Saturday, February 13, 2010

kurasa ... ini lucu.

kau merasa dipaksa
dalam kehidupanmu?

kau yakin apa yang kau kerjakan
adalah hal yang kau inginkan?

bukan karena kau hebat dalam hal itu
atau orang menyuruhmu melakukannya?

bukan karena orang menganggapmu seperti itu?


*seperti memasuki hutan penderitaan dengan dataran yang "wah", ini katanya Buck sang jagoan*

Friday, February 12, 2010

Maag ... Maag ... Maag

Moga bermanfaat, khususnya yang punya maag (kayak saya ini hiks...) yang sungguh menyiksa kala kambuh.

Yang harus dihindari oleh penderita maag, biasanya penyebabnya seperti berikut ini:

1. Obat Rematik
Obat ini kadang-kadang membuat penderita maag tidak merasakan nyeri, tapi ternyata kondisi lambungnya sudah parah. Alhamdulillah, saya gak pernah berhubungan dengan obat2an satu ini hehe, secara saya juga masih muda dan imyuuutt

2. Asap Rokok
Asap dari rokok akan membuat lambung terasa penuh, sehingga penderita tidak merasa lapar. Ini nih yang paling saya benci, sumpah!!!

3. Minum Kopi
Minuman ini dapat meningkatkan asam lambung. Dan tragisnya, sekarang saya nggak bisa leluasa minum kopi

4. Makanan seperti coklat dan keju
Karena makanan tersebut menyebabkan pengosongan lambung menjadi kurang baik. Lumayan, ngirit. hihihi

5. Makanan yang pedas dan masam
Karena bisa merangsang lambung, seperti cabe, sambal, jeruk. Sekarang malah jadi alergi sama segala sesuatu yang pedas dan masam, berasa hambar juga sih ...

6. Sayur-sayuran seperti kol dan sawi
Karena memproduksi gas. Juga buah nangka, kedondong, dan buah-buahan yang dikeringkan. Padahal saya paling suka jus nangka hiksss

7. soda
Alhamdulillah nggak biasa minum ginian, mahal sih. qqq

8. stress
Nah, ini nih ... stresssssssss kayaknya menduduki rangking tertinggi untuk penyebab kambuhnya maag.

Penderita maag harus membiasakan makan yang teratur. Misalnya, jika hari pertama makan jam delapan pagi, usahakan hari berikutnya juga makan jam delapan pagi. Demikian juga dengan makan siang dan malam. Sehingga lambung menerima makanan di waktu-waktu tertentu.

Kapan Pergi Dokter?
Saat penderita maag sudah mengonsumsi obat-obatan dia harus ke dokter, jika sakit lambungnya tidak sembuh-sembuh. Menggunakan obat-obatan di pasaran batasnya biasanya tiga hari. Jika tidak ada tanda-tanda kesembuhan setelah tiga hari, maka harus memeriksakan diri ke dokter. Tanda-tanda penting yang dapat diperhatikan adalah jika buang air besar berwarna hitam, muntah-muntah hebat, pucat yang tidak diketahui sebabnya, serta berat badan turun.

Tuesday, February 9, 2010

enough

aku benci mengatakan ini:

kenapa harus selalu aku yang mengalah?



jadi,

lebih baik sekarang aku menyerah saja.

i'm give up.

i'm out of there.

semua berakhir.

enough!

Sunday, February 7, 2010

Saya, Menangisi Seorang Perempuan

Jam 02.36 Waktu Indonesia Barat

*ditemani fall again-nya glen lewis*

Beberapa waktu terakhir saya habiskan untuk menulis dan mengupload beberapa hasil corat-coret di tangan. Menulis apa saja, tentang sebuah hari, tentang seseorang, atau tentang waktu. Sekuat tenaga saya cari semua yang bisa membuat tangan saya bergerak, menuangkan debit-debit kata ke dalam rangkaian kalimat. Kadang lepas, kadang mengalir tak beraturan.

Dan beberapa waktu terakhir ini, saya memutuskan untuk menulis segala tentang perempuan. Atau segala tentang saya, tepatnya? Maybe.

