Tuesday, December 29, 2009

one in a million

You're one in a million
Oh
Now
You're one in a million
Oh

Sometimes love can hit you every day
Sometimes you can fall for everyone you see
But only one can really make me stay
A sign from the sky
Said to me

[Chorus]
You're one in a million
You're once in a lifetime
You made me discover one of the stars above us
You're one in a million
You're once in a lifetime
You made me discover one of the stars above us

I've been looking for that special one
And I've been searching for someone to give my love
And when I thought that all the hope was gone
A smile, there you were and I was gone

I always will remember how I felt that day
A feeling indescribable to me
Yeah
I always knew there was an answer for my prayer
And you, you're the one for me

[Chorus x 2]

In the beginning I was cool and everything was possible
They tried to catch me but it was impossible
No one could hurt me it was my game
Until I met you baby and you were the same
And when you didn't want me I wanted you because
The funny thing about it is I liked the show
I like it when its difficult
I like it when its hard
Then you know its worth it
That you found your heart

[Chorus x 2]

You're one in a million
Oh
You're one in a million

dipopulerkan oleh Bosson

Perempuan, Jika Suatu Saat Harus Berbagi.

Saya mengenal perempuan itu belum begitu lama, belum genap setahun.Saya tidak perlu menceritakan dimana saya mengenalnya. Cukuplah kisahnya sedikit banyak telah menginspirasi saya membuat tulisan ini.

Namanya, sebut saja Camelia (ah saya sangat suka nama ini, sejak Ebiet G Ade mempopulerkannya di jagat musik Indonesia). Umurnya sudah 40 tahun (entah lebih berapa, tepatnya saya kurang tahu). Tetapi, di usia yang sudah menginjak kepala empat itu, wajahnya masih terlihat ayu dan parasnya berbinar. Manis, dengan kacamata hitam menghias wajahnya. Sungguh, sebelumnya saya tak menyangka wajah secantik dan semuda itu sudah berusia 40 tahunan. Perempuan itu sudah bersuami dan mengarungi hampir 15 tahun lebih hidupnya bersama sang suami tercinta. Usia suaminya berjarak beberapa tahun darinya, terlihat dari uban yang hampir menutupi kepalanya. Ya, usia pernikahannya dengan sang suami sudah sangat lama. Lama sekali, dan tanpa seorang putra sekalipun.

Saya kurang tahu apa penyebabnya, yang jelas mungkin Alloh belum mempercayakan seorang putera untuk dititipkan pada sepasang suami-isteri itu. Meskipun pada akhirnya, Mbak Camelia (saya menyebutnya demikian) dan suami mengangkat seorang anak perempuan. Namun sang suami tetaplah menginginkan seorang anak kandung, anak yang benar-benar lahir dari rahim isterinya dan itu adalah benihnya sendiri.

Hingga suatu ketika, terbongkarlah sebuah rahasia. Sang suami ternyata selama ini telah menikahi seorang perempuan lain, secara siri. Dan perempuan itu akhirnya mengandung. Mulanya Mbak Camelia tidak percaya dengan omongan ibu-ibu di tempat pengajian yang diikutinya. Mbak Camelia mengatakan dengan tegas, “Saya sangat percaya dengan suami saya.” Hingga suatu saat, entah bermula darimana, Mbak Camelia akhirnya mengetahui bahwa sang suami telah menikah lagi tanpa sepengetahuan dan seijin dirinya. Mbak Camelia terguncang, jelas. Apalagi setelah tahu bahwa perempuan itu tidak lain adalah khadimat-nya (pembantu rumah tangganya), yang artinya selama hampir setahun itu dia tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam rumahnya. Sakit hati, sangat. Sampai-sampai keluarga besarnya menyuruhnya untuk minta cerai saja pada sang suami. Tapi dengan tegas pula, perempuan berhati mulia itu menolaknya. Mbak Camelia memilih mempertahankan rumah tangganya, dengan menerima kehadiran madu-nya yang tak lain adalah bekas khadimatnya dahulu. Berat memang, tapi perempuan itu mencoba mengikhlaskannya. Hingga akhirnya, si isteri muda melahirkan anak pertamanya, seorang bayi lelaki yang sangat mirip dengan sang ayah. Mbak Camelia dengan ikhlas ikut merawatnya.

