta, 18 April 2006

Untuk kekasihku,

Ircham Pramudya

Assalamu’alaikum ...

Mas Ircham, maafkan aku yang tak bisa lagi mendampingimu, tak bisa lagi mengisi hari-hari indahmu (semoga penggantiku kelak lebih baik). Maafkan, jika selama ini, aku tak bisa membuatmu bahagia. Jika saja Allah berkehendak, aku ingin sekali tinggal lebih lama bersamamu, di sampingmu. Seperti keinginanmu, kita akan merangkai cinta-Nya bersama. Tapi Allah lebih tahu yang terbaik buatku, buat kita. Kita harus bersyukur, Mas.

Mas, tetaplah hidup ... demi cinta-Nya yang dulu pernah kita rangkai .. walau hanya sesaat.

Aku juga mencintaimu, Mas.

Wassalamu’alaikum ...

Cintamu,

Sandra

Matanya sudah basah oleh air mata.

Sandra, aku masih tetap ingin mencintaimu. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Ijinkan aku tetap memiliki rasa ini. Maafkan aku …

Wednesday, September 10, 2008

“Pindang Kecap”

Beberapa hari di rumah, lagi suenenggg banget masak “Pindang Kecap” hihi … gampang kok buatnya. Bahan utamanya ya jelas Ikan Pindang. Trus bumbu-bumbu biasa kayak bawang merah, bawang putih, garam, gula merah, kecap, cabai merah/ hijau, tomat, (kalo suka ya dikasih moto dikit aja) plus jahe dan air secukupnya

Cara membuatnya mudah:

Ikan dibersihkan dulu trus kalo udah digoreng biar lebih empuk waktu disayur. Kalo udah mateng, angkat dan tiriskan.

Nah, sambil nunggu, siapin bumbu tadi. Bawang merah + putih, cabai diiris tipis.

Siapkan wajan, kasih minyak dikit aja. Setelah minyak panas, masukkan irisan bawang n’ cabai tadi, goreng. Trus masukin garam secukupnya, gula merah yang udah disisir, tomat yang udah diiris kecil, jahe secukupnya. Kalo suka kasih moto dikit aja. Ups jangan lupa dikasih air secukupnya, jangan banyak-banyak ntar nggak enak. Sama kecapnya sekalian. Kalo udah cukup harum, masukkan ikan pindang yang udah digoreng tadi. Aduk-aduk biar merata bumbunya. Biar lebih cepet mateng, tutup wajannya, biarkan beberapa menit, kalo udah matang, angkat dan tuang dalam mangkok. Jadi deh, Pindang Kecap ... hemmmm ... jadi pengen lagi nih ... hihi ...

Sama juga sih kalo masak ceker ayam kecap, tapi biasanya nggak usah pake jahe. Enak lho!

Ada yang satu selera sama aku? Hehe ...

Selamat mencoba ... ^_^ V

Banci Oh Banci

10 September 2008

Beberapa hari yang lalu, saat dalam perjalanan dari Purworejo menuju kota Solo naik Supravit Merah. Kala itu saya sedang berhenti di lampu merah di Jogja (lewat dalam kota, saya kurang tahu nama jalannya, dekat SMA BOPKRI Joga). Di pinggir jalan ada dua banci (saya menyebutnya banci saja), yang satu memakai baju ala penyanyi band “Duo Maia” dan yang satunya memakai kebaya biasa lengkap dengan kerudungnya. Biasanya saya sering lihat salah satunya memang suka mangkal di lampu merah jalan itu. Saya cuma bengong aja melihatnya. Sebenarnya bukan pemandangan aneh, tapi saya geli campur kasihan aja melihatnya. Geli melihat dandanan aneh gitu, tapi kasihan melihat mereka yang belum bisa bersyukur atas pemberian Alloh. Wawallahu’alam.

Sebenarnya nggak cuma di jalan itu, di lampu merah yang lain saya kerap melihat pemandangan yang sama meski berbeda pelakunya. Kadang saya berpikir, apa mereka (yang jadi banci) bisa tenang menjalani hidupnya sebagai seorang banci? Gimana sholat mereka, pakai mukena atau cuma sarung? Hehe … yah, meskipun saya tidak bisa men-generalisir bahwa mereka semua dengan “senang hati” hidup sebagai seorang banci. Mungkin ada beberapa yang terpaksa karena nggak punya penghidupan lain selain hidup sebagai banci. Ada juga yang karena terlalu akrab dengan lingkungan banci hingga membuatnya memutuskan merubah “pemberian” Yang Di Atas. Meski ada juga yang memang merasa fitrahnya 99 % adalah wanita (1 % masih ada ke-lelaki-annya hehe ..).