Dan semalaman ini, saya menangis tersedu. Hingga akhirnya saya putuskan untuk menulis catatan kecil ini.

Ketika secara tak sengaja, saya membuka-buka photo album salah satu saudara saya. Terpaku saya dapati foto seorang perempuan yang hampir 2 tahun sudah tak pernah saya temui secara fisik. Beliau sedikit banyak mempengaruhi kehidupan saya. Beliau, simbah putri saya. Yang saya tahu, bagaimana pun yang namanya perempuan tetaplah perempuan. Apa perlu saya jelaskan kalimat ini? Tidak. Cukuplah saya saja yang memaknainya.

Lama saya pandangi foto itu, dengan air mata yang tak henti mengalir. Mungkin pagi nanti, mata saya bengkak .

Beliau, meskipun saya sudah kuliah, masih sering memberi saya sangu kalau saya berangkat ke kota tempat saya kuliah. Memberi saya nasehat, meski kadang saya hanya membalasnya dengan kata "iya" atau sekedar anggukan untuk menyenangkan hatinya.

Hingga akhirnya beliau jatuh sakit, stroke, meskipun pada akhirnya beliau bisa tetap berjalan dengan dibantu sebuah tongkat. Saya, terkadang, merasa kasihan dan ingin menangis melihat beliau dengan sosoknya yang kurus kering dan kondisi yang agak memprihatinkan. Ah, banyak penderitaan yang beliau alami, secara fisik dan psikologis, singkatnya mungkin seperti itu. Tak perlu saya ceritakan secara detail.

Hingga akhirnya, Alloh berkenan memanggilnya kembali.

Sungguh, hingga saat ini saya (kadang) masih tak percaya kalau beliau sudah tak ada di dunia ini.

Dan yang amat saya sesali, saya belum meminta maaf atas apa yang (mungkin) pernah saya lakukan padanya. Bahkan untuk terakhir kalinya, saya tak sempat memandang wajahnya dan tak sempat menghantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Saya menyesal.

Foto itu, membuat dada saya sesak.

Mata saya pun tak dapat diajak kompromi, bendungan ini jebol. Saya luruh dalam sesaknya rindu pada seorang perempuan tua. Simbah putri.

Alloh, semoga Engkau berkenan mengampuni dosa-dosa Beliau dan memberikannya tempat terbaik di sisi-Mu.

Saya tergugu ...
Nanda kangen denganmu, Mbah ...
Maafkan Nanda ...


Jogja, saat air mata ini terus mengalir di hampir sepertiga malam ...
Kuuntai doa, untukmu.

Tuesday, February 2, 2010

show me the meaning of being LONELY

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono
Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia
Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa
Dan untuk berapa lama tidak penting
Ia sudah tahu cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil
Agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang
*sedikit mengutip Recto Verso-nya Dee*

..................
So many words for the broken heart
It's hard to see in a crimson love
So hard to breathe
Walk with me, and maybe
Nights of light so soon become
Wild and free I can feel the sun
Your every wish will be done
They tell me...

Show me the meaning of being lonely
Is this the feeling I need to walk with
Tell me why, I can't be there where you are
There's something missing in my heart

*Mendengarkan lagu ini ... mellow-mellow gimana gitu (hahaha).

Maha Suci Alloh yang telah menciptakan makhluk di bumi berpasang-pasangan, dengan jodohnya masing-masing.
*Kalimat pembuka yang terlalu serius. ^^

Kini ada jeda ... sebentar saja, tak apa kan?
*menghela napas panjang, melanjutkan bait berikutnya dengan gaya penulisan yang aneh hihi*

Setelah tadi siang, mendapatkan kembali berita mengejutkan (bahagia, red) dari seorang kawan yang sebentar lagi akan melangkah menuju fase hidup yang baru bersama lelaki pilihannya. Seorang lelaki yang (tentunya) ia harapkan bisa menjadi seorang imam di hidupnya yang baru. Seorang lelaki yang bersamanya, ia akan bisa membangun rumah di surga-Nya.
Saya turut berbahagia, sungguh.
Senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangggggggggggnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ..... ^^V
*hiks ... terharu (???)