Meskipun diakuinya, kadang merasakan sakit di dadanya. Apalagi, seperti yang saya lihat juga, si isteri muda ternyata kurang baik akhlaknya dan sangat pencemburu. Sedang sang suami, semenjak kehadiran anak lelaki dari isteri keduanya, mulai dirasakan perubahan sikapnya. Lagi-lagi, Mbak Camelia menerimanya dengan ikhlas dan mencoba tetap menjalani hari-hari seperti biasanya. Orang-orang disekitarnya hanya perlu tahu bahwa kehidupan rumah tangganya dengan sang suami dan isteri muda baik-baik saja. Bahkan terlihat rukun, ketiganya sering pergi bersama.

Hingga suatu saat, keajaiban Alloh datang. Mbak Camelia mengandung, seorang anak yang telah ditunggunya selama belasan tahun kini hadir di rahimnya. Mbak Camelia menjaga janinnya dengan baik, dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Tetap membantu suaminya menjaga bengkel dan toko, merawat ibu mertua (yang sudah pikun), menyiapkan keperluan suami dan anak angkatnya.

Dan ujian Alloh selalu datang pada orang yang tepat. Pada usia kandungan yang sudah mencapai 8 bulan, Mbak Camelia mengalami pendarahan. Penyebabnya, Ibu Mertuanya terjatuh di kamar mandi dan kebetulan saat itu tidak ada seorangpun di rumah, hanya ada 2 orang karyawan laki-laki (kebetulan rumah dan bengkel menjadi satu). Akhirnya Mbak Camelia dengan dibantu 2 karyawannya mengangkat tubuh Ibu Mertua dan membawanya ke rumah sakit. Mungkin karena kelelahan, tiba-tiba Mbak Camelia mengalami pendarahan. Dan akhirnya harus opname di rumah sakit. Karena kandungannya sudah tua dan fisiknya agak lemah, membuat Mbak Camelia berkali-kali harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Sang suami mengurusnya dengan dibantu sang isteri muda. Seperti yang saya lihat, sang isteri muda memperlihatkan sikap tidak sukanya. Jujur, saya kurang suka dengan sikap sang isteri muda itu, karena beberapa kali berinteraksi dengannya, saya tidak mendapatkan keramahan darinya.

Hingga puncaknya, suatu sore ketika kondisinya sudah membaik, pendarahan terulang lagi. Ssng suami membawanya ke rumah sakit. Dan akhirnya Alloh memang yang paling berhak mengambil segala sesuatu yang dititipkan pada hamba-Nya. Dengan pertimbangan banyak hal, maka dengan sangat terpaksa Dokter menyarankan untuk mengeluarkan si bayi sebulan sebelum waktunya (prematur). Dokter menyarankan untuk caesar namun Mbak Camelia menginginkan untuk melahirkan secara normal. Dan dengan kegigihan serta keyakinan, Mbak Camelia dapat melahirkan secara normal. Namun sayangnya, si bayi hanya mampu bertahan hidup selama satu jam. Karena kondisi Mbak Camelia yang lemah dan untuk menjaga sisi psikologisnya, sementara waktu Dokter menyarankan untuk tidak memberitahukan kondisi si bayi pada Mbak Camelia. Hingga akhirnya saya menjenguknya di rumah sakit, kondisinya memang masih lemah. Saya tidak berani menyinggung tentang bayinya, saya hanya menanyakan kondisinya dan mencoba membesarkan hatinya. Dan sangat tidak disangka-sangka, Mbak Camelia akhirnya menceritakan semuanya, kondisinya dan si bayi. Ternyata, keluarga sudah memberi tahu kondisi si bayi.