Yah, terlepas dari semua alasan mereka-mereka yang mulai menjalani hidup sebagai seorang banci, sudah seharusnya lah kita sebagai seorang manusia yang beriman menyadari bahwa apa yang diberikan oleh Alloh kepada kita adalah hal terbaik, dan sudah sewajarnya kita bersyukur dengan belajar menerima diri kita apa-adanya.

Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu ada tayangan berita yang menyatakan bahwa KPI (Komisi Penyiaran Indonesia, kalau nggak salah singkatannya begitu) melarang penayangan sosok banci di beberapa stasiun TV. Harus diakui, hampir 2 tahun ini sosok “banci” adalah sosok “terlaris” di TV. Bagaimana tidak? Hampir seluruh stasiun TV menayangkan program yang menonjolkan sosok banci yang biasanya bersifat komedi. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai “ikon” dunia entertainment. Sampai-sampai ada yang tadinya mau berubah menjadi lelaki sejati, kalau anda mencermati salah satu tayangan TV, sekarang malah menjadi banci seutuhnya karena tuntutan program penayangan di salah satu stasiun TV. Saya malah berasa muak melihatnya. Di lain sosok, ada yang mempunyai penghasilan hingga berjut-jut dan menjadi popular karena sosok ke-banci-annya. Hiiyyy!!! Bahkan ada yang dulunya sama sekali jauh dari image “banci”, eh sekarang malah sangat menikmati peran banci. Dunia sudah benar-benar terbalik. Coba lihat salah satu program sinetron di satu stasiun TV swasta yang ditayangkan malam hari (jam efektif belajar anak-anak) yang aktor utamanya adalah anak lelaki tapi masih balita (usianya sekitar 3-4 tahun). Penampilan anak tersebut memang sangat lucu dan menggemaskan tapi cerdas alias banyak akal. Tapi sangat disayangkan, di tayangan tersebut seringkali menampilkan anak kecil tersebut dengan dandanan wanita, mulai dengan memakai wig wanita hingga memakai kerudung. Secara tidak langsung, hal tersebut bisa saja kelak mempengaruhi psikis anak lelaki yang notabene masih sangat kecil untuk menjadi ”seorang banci”. Anak sekecil itu saja sudah ”dilatih” menjadi seorang banci, tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya saat ia dewasa? Akankah hal itu terbawa hingga dewasa nanti?

Saya sih setuju banget kalau KPI melarang penayangan sosok banci. Karena harus diakui, efek sosok banci di TV bisa sangat mempengaruhi penonton TV. Apalagi anak-anak kecil yang notabene bisa sangat mudah meniru apa yang mereka lihat. Masih ingat demam sekaligus tragedi ”Smackdown” yang menimpa anak-anak SD hingga menyebabkan kematian? Tragis sekali bukan?! Jangan sampai terulang lagi kejadian serupa dimana anak-anak kecil (lelaki) harus menjadi ”korban” dari tayangan TV yang tidak mendidik seperti ”penonjolan sosok banci”. Bisa dibayangkan jika kemudian jumlah lelaki yang berubah menjadi banci atau bertingkah kebanci-bancian bertambah dari hari ke hari. Karena kita bukan negara ”banci” !

Fitrahnya anak kecil itu memang suka meniru apa yang mereka lihat, apalagi jika menurut mereka itu dianggap menyenangkan. Apalagi program TV yang menayangkan sosok banci adalah saat jam-jam anak bisa menonton TV dengan leluasa. Penonjolan sosok banci yang lucu dianggap sangat menarik bagi anak-anak sehingga dengan mudah mereka ”mengaplikasikan” dalam kehidupan sehari-harinya seperti kala bermain dengan teman-temannya. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena bisa saja hal tersebut akan terus terbawa dalam masa tumbuh-kembang mereka kelak. Secara psikis akan mempengaruhi tingkah laku mereka saat dewasa nanti karena saat masih kecil sudah mulai terbentuk frame berpikir tentang sosok banci.

Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika penonjolan sosok banci tidak terlalu berlebih-lebihan (lebih baik lagi dihapus saja) dan diganti dengan tayangan yang lebih mendidik. Karena penayangan program-program TV yang menonjolkan sosok ke-banci-banci-an, menurut saya, adalah program yang sangat tidak mendidik. Bagaimana bangsa ini bisa sukses atau maju jika tayangan-tayangannya adalah semacam itu? Apalagi terkhusus untuk para ”lakon-lakon” banci, apakah tidak berpikir bahwa tingkah yang kebanci-banci-an bisa menimbulkan efek yang kurang baik terhadap penonton (khususnya anak-anak kecil)?