Satu persatu teman saya (yang seangkatan tentunya, red) mulai berani mengambil keputusan untuk menjalani hidupnya bersama seorang sahabat sejati. That’s the great!
*standing applause for them ^^V, nggak bermaksud lebay

Sebenarnya, bukankah itu hal yang biasa? Maksud saya, pernikahan adalah sesuatu hal yang biasa, yang (insya Alloh) pasti akan dijalani oleh setiap orang. Hanya saja, ketika teman-teman saya yang sebaya yang menjalaninya, saya merasa itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Bayangkan, biasanya saya bermain (dalam arti sungguhan, red) bersama mereka dan tumbuh dewasa bersama mereka juga. Belajar kelompok di SMP, SMA atau saat di Kampus. Atau sekedar jalan-jalan menenangkan pikiran di saat tugas kuliah menggunung. Tertawa bersama, menangis bersama dalam pelukan. Saling menasehati, saling menyemangati, saling mendoakan. Melakukan hal-hal gila bersama, hal-hal ajaib yang selalu akan dikenang.

Kini, sebagian dari mereka telah sungguh-sungguh dewasa, mungkin lebih dewasa dari saya (bukan sekedar tua^^). Saya tahu, suatu saat hari seperti ini akan tiba. Hari dimana harus bersedia melepaskan sahabat-sahabat saya untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Hari dimana akan menjadi hari paling sakral di seumur hidupnya. Hari dimana kebijakan dan kedewasaannya akan lebih banyak diuji. Hari dimana mereka berhak menjalani hidup mereka sendiri. Dan meskipun dari semua itu, saya harus menanggung rasa kehilangan. Ah, tak mengapa jika sahabat saya menjadi bahagia karenanya. Toh, saya nggak kehilangan sahabat saya sepenuhnya, karena saya yakin persahabatan bukan sekedar bertemu secara fisik, tetapi persahabatan adalah bagaimana menyediakan sebuah ruang di hati untuk tempat singgah seorang sahabat. Dan saya akan selalu membawanya di hati saya (nggak bermaksud nggombal ^^).

Di usia yang segini, twenty three, kadang saya juga heran. Heran dengan mereka yang seusia dengan saya telah berani mengambil langkah besar, menikah. Mereka, kalian, keren!!! Saya bukannya iri atau cemburu dengan mereka (buat apa cemburu?), tidak sama sekali. Justru saya bahagia, senang.

Berulang kali saya mengatakan bahwa menikah adalah sebuah langkah besar. Karena menikah; hidup dengan seorang lelaki yang sama sekali belum pernah dikenal, menyambut suami di tiap pagi dan petang dengan senyum termanis, having children, hidup dengan mertua, melakukan semua pekerjaan rumah tangga, perlahan meninggalkan kehidupan bermanja orangtua, wowww! Saya berpikir, bagaimana mereka bisa memikirkan semua itu?

Saya (sungguh) nggak merasa cemburu sedikitpun, kemudian harus memaksakan diri menikah secepatnya. Menikah cepat-cepat hanya karena takut tersalip adik tingkat??? Oh, betapa bodohnya saya jika melakukan itu! Saya pikir, Alloh pasti sudah mempunyai rencana indah untuk setiap hamba-Nya. Just pray and do it! Lagipula, menikah bukan sekedar mampu, tapi juga mau. Menikah juga butuh persiapan, lahir dan bathin. Menikah bukan sekedar menerima lamaran seseorang, tetapi memantapkan hati. Right?