Saya mencoba menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Lidah saya kelu, tak tahu harus berkata apa. Hanya mampu bilang, “Sabara ya mbak ... Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Bayi lelaki yang sudah diimpikannya sejak belasan tahun lalu, harus direlakannya untuk diambil kembali oleh Pemiliknya.

Saya tahu, Mbak Camelia pasti shock, tetapi saya yakin perempuan itu mempunyai kesabaran lebih.

Ah ya, inilah sosok perempuan yang begitu menginspirasi saya. Yang tegar, meski diduakan oleh kekasih tercintanya. Tegar, saat semua yang dengan susah payah diusahakannya harus dikembalikan lagi pada Sang Pencipta.

Perempuan, jika suatu saat harus berbagi. Dia akan tahu, bagaimana dia harus melangkah sebagai seorang perempuan.

Dan suatu saat, jika saya dihadapkan pada sebuah pilihan, saya akan memilih apa yang memang saya inginkan. Karena saya tahu, Alloh pun memang telah memilihkannya untuk saya.


Solo, hujan deras mengguyurnya sore ini ....
_di setiap jengkal kehidupan saya sebagai perempuan, i’m proud to be a woman_

Saturday, November 14, 2009

Mudah Saja*

Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. cintamu seperti cintaku

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku

Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku

Mudah saja…


*Sheila On 7

Friday, November 6, 2009

SKETSA : “Mari kita lihat bisa sebaik apa kau tanpa seorang ibu!”

Hari ini (bahkan dari beberapa waktu yang lalu), koran masih membahas hal yang sama : Anggodo, Anggodo, Anggodo! Hah! Hebat benar dia, sampai diperbincangkan dimana-mana. Dan dunia Indonesia pun semakin semrawut dengan “mafia-mafia”nya. Tapi saat ini aku sedang tak berminat untuk membahas apa, kenapa, dan bagaimana itu makhluk bernama Anggodo.
.................................................................................>>

Pernah dengar lagu ini?
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ...
Ibu
Ibu

Tadi pagi kubaca sebuah berita di salah satu sudut sebuah koran cukup terkenal di Solo. Disana ditulis sebuah kisah seorang Ibu di China yang berusaha menyelamatkan anaknya. Usianya sudah mencapai 55 tahun. Perempuan itu rela berjalan kaki sejauh 10 kilometer setiap hari selama 7 bulan. Hal itu dilakukannya agar dia bisa menurunkan berat badannya dan menyelamatkan nyawa putranya.

Chen Yurong, perempuan itu, berjalan kaki lebih dari 2.000 kilometer secara keseluruhan setelah diberitahu bahwa putranya yang berusia 31 tahun, Ye Haibin, memerlukan cangkok hati. Namun pada Februari lalu dokter mengatakan hati Chen tak cocok karena telah tertimbun sangat banyak lemak.

Dalam upaya membuat hatinya siap untuk pencangkokan, Chen berjalan kaki di sepanjang tanggul sungai di dekat rumahnya di kabupaten Jiang’an, Provinsi Hubel, setiap hari. Ia juga menjalani diet, dan hanya makan nasi serta sayuran. Dan upaya keras si ibu itu terbukti tidak sia-sia. Berat badannya berhasil turun 8 kilogram, dan 19 Oktober lalu, tim dokter menyatakan hatinya telah mencapai standar untuk pencangkokan.
Dalam operasi selama 14 jam di Tonggi Hospital University, Chen telah memberikan sebagian hatinya kepada sang anak.

Desember tahun lalu, Chen memutuskan untuk mendonorkan hatinya kepada si anak, yang selama 18 tahun menderita penyakit Wilson. Penyakit Wilson merupakan penyakit genetika yang disebabkan oleh timbunan tembaga yang terlalu banyak dalam tubuh sehingga menyebabkan degenerasi (kemerosotan fungsi) hati.

Tim dokter mengatakan bahwa secara teori, hidup Ye Haibin dapat diperpanjang untuk waktu yang lama. Chen adalah ibu yang “luar biasa”.