Yang lebih penting adalah bahwa seharusnya kita bisa bersyukur dan menerima fitrah kita, baik sebagai seorang lelaki ataupun wanita. Lelaki adalah lelaki, dan wanita adalah wanita. Alloh telah menciptakan sedemikian rupa, maka kita harus menjaganya dengan tidak merubah ”sesuatu” yang memang seharusnya tak boleh dirubah. Wawallahu’alam bishowab.


Surat Pembaca buat Ikhwah Pengantar Dzakiya

Bisa-bisa mati kehausan nih …”

Niat jualan nggak sich?”

Mending pindah ke tampat lain deh ...”

Entah untuk yang ke berapa kalinya, saya mendengar banyak sekali keluhan tentang pelayanan Dzakiya di NH. Termasuk saya pribadi pun juga mengeluhkan hal yang sama.

Saya udah mulai berlangganan air minum galon Dzakiya sejak pertama kali masuk kampus sekitar tahun 2004 pertengahan. Kebetulan pesennya di masjid NH (UNS), yang menyediakan jasa air minum Dzakiya. Dan jujur ya, saya amat sangat cocok banget dengan rasa air minum yang satu ini. Enak bener! Dibandingkan dengan beberapa air minum yang lain, yang bagi saya kadang ada yang berasa pahit, berbau “something”, de el el. Dzakiya pas di lidah deh… hehe…

Kalau dihitung-hitung, berarti udah hampir 4 tahun lebih saya berlangganan Dzakiya. Awalnya sih seneng-seneng aja dengan pelayanannya. Tapi lama-kelamaan, males banget buat pesen Dzakiya. Bagi saya, juga beberapa teman-teman yang lain yang berlangganan air minum serupa, pelayanannya kian lama kian jelek aja. Bikin lari pelanggan. Bahkan beberapa teman dan kakak tingkat saya di FE dulu juga pindah ke air minum galon merk yang lain karena pelayanan si pengantar air yang kian lama kian nggak memuaskan. Tapi nggak tahu juga ya, meski pelayanannya menuai banyak keluhan, tetap aja saya setia sama air minum yang satu ini. Mencoba masih bisa sabar …

Bayangin aja, pesen hari Senin, baru diantar 4-5 hari setelahnya, itupun harus diingetin lebih dulu. Air minum udah bener-bener habis, air-nya nggak datang-datang. “Pembunuhan” perlahan-lahan nih … glekkk!!! Sampai-sampai, beberapa hari yang lalu, salah satu temen saya yang kebetulan udah pesen air galon tadi tapi nggak diantar-antar hingga hampir 4 hari “mengancam” ikhwan pengantar air Dzakiya NH (kebetulan temen juga sih). Kurang lebih gini katanya, “kalau sampai jam 5 sore nanti, airnya nggak dianter tolong bawakan 2 es buah. Dan kalau sampai nanti malam nggak dianter juga, tambahan 2 mangkuk bakso.” Hehehe … Rupanya “ancaman” temen saya tadi ampuh! Beberapa menit kemudian airnya langsung dianter oleh salah satu takmir NH. Please deh akhi, masa harus pakai ancaman kayak gitu, baru dianter???

Di episode yang lain, sewaktu kost saya masih di Ngoresan, ada kejadian lebih menggelikan lagi (menggelikan ato menyebalkan ya??). Saya dan temen kost, pesan 2 galon Dzakiya ke NH, namun hingga hampir 2-3 hari nggak dianter-anter. Setelah diingetin, baru dianterin siangnya. Eh, tiba-tiba sore harinya 2 ikhwan NH datang lagi mengantarkan 2 galon Dzakiya!!! Hiekkk!!! Siapa yang pesan coba?? Udah gitu, si ikhwan-nya pake nada bicara dan pasang muka agak cemberut lagi (mungkin karena harus membawa pulang lagi 2 galon yang cukup berat tadi, hihi … siapa suruh coba?), bikin kita nggak enak hati dan merasa kasihan. Akhirnya dengan “senang hati” 2 galon yang diantar tadi kita beli deh … Kasihan kalo musti dibawa pulang lagi. Lagian pengantar-pengantar air tadi juga salah sih, emangnya nggak ada koordinasi di pengelola sendiri? Gini nih, kalau menganggap enteng masalah pelayanan pelanggan. Ck … ck… Pas pesen, berhari-hari nggak dianter. Eh, nggak pesen, malah diantar 2 kali. Fiuuhhh …

Itu hanya beberapa kisah tentang pelayanan air galon. Maaf sebelumnya, disini saya nggak mengeluhkan masalah Dzakiya-nya (bagi saya produsen Dzakiya is the best lah hehe), tetapi masalah pengantar airnya yang kebetulan orang-orang (takmir) NH.