Di usia yang kepala dua, kenapa setiap orang selalu bertanya tentang when will you get married? Kenapa tidak bertanya, “Cita-citamu apa? Prestasi apa yang sudah kamu hasilkan? Untuk apa kamu hidup?” Tidakkah membosankan pertanyaan kapan nikah, padahal usia kita (saya, red) masih dua puluhan lebih dikit (hehe). Oke, saya sepakat dengan menikah muda, that’s the legal’s choice for everyone. Tetapi, kembali ke setiap individu yang saya yakin setiap dari kita punya banyak wishlist, punya banyak harapan dan cita-cita yang ingin diraih. Saya sendiri, saya punya target, saya punya keinginan, saya punya harapan, and I wish I hope it. Dan tentang menikah, bukan cuma mindset tentang tanggal menikah atau tentang anggaran menikah yang perlu diributkan, tetapi juga tentang apa yang ingin dicapai dari sebuah pernikahan. What is the wish of marriage? What is the goal of it?

Jadi, kalau ada yang tanya : “KAPAN NIKAH?”, saya hanya punya jawaban : “Segera, setelah saya menemukan seseorang yang tepat. Segera, setelah hati saya mantap.” (di usia berapa, hanya saya dan Alloh yang tahu) Sebenarnya saya kurang suka membahas tentang masalah ini, karena saya pikir the life’s goal isn’t just married with someone. Masih banyak hal lain yang harus dilakukan, terutama sebagai seorang lajangers. Toh, kita sebagai manusia punya hak untuk melakukan apa saja yang kita inginkan dan kapan kita ingin melakukannya.

Apapun itu, saya amat sangat bahagia melihat teman saya satu persatu mulai menggenapkan dien-nya dengan seseorang yang menjadi pilihannya. Saya hanya bisa berdoa semoga Alloh memberkahinya. Dan insya Alloh, saya akan menyusul. Segera.

*koleksinya Backstreet Boys, hihihi

Solo, 02022010
*show me the meaning of the being lonely, nitip selamat ya buat 2 sahabatku dan seorang kakak yang sebentar lagi akan menggenapkan dien-nya ... Barokallohufiikum*

Friday, January 8, 2010

Mimpi Buruk : “Semoga ini memang hanya mimpi ...”

Bagaimana kau merasa bangga, akan dunia yang sementara
Bagaimana kau bila semua, hilang dan pergi meninggalkan dirimu*

Pernah suatu kali, saya bermimpi. Mimpi paling buruk yang pernah saya dapatkan seumur hidup saya, mimpi ter-ngeri yang pernah saya jumpai, sebuah mimpi yang paling tidak saya inginkan.

Astagfirullahal’adziim, semoga itu memang hanya mimpi.

Saya bermimpi tentang kematian. Ya, saya mimpi kalau saya mati. Masih terbayang dengan jelas, saya bisa melihat tubuh saya yang terbujur kaku di keranda. Dan di sekelilingnya, orang-orang yang sangat saya cintai menangisi kepergian saya. Saya tahu, bagaimana wajah Ibu saya begitu sendunya. Ah, Ibu ... perempuan yang paling saya khawatirkan ketika saya tinggalkan. Semoga Alloh selalu menjaganya.

Dan saat saya sadari bahwa saya telah mati, saya menangis sejadi-jadinya. Hingga di alam nyata pun, saat terbangun dari mimpi buruk itu, saya dapati wajah saya sudah basah dengan air mata. Saya menangis karena saya sadar saya belum punya bekal apa-apa untuk perjalanan saya di akherat. Saya menyesal, meminta Alloh mengembalikan saya lagi ke dunia nyata. Mengembalikan saya ke tengah-tengah orang yang saya cintai, mengusap lagi air mata Ibunda tercinta. Tetapi, usaha saya sia-sia. Saya tetap melihat tubuh saya yang terbujur kaku di samping tangisan seorang Ibu. Alloh, saya ingin hidup lagi!

Dan ketika saya bangun, Alhamdulillah ... saya hanya bermimpi. Setidaknya menyurutkan kekhawatiran saya, bahwa saya belum mati sampai saat itu. Meski saya tahu, suatu saat saya pasti akan bertemu dengannya. Suatu saat, saya akan mati. Hanya tinggal menunggu waktu.

K.E.M.A.T.I.A.N
Kata yang mungkin agak mengerikan dan membosankan untuk diperdengarkan. Tapi dialah yang paling dekat dengan kita.

Bicara tentang kematian adalah bicara tentang waktu. Ya, waktu. Ah, berapa lamakah lagi bisa bercanda bersama teman-teman, berapa lama lagi melakukan segala sesuatu yang diinginkan, berapa lama lagi waktu saya untuk membaktikan diri pada orang tua, dan berapa lama lagi jatah hidup di dunia?

Ngeri sekali membayangkan malaikat maut menjemput saya dengan senyum termanisnya, sementara saya tak punya daya untuk melengkungkan sabit di hati saya.

Ah, jika saatnya saya harus “pulang”, saya ingin “pulang” dalam keadaan terbaik. Dalam kondisi keimanan saya yang paling baik, yang paling tinggi, yang paling manis yang pernah saya punya.
Saya ingin “pulang” dalam pelukan orang yang mencintai saya (dan saya mencintainya), ingin berada diantara orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai. Sehingga, meskipun mereka menangis sedu dengan kepergian saya, saya tetap akan tersenyum ikhlas. Ah, kematian yang indah.

Tetapi semua harus melewati prosesnya. Jika saya inginkan akhir yang indah, maka saya harus tetap berjuang dengan ikhlas, istiqomah dan senantiasa menjaga diri dalam kebaikan. “karena surga bukanlah kado yang dihadiahkan begitu saja?”. Saya harus menjemputnya, seperti jika suatu saat kematian menjemput saya.

Ketika beberapa orang yang saya cintai meninggalkan saya, dengan sangat tiba-tiba, dan akhirnya sukses meruntuhkan pertahanan saya. Lagi-lagi, secara manusiawi, air mata saya selalu mendesak keluar begitu menyadari bahwa mereka telah tiada dan hati remuk redam. Selalu membuat saya bertanya, sedang apa mereka di alam kubur? Lapangkah alam kubur mereka? Sukseskah wawancara mereka dengan malaikat-Nya? Allohu Akbar! Saya hanya mampu berdoa, semoga kelak saya dipertemukan dan dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di jannah-Nya. Amin ya Rabb ...

Ya, ternyata kematian mengajarkan saya bahwa I’am Nothing. Saya bukan siapa-siapa. Saya tak pantas sombong dengan apa yang saya miliki, karena kelak semuanya akan kembali pada-Nya.
Astaghfirullahal’adziim, berapa banyak sebenarnya amal yang saya punya? Jangan-jangan sudah habis di dunia, sebelum sempat saya nikmati di akhirat kelak. Tidaaaaak!

Alloh, jagalah setiap keikhlasan dalam setiap langkah saya.

Berhentilah sombong, perbanyak sedekah, perbanyak berbuat baik, perbanyak ibadah, dan berhenti berprasangka buruk pada orang lain.

Semoga Alloh selalu menjagaku, menjaga kita semua.
Dan kelak, ketika utusan-Nya datang ... maka saya telah siap.
Matikan aku, syahid di jalan-Mu.
Bismillah!

............................>>
Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimana kau bila semua
Hilang dan pergi meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masihkah ada jalan bagimu
Untuk kembali mengulang ‘kan masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yang ada akan kembali pada-Nya

Bila waktu t’lah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu t’lah terhenti
Teman sejati tinggalah sepi*
..............................>>

Solo, 06012010
:sedikit emosi, begini nih kalo inget ama dosa yang setumpuk ... whatever, saya hanya sedang memainkan peran saya di dunia ini sambil menunggu proses penjurian di akhirat ... so, let be my self ^^ ... semoga tulisan ini juga menjadi amal pemberat saya di akhirat, amin ya Rabb:



*nasheed from Opick, Bila Waktu T’lah Berakhir .... the nice’s song, semakin mengaduk isi hatiku T_________T

Tuhan Sembilan Senti*

......
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memgang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kiai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu’alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasululloh dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan
.......

Berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

*Taufiq Ismail


_menemukan bait-bait puisi ini di antara tumpukan asap ... ah, andaikan bisa diganti dengan asap jerami, pasti menyenangkan! hahayyy_