SUBHANALLOH!

Aku benar-benar menangis membaca berita ini di koran.
That’s the wonderful person, IBU!
Dia lakukan semua untuk anaknya, meskipun nyawa taruhannya.

Ah, Ibu ...
Membayangkan wajahnya saja, terlintas begitu banyak kenangan.

Jadi ingat, kalau dulu sewaktu aku masih kecil, setiap kali Ibu menghadiri walimahan tetangga atau ketika rapat di kantor (kebetulan Ibuku adalah seorang guru) dan mendapatkan makanan kardus atau snack-snack kecil pasti dibawa pulang. Untuk anak-anaknya di rumah.

Setiap habis masak untuk keluarga dan tiba saatnya waktu makan, selalu menunggu semua anggota keluarga mengambil makan terlebih dahulu. Ibu menunggu untuk memastikan bahwa suami dan anak-anaknya telah kenyang.

Saat aku sedang menghadapi UAN SMA, dan jatuh sakit, Ibu dengan setia menemaniku belajar dan merawatku.

Saat aku akhirnya memutuskan untuk kuliah di Solo, dan kemudian menjadi aktivis (sok) sibuk hingga kadang jarang pulang ke rumah, Ibu hanya bisa bersabar dengan pertanyaannya “Kapan pulang, nduk?”.

Saat akhirnya aku collapse dengan tipusku dan opname beberapa kali di rumah sakit, Ibu berkata, ”Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa merawatmu dengan baik.” Kekhawatiran seorang Ibu.

Aku membuatnya sedih. Sedih.

Alloh ...

Aku tak bisa membayangkan, apa jadinya aku tanpa seorang Ibu. Siapalah aku, lahir dari rahim seorang perempuan tangguh, yang aku sangat tahu ketika beliau mendapatkan cobaan besar dalam hidupnya dan aku tak mampu berbuat apa-apa.

Alloh, kutitipkan penjagaannya pada-Mu.
Jangan ambil kebahagiaan dari sisinya, penuhi ia dengan limpahan rahmat-Mu.
Terlalu banyak kenangan, dan aku tak ingin menghapusnya.

Alloh, beri aku waktu ... sedikit lagi, untuk membahagiakannya.
Sampaikan usiaku hingga aku masih bisa mencium lembut kedua tangannya yang tak pernah henti menengadah ke langitmu, memanjatkan doa di tiap shalat malamnya.

Maafkan aku, Bu ...



_Ibu, akujatuhcintaditiapsenyumtulusmu_

Monday, November 2, 2009

Sebuah Reuni, “Me” Dalam 4 Slide

Slide Taman Kanak-kanak
Ehm ... ingatan apa ya yang tersisa dari taman kanak-kanak ku? Masih ingat waktu karnaval memakai kostum “guru”, seragam korpri sebutannya. Begitu ramainya kelas ku saat ada teman yang berulang tahun, syukuran dengan makanan yang untuk ukuran masa itu begitu berharga bagi anak-anak usia TK. Belajar menyanyi “Indonesia Raya”, “Pelangi”, “Bintang Kecil” hingga “Ibu Kita Kartini”. Dan foto-foto kenangan masa itu masih tersimpan rapi di salah satu sudut rumahku. Ah, ternyata aku dulu pernah kecil ... hihihi.


Slide 6 Tahun Di Sebuah Madrasah
Masa 6 tahun ini kuhabiskan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (hihihi). Aku masih ingat pelajaran yang paling kusukai, “Sejarah Islam” karena aku sangat suka dengan kisah-kisah heroik para mujahid/mujahidah Islam di masanya. Alhamdulillah selama enam tahun belajar selalu masuk populasi ranking teratas (nggaya). Aku juga masih ingat bagaimana lucunya jadi “komandan upacara” saat kelasku menjadi petugas upacara waktu itu. Dua kali ikut lomba tennis meja dan akhirnya kalah di akhir set, hiks, masih grogi-an kalau dilihat banyak orang. Jambore di Banyumas yang membuatku berurai air mata gara-gara didatangi bapakku waktu itu.
Kangen sungai dekat rumah, yang dulu tak pernah absen kusinggahi bersama teman-teman masa kecilku. Iya, sering banget main di sungai (meski awal-awalnya harus petak umpet dengan Ibu, hehe), rumahku kan ndeso. Meski sekedar menangkap capung atau nyeser iwak atau lebih seringnya keburan nang kali. Apalagi pas lagi banjir, seneng banget naik perahu, namanya juga anak kecil.
Masih ingat banget pasar-pasaran, manten-mantenan, petak umpet, kasti, gobag sodor, kecik. Ah, terlalu banyak kalau disebutkan. Tapi benar-benar menyenangkan. Kalau sekarang, mungkin nggak ada permainan kayak gitu lagi.


Slide 3 Tahun Di Menengah Pertama
Setiap masa, ada kenangannya. Pasti! Ingat rebutan bakwan di kantin SMP-ku, habis bakwannya uenakkk banget hehe. Pernah ikut lomba paduan suara (yang aneh) dan akhirnya mendapat juara harapan 1 (harapan sendiri, maksudnya hihihi). Latihan drama yang lucu hingga nasib tragis kelompok dramaku. Satu-satunya ekstrakurikuler yang kuikuti adalah PKS (Patroli Keamanan Sekolah). Menyenangkan bersepeda ria bersama teman-teman SMP-ku, waktu itu jamannya masih naik sepeda onthel. Dan yang paling kuingat, waktu pelajaran Tata Boga edisi table manner dan dengan terpaksanya harus menghabiskan semua makanan yang tersedia di meja makan (mentah dan matangnya), glekh!! Ah, rindu dengan segala pernak-perniknya.


Slide 3 Tahun Nostalgia SMA
Ehm ... penuh perjuangan untuk masuk SMA favorit di kotaku. MOS dengan nguber-nguber tandatangan kakak tingkat (sok artis banget gak sih) dan akhirnya dapat giliran diuber-uber juga hehehe. Pelajaran paling menyebalkan adalah KIMIA, arrggghhhh! Sampai sekarang juga nggak suka, makanya masuk Sosial, dan disana aku menemukan “kenyamanan”ku. Dan lagi-lagi ditunjuk untuk ikut PKS (Patroli Keamanan Sekolah), lumayan sih dapat sertifikat (lho?). Paling seneng soto-nya Bu Is di kantin pojok, meski sering kehabisan ... nyummy!
Kangen latihan taekwondo di dojang Kutoarjo, kangen tendang-tendangan, kangen gojlokan pas ujian kenaikan tingkat, kangen mengalahkan sparing partnerku! Kangen juga dengan pendakian ke Merbabu dan Sumbing, kapan lagi ya? Kangen kenakalan-kenakalan jaman itu sama teman-teman satu kost, main basket malam-malam dan konangan satpam hihihi, kabur dari sekolah waktu classmeeting, hah! Namanya juga masih berjiwa muda hehehe.
Masih ingat banget pentas mujahid di SMA sebelah, saat beraksi menjadi seorang mujahid, mengharukan! Dan yang paling indah, kudapatkan hidayahku. I am jilbaber, now and forever, insya Alloh!

Thursday, October 29, 2009

Angel dan Demon, ayo kita akhiri permainan ini!

Angel dan Demon
dua sisi terbalik yang selalu ada
untuk mempeributkan sesuatu
di diriku

kadang
sejujurnya kukatakan, aku capek
sangat!

tapi bagaimana mungkin
menyudahi semua ini
jika keduanya masih mengendap di hati

arrggghhhh ...!
ingin lepas dari semua
tapi (sepertinya)
sudah terlanjur sulit untuk berlepas diri
meski tahu salah


Angel dan Demon, ayo kita akhiri permainan ini!