Yah, saya rasa pelayanan juga adalah hal yang sangat penting dalam memberikan kepuasan pelanggan. Coba deh, lihat di buku-buku Manajemen Pemasaran. Justru bila dibandingkan dengan target volume penjualan, pelayanan jauh lebih penting! Kalau masalah pelayanan saja dianggap enteng alias nggak penting, bagaimana konsumen bisa tetap ”loyal” dengan produk??? Mustahil bin ajaib deh ...

Kalaupun pengantar (penyedia jasa) tadi beralasan bahwa stok air habis, apakah tidak bisa dengan memberitahukan ke pelanggan, sehingga saya dan pelanggan-pelanggan lain tidak terdzalimi, terkatung-katung menunggu air datang, entah untuk waktu yang berapa lama ... Menyedihkan sekaleee ... hiks hiks ... Apa sih susahnya SMS or langsung datang ke tempat pelanggan, secara jaman sudah lebih canggih. Ya nggak?!

Apalagi yang sangat disayangkan, penyedia jasa air minum tersebut adalah ikhwah, yang notabene adalah ”pelayan umat”. Jadi saya pikir, mereka sudah terbiasa melayani orang, ya tho? Tapi kok kenyataannya ... Mestinya mereka juga tahu bagaimana ”melayani” pelanggan dengan baik. Katanya pelanggan adalah ”raja” ? jangan sampai mendzalimi pelanggan lebih besar, karena membiarkan pelanggan dalam ”ketidakpastian” menanti produk. Itu kesalahan fatal, menurut saya. Kasihan kan, apalagi konsumen udah bener-bener kehabisan air ... mau minum apa? Minum dari bak mandi? Maaf, mungkin terlalu ekstrim. Tapi ini kenyataan. Harus ada perubahan! Now or Never!

Begitu banyak keluhan yang datang, apakah kemudian hanya sekedar numpang lewat saja? Nggak adakah solusi dari keluhan-keluhan pelanggan tadi? Bahkan seolah-olah saya lihat, kok pelayanannya makin buruk saja merski sudah ”diperingatkan” beberapa pelanggannya.

So, ada baiknya kita berbenah diri. Pelajaran buat kita semua. Jangan sampai ketika kita mempunyai usaha penyedia jasa (apapun), kita malah merugikan/ mendzalimi pelanggan kita atas pelayanan yang diberikan. Jangan sampai terbentuk image buruk bagi usaha kita hanya karena hal-hal seperti tadi. Sayang sekali. Bisa-bisa semua pelanggan kita lari.

Dan dengan berat hati, akhirnya mulai kemarin saya memutuskan untuk pindah langganan ke tempat penyedia jasa yang lain. Kebetulan kemarin malam nggak sengaja ketemu bapak-bapak pengantar air Dzakiya dan langsung deh saya pesen. Alhamdulillah langsung diantar malam itu juga, disaat saya benar-benar membutuhkan air minum utnuk menghilangkan dahaga saya dan mengembalikan cairan tubuh. Hehe ...

Meskipun ada yang bilang ”Mbok jangan pindah ke yang lain, kan ikut memakmurkan usaha ikhwah juga tho?”. Bikin saya ketawa aja. Saya akan dengan senang hati ikut memakmurkan usaha ikhwah dengan menjadi salah satu pelanggannya, dengan catatan : pelayanan terhadap konsumen adalah yang paling utama!

Apapun itu, semoga kedepannya bisa menjadi lebih baik. Mari belajar dari pengalaman di sekitar kita. Sehingga membuat kita tambah berkualitas. OkaY!

Buat para ”pengantar air di NH”, afwan jiddan saya nggak bermaksud menjelek-jelekkan, tapi insya Alloh ini adalah demi kebaikan bersama, keberlangsungan usaha ikhwah. Semoga bisa lebih baik! Amien.

Dzakiya is the best deh!!! (hehe ... tendensius neeh ..)

Butuh seumur hidup untuk melupakan bayangannya ...

Mbak, aku sudah berusaha menghapus bayangannya dari hidupku, tapi kenapa harapan itu masih selalu ada? Karena dia pernah begitu berarti bagiku mbak ...”

Begitu salah satu adik tingkatku mencurahkan kegalauan hatinya padaku tentang seorang lelaki bernama ikhwan ...