MOZAIK PEREMPUAN *hari ini aku belajar tentang hidupku sebagai seorang perempuan*

*hari ini aku belajar tentang hidupku sebagai seorang perempuan*

Perempuan.
Hampir aku selalu terkagum-kagum dengan nama itu. Sebuah nama dengan berbagai keindahan. Keindahan fisik dan hati. Jelita!

Hari ini aku benar-benar belajar tentang diriku sendiri, yang seorang perempuan, dengan segala warna yang pernah kupunya. Hitam, putih, dan terkadang abu-abu, menjelma dalam diriku yang seorang perempuan. Dan aku begitu bangga menjadi seorang perempuan. Atau jika tidak ada yang bisa dibanggakan dari ke-perempuan-anku, maka aku patut berbangga karena lahir dari rahim seorang perempuan tangguh dan jelita. Ah Ibu, engkaulah perempuanku.

And, the story goes …

Hari ini aku belajar banyak dari seorang perempuan. Dia tidak terlalu cantik tapi juga tidak terlalu jelek, secara penampilan fisik. Bahkan bisa dibilang terlalu maskulin untuk ukuran perempuan seusianya. Umurnya sudah hampir berkepala empat. Dia seorang isteri (yang dinikah siri) dari seorang tukang becak (yang notabene adalah penderita diabetes) dan seorang ibu dari lima anak. Dan sudah bisa ditebak, bahwa perempuan ini masih terdaftar dalam populasi makhluk pinggiran dengan ekonomi lemah. Saat ini dia tengah menanti kelahiran anak ke-enam-nya, anak yang entah apakah sangat didamba olehnya atau tidak.

Dan tahukah kalian? Perempuan ini dengan sangat jujur mengakui bahwa hampir kelima anaknya itu dipastikan bukan anak suaminya, melainkan hasil hubungannya dengan seorang lelaki lain (yang notabene lebih muda beberapa tahun darinya, atau bahasa kerennya disebut sebagai brondong), bahkan janin yang kini sedang dikandungnya pun hasil hubungan dengan pacar gelapnya. Masya Alloh!

Perempuan ini juga terang-terangan mengakui bahwa sang suami (yang tukang becak tadi) hanya menikahinya secara siri karena sang suami tahu bahwa perempuan ini sudah seringkali main serong dengan selingkuhannya. Bahkan sang suami men-capnya sebagai seorang pelacur (maaf). Na’udzubillah.

Memang dilihat dari cerita yang disampaikannya, perempuan ini seolah sudah tak punya malu lagi untuk menunjukkan bahwa dia tetap akan hidup dengan dirinya yang seperti itu. Terserah, orang mau men-capnya sebagai apa, dia tetaplah dia dengan wujudnya sebagai seorang perempuan. Toh, Alloh lebih tahu.

Saya tidak akan membahas masalah internal keluarga perempuan ini; kenapa dia selingkuh dan bahkan melahirkan anak-anaknya dari lelaki yang bukan suaminya hingga hampir enam kali, kenapa suaminya menjadi acuh terhadap segala kelakuannya dan kenapa dia masih mempertahankan bayi yang ada di rahimnya.

Dan saya rasa, saya juga tak berhak untuk mencap-nya sebagai makhluk nista, bukan perempuan baik-baik, yang menjual dirinya dengan sangat murah kepada syaithan. Hanya Alloh yang berhak menilainya, hanya Alloh yang lebih tahu segalanya.

Saya belajar, bahwa ternyata tidak cukup mudah untuk menjadi seorang perempuan dengan segala yang dimilikinya.

Perempuan, yang ternyata mampu menanggung beban psikologis yang lebih berat daripada lelaki. Mungkin inilah kenapa hanya perempuan yang bisa menjadi tempat curhat yang nyaman, khususnya bagi sesamanya. Dan mungkin inilah alasan, kenapa Alloh menganugerahi perempuan sebuah rahim untuk ditumbuhkan makhluk-makhluk mungil dengan pertaruhan jihad fii sabilillah. Subhanalloh!

Perempuan, yang dalam satu waktu tak akan mungkin mencintai dua lelaki sekaligus. Dia pasti akan lebih setia pada satu orang saja. Karena perempuan hanya punya satu hati dan hanya akan ada satu nama yang disimpannya di bilik hatinya itu. Berbeda dengan lelaki yang akan dengan mudahnya membagi cintanya dengan beberapa perempuan, dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan inilah alasan kenapa tidak ada poliandri di dunia seorang perempuan. How come ??

Perempuan dengan mozaiknya; kecantikan, kelembutan, ketangguhan, dan kesabarannya, membuat dunia begitu berbeda. Ia bisa menjadi “Peri Baik Hati” yang akan menjaga hati makhluk-makhluk maskulin agar tetap berjalan di atas kebaikan, tetapi ia juga bisa menjadi “Iblis Cantik” yang akan menaklukan hati makhluk-makhluk maskulin itu hingga jatuh ke jurang yang paling dalam bernama nista. Dengan “kecantikan”nya, ia bisa menaklukan semuanya, termasuk segumpal daging bernama hati. Karena tidak ada perempuan yang sangat cantik di dunia ini, yang ada ialah kaum adam yang sangat lemah bila berhadapan dengan kecantikan. Tetapi tahukah? Bahwa kecantikan perempuan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemuliaan akhlak dan perilakunya. Perfect wannabe!

Perempuan, yang bisa dengan mudahnya memaafkan, setelah berbagai pengkhianatan yang dilakukan orang yang dicintainya. Memaafkan, sebuah tindakan yang membutuhkan energi yang lebih besar dari matahari dan bintang lainnya di semesta raya, namun begitu mudah dilakukan oleh makhluk (yang katanya) lemah seperti perempuan. So deep!

Perempuan, makhluk lemah yang sangat berlebihan dalam mencintai dan membenci. Dia tidak berada ditengah-tengahnya. Hebat bukan? Sungguh beruntung makhluk-makhluk di bumi Alloh yang dicurahi perasaan cinta yang sangat kuat dari seorang perempuan, karena dia akan memberikan segala yang dimilikinya. Totalitas dalam mencintai, pengejawantahan cinta yang berbeda dari makhluk bumi lainnya. Mungkin inilah alasan kenapa lelaki tak boleh menyakiti hati perempuan. Seperti kaca ?

Perempuan, yang akan kesulitan jika dia berada diantara seorang lelaki yang dicintainya dan seorang lelaki lain yang mencintainya. Entahlah, ia akan memilih yang mana. Yang jelas, ia hanya akan memilih takdirnya sendiri. She still looking for her soulmate, in this small world!

Ah, jika begitu … benarlah, surga di telapak kaki ibu (baca: perempuan).

Saya hanya ingin menjadi seorang perempuan baik-baik, bukan karena saya ingin mendapatkan seorang lelaki baik-baik juga. Tetapi karena saya merasa bahwa saya memang menginginkannya, sejak sebelum saya menyadari betapa hebatnya menjadi seorang perempuan.

Betapa hebatnya ketika mengenang jejak hidup: titik-titik air yang menggenangi mata dan membentuk sebuah lingkar bernama telaga, peluh yang merusuhi jiwa dan merapuhi sekujur raga, sebongkah hati yang (amat sangat dan terlalu sering) lelah dengan kelelahan yang tak terlihat, hidup dengan segala hiruk pikuknya mozaik sebagai seorang perempuan. What’s a wonderful word, PEREMPUAN!

Ah, inilah bahagianya menjadi seorang perempuan.
Saya sungguh ingin menjadi seorang perempuan baik-baik.
Karena kelak ketika (pada akhirnya) saya diijinkan bertemu dengan-Mu, saya ingin tampak baik di hadapan-Mu.
Selalu ingin menjadi lebih baik.
Sungguh!



Something about Me …. 29102009
*sunyi ini membunuhku ….. i’m speechless, feeling insecure urrggghhhh! ….. menabrak tembok, in my twenty three*