Hemmm ... lagi-lagi masalah ikhwan (apa bakwan? Ups ... maaf)

Kata bijak, hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Bener kan?

Memang butuh waktu yang sangat lama untuk bisa melupakan seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan kita, apalagi pernah mendapat tempat spesial di hati kita ... deuuu ... rasa-rasanya nggak pengin ngelupain, ya kan?

Tapi pernah berpikir nggak sih, mungkin saja seseorang itu sudah melupakan kita? Lalu buat apa mengingat-ngingatnya dalam benak kita? Apa pantas kita bersedih hanya untuk orang itu?

Ada teman yang pernah bilang, kalo pengin melupakannya, cari saja kejelekan orang itu. Hehe ... ekstrim? Menurutku wajar-wajar saja, justru mungkin ketika kita tahu kekurangan orang itu, bisa sedikit merubah perasaan kita padanya, memupus rasa yang seharusnya nggak pernah ada. Bukan bermaksud untuk menjelek2kan orang itu kalee!

Memang butuh waktu lama, tapi yakinlah Alloh kan beri kelapangan hati kita jika kita memang berniat untuk itu. Bukankah tujuan kita mencari keridhoan Alloh..?

Yakin deh, mungkin memang bukan saat ini waktu yang tepat bagi kita untuk bertemu dengan seseorang yang tepat. Tapi suatu saat, akan ada seseorang yang akan pantas kita cintai hanya karena Alloh ...

Jalani apa yang sekarang ada di hadapan kita. Karena Alloh pasti akan selalu berikan yang terbaik untuk kita, meski kadang terasa pahit dan getir di hati. Tapi sesungguhnya itulah anugerah indah yang telah Alloh berikan pada kita. So, ngapain musti mikirin orang yang belum tentu juga mikirin kita???

Karena yang seharusnya selalu ada dalam pikiran dan hati kita adalah Alloh ...

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,

jagalah hatiku padanya agar tidak

berpaling pada hati-Mu ...


Boleh nggak aku suka sama dia?

“mbak, boleh nggak sih suka sama seseorang?” Begitu seorang adik tingkat-ku bertanya padaku. Kujawab aja, “boleh kok.. ”

Sudah menjadi fitrah bahwa seorang manusia bisa menyukai orang lain. Apalagi sama lawan jenis. Normal en nggak dilarang. Yang dilarang malah kalo kita sama sesame jenis, hombreng ??? hiyyy … na’udzubillah …

Hanya saja ketika kita suka sama seseorang itu, kita juga gak bisa maksain perasaan yang sama darinya. Belum tentu kan dia menyukai kita juga. So, kita harus bisa ber-legowo menerima kenyataan kalo memang ”cinta bertepuk sebelah tangan” hehe ... karena itu hak tiap orang untuk bisa suka sama orang lain atau sebaliknya.

Tenang aja, jodoh nggak bakal ketuker ..hehe ... kalopun dia adalah jodoh kita kelak, maka dia akan datang di saat yang tepat. Saat yang tepat untuk sebuah rasa cinta yang tepat karena cinta itu hadir di jalan Alloh dan tumbuh karena Alloh. Segala sesuatu akan terasa indah pada waktunya bukan?? Hee ...

Lagipula kalopun emang kita suka ama seseorang, mau ngapain? Mau nembak? Kalau emang sudah siap, silahkan tembak saja! Tapi siap menembak, siap ditolak juga kan? Yaaa ... yang namanya menyukai seseorang kan ada dua kemungkinan, diterima or ditolak! So, kita juga musti siap kan kalau memang pada akhirnya cinta bertepuk sebelah tangan. Hiks ..hiks... nggak papa hilang 1 tumbuh 1000 ...hehe ...

Tapi haruskah rasa suka itu mengalahkan rasa cinta kita kepada-Nya? Oh, NO!!!

Seharusnya kita bisa menempatkan rasa cinta kita kepada Alloh di atas segalanya, karena yakinlah suatu saat kita akan mendapat yang lebih dari-Nya. Yakin deh, cinta kepada Alloh nggak bakalan bertepuk sebelah tangan ... nggak percaya? Coba aja!

Once more, pantaskah kita bersedih untuk seorang makhluk lemah seperti manusia? Karenanya, jangan pernah menggantungkan harapan pada seorang manusia sedangkan manusia itu sendiri adalah selemah-lemahnya makhluk.

Alloh lah tempat kita menancapkan hati, tempat kita memuja cinta, tempat kita menuai rasa ... dan kepada-Nya lah kita berserah diri.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu...