Friday, January 8, 2010

Mimpi Buruk : “Semoga ini memang hanya mimpi ...”

Bagaimana kau merasa bangga, akan dunia yang sementara
Bagaimana kau bila semua, hilang dan pergi meninggalkan dirimu*

Pernah suatu kali, saya bermimpi. Mimpi paling buruk yang pernah saya dapatkan seumur hidup saya, mimpi ter-ngeri yang pernah saya jumpai, sebuah mimpi yang paling tidak saya inginkan.

Astagfirullahal’adziim, semoga itu memang hanya mimpi.

Saya bermimpi tentang kematian. Ya, saya mimpi kalau saya mati. Masih terbayang dengan jelas, saya bisa melihat tubuh saya yang terbujur kaku di keranda. Dan di sekelilingnya, orang-orang yang sangat saya cintai menangisi kepergian saya. Saya tahu, bagaimana wajah Ibu saya begitu sendunya. Ah, Ibu ... perempuan yang paling saya khawatirkan ketika saya tinggalkan. Semoga Alloh selalu menjaganya.

Dan saat saya sadari bahwa saya telah mati, saya menangis sejadi-jadinya. Hingga di alam nyata pun, saat terbangun dari mimpi buruk itu, saya dapati wajah saya sudah basah dengan air mata. Saya menangis karena saya sadar saya belum punya bekal apa-apa untuk perjalanan saya di akherat. Saya menyesal, meminta Alloh mengembalikan saya lagi ke dunia nyata. Mengembalikan saya ke tengah-tengah orang yang saya cintai, mengusap lagi air mata Ibunda tercinta. Tetapi, usaha saya sia-sia. Saya tetap melihat tubuh saya yang terbujur kaku di samping tangisan seorang Ibu. Alloh, saya ingin hidup lagi!

Dan ketika saya bangun, Alhamdulillah ... saya hanya bermimpi. Setidaknya menyurutkan kekhawatiran saya, bahwa saya belum mati sampai saat itu. Meski saya tahu, suatu saat saya pasti akan bertemu dengannya. Suatu saat, saya akan mati. Hanya tinggal menunggu waktu.

K.E.M.A.T.I.A.N
Kata yang mungkin agak mengerikan dan membosankan untuk diperdengarkan. Tapi dialah yang paling dekat dengan kita.

Bicara tentang kematian adalah bicara tentang waktu. Ya, waktu. Ah, berapa lamakah lagi bisa bercanda bersama teman-teman, berapa lama lagi melakukan segala sesuatu yang diinginkan, berapa lama lagi waktu saya untuk membaktikan diri pada orang tua, dan berapa lama lagi jatah hidup di dunia?

Ngeri sekali membayangkan malaikat maut menjemput saya dengan senyum termanisnya, sementara saya tak punya daya untuk melengkungkan sabit di hati saya.

Ah, jika saatnya saya harus “pulang”, saya ingin “pulang” dalam keadaan terbaik. Dalam kondisi keimanan saya yang paling baik, yang paling tinggi, yang paling manis yang pernah saya punya.
Saya ingin “pulang” dalam pelukan orang yang mencintai saya (dan saya mencintainya), ingin berada diantara orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai. Sehingga, meskipun mereka menangis sedu dengan kepergian saya, saya tetap akan tersenyum ikhlas. Ah, kematian yang indah.

Tetapi semua harus melewati prosesnya. Jika saya inginkan akhir yang indah, maka saya harus tetap berjuang dengan ikhlas, istiqomah dan senantiasa menjaga diri dalam kebaikan. “karena surga bukanlah kado yang dihadiahkan begitu saja?”. Saya harus menjemputnya, seperti jika suatu saat kematian menjemput saya.

Ketika beberapa orang yang saya cintai meninggalkan saya, dengan sangat tiba-tiba, dan akhirnya sukses meruntuhkan pertahanan saya. Lagi-lagi, secara manusiawi, air mata saya selalu mendesak keluar begitu menyadari bahwa mereka telah tiada dan hati remuk redam. Selalu membuat saya bertanya, sedang apa mereka di alam kubur? Lapangkah alam kubur mereka? Sukseskah wawancara mereka dengan malaikat-Nya? Allohu Akbar! Saya hanya mampu berdoa, semoga kelak saya dipertemukan dan dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di jannah-Nya. Amin ya Rabb ...

Ya, ternyata kematian mengajarkan saya bahwa I’am Nothing. Saya bukan siapa-siapa. Saya tak pantas sombong dengan apa yang saya miliki, karena kelak semuanya akan kembali pada-Nya.
Astaghfirullahal’adziim, berapa banyak sebenarnya amal yang saya punya? Jangan-jangan sudah habis di dunia, sebelum sempat saya nikmati di akhirat kelak. Tidaaaaak!

Alloh, jagalah setiap keikhlasan dalam setiap langkah saya.

Berhentilah sombong, perbanyak sedekah, perbanyak berbuat baik, perbanyak ibadah, dan berhenti berprasangka buruk pada orang lain.

Semoga Alloh selalu menjagaku, menjaga kita semua.
Dan kelak, ketika utusan-Nya datang ... maka saya telah siap.
Matikan aku, syahid di jalan-Mu.
Bismillah!

............................>>
Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimana kau bila semua
Hilang dan pergi meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masihkah ada jalan bagimu
Untuk kembali mengulang ‘kan masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yang ada akan kembali pada-Nya

Bila waktu t’lah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu t’lah terhenti
Teman sejati tinggalah sepi*
..............................>>

Solo, 06012010
:sedikit emosi, begini nih kalo inget ama dosa yang setumpuk ... whatever, saya hanya sedang memainkan peran saya di dunia ini sambil menunggu proses penjurian di akhirat ... so, let be my self ^^ ... semoga tulisan ini juga menjadi amal pemberat saya di akhirat, amin ya Rabb:



*nasheed from Opick, Bila Waktu T’lah Berakhir .... the nice’s song, semakin mengaduk isi hatiku T_________T

Tuhan Sembilan Senti*

......
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memgang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kiai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu’alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasululloh dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan
.......

Berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

*Taufiq Ismail


_menemukan bait-bait puisi ini di antara tumpukan asap ... ah, andaikan bisa diganti dengan asap jerami, pasti menyenangkan! hahayyy_

Tuesday, December 29, 2009

one in a million

You're one in a million
Oh
Now
You're one in a million
Oh

Sometimes love can hit you every day
Sometimes you can fall for everyone you see
But only one can really make me stay
A sign from the sky
Said to me

[Chorus]
You're one in a million
You're once in a lifetime
You made me discover one of the stars above us
You're one in a million
You're once in a lifetime
You made me discover one of the stars above us

I've been looking for that special one
And I've been searching for someone to give my love
And when I thought that all the hope was gone
A smile, there you were and I was gone

I always will remember how I felt that day
A feeling indescribable to me
Yeah
I always knew there was an answer for my prayer
And you, you're the one for me

[Chorus x 2]

In the beginning I was cool and everything was possible
They tried to catch me but it was impossible
No one could hurt me it was my game
Until I met you baby and you were the same
And when you didn't want me I wanted you because
The funny thing about it is I liked the show
I like it when its difficult
I like it when its hard
Then you know its worth it
That you found your heart

[Chorus x 2]

You're one in a million
Oh
You're one in a million

dipopulerkan oleh Bosson

Perempuan, Jika Suatu Saat Harus Berbagi.

Saya mengenal perempuan itu belum begitu lama, belum genap setahun.Saya tidak perlu menceritakan dimana saya mengenalnya. Cukuplah kisahnya sedikit banyak telah menginspirasi saya membuat tulisan ini.

Namanya, sebut saja Camelia (ah saya sangat suka nama ini, sejak Ebiet G Ade mempopulerkannya di jagat musik Indonesia). Umurnya sudah 40 tahun (entah lebih berapa, tepatnya saya kurang tahu). Tetapi, di usia yang sudah menginjak kepala empat itu, wajahnya masih terlihat ayu dan parasnya berbinar. Manis, dengan kacamata hitam menghias wajahnya. Sungguh, sebelumnya saya tak menyangka wajah secantik dan semuda itu sudah berusia 40 tahunan. Perempuan itu sudah bersuami dan mengarungi hampir 15 tahun lebih hidupnya bersama sang suami tercinta. Usia suaminya berjarak beberapa tahun darinya, terlihat dari uban yang hampir menutupi kepalanya. Ya, usia pernikahannya dengan sang suami sudah sangat lama. Lama sekali, dan tanpa seorang putra sekalipun.

Saya kurang tahu apa penyebabnya, yang jelas mungkin Alloh belum mempercayakan seorang putera untuk dititipkan pada sepasang suami-isteri itu. Meskipun pada akhirnya, Mbak Camelia (saya menyebutnya demikian) dan suami mengangkat seorang anak perempuan. Namun sang suami tetaplah menginginkan seorang anak kandung, anak yang benar-benar lahir dari rahim isterinya dan itu adalah benihnya sendiri.

Hingga suatu ketika, terbongkarlah sebuah rahasia. Sang suami ternyata selama ini telah menikahi seorang perempuan lain, secara siri. Dan perempuan itu akhirnya mengandung. Mulanya Mbak Camelia tidak percaya dengan omongan ibu-ibu di tempat pengajian yang diikutinya. Mbak Camelia mengatakan dengan tegas, “Saya sangat percaya dengan suami saya.” Hingga suatu saat, entah bermula darimana, Mbak Camelia akhirnya mengetahui bahwa sang suami telah menikah lagi tanpa sepengetahuan dan seijin dirinya. Mbak Camelia terguncang, jelas. Apalagi setelah tahu bahwa perempuan itu tidak lain adalah khadimat-nya (pembantu rumah tangganya), yang artinya selama hampir setahun itu dia tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam rumahnya. Sakit hati, sangat. Sampai-sampai keluarga besarnya menyuruhnya untuk minta cerai saja pada sang suami. Tapi dengan tegas pula, perempuan berhati mulia itu menolaknya. Mbak Camelia memilih mempertahankan rumah tangganya, dengan menerima kehadiran madu-nya yang tak lain adalah bekas khadimatnya dahulu. Berat memang, tapi perempuan itu mencoba mengikhlaskannya. Hingga akhirnya, si isteri muda melahirkan anak pertamanya, seorang bayi lelaki yang sangat mirip dengan sang ayah. Mbak Camelia dengan ikhlas ikut merawatnya.

Meskipun diakuinya, kadang merasakan sakit di dadanya. Apalagi, seperti yang saya lihat juga, si isteri muda ternyata kurang baik akhlaknya dan sangat pencemburu. Sedang sang suami, semenjak kehadiran anak lelaki dari isteri keduanya, mulai dirasakan perubahan sikapnya. Lagi-lagi, Mbak Camelia menerimanya dengan ikhlas dan mencoba tetap menjalani hari-hari seperti biasanya. Orang-orang disekitarnya hanya perlu tahu bahwa kehidupan rumah tangganya dengan sang suami dan isteri muda baik-baik saja. Bahkan terlihat rukun, ketiganya sering pergi bersama.

Hingga suatu saat, keajaiban Alloh datang. Mbak Camelia mengandung, seorang anak yang telah ditunggunya selama belasan tahun kini hadir di rahimnya. Mbak Camelia menjaga janinnya dengan baik, dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Tetap membantu suaminya menjaga bengkel dan toko, merawat ibu mertua (yang sudah pikun), menyiapkan keperluan suami dan anak angkatnya.

Dan ujian Alloh selalu datang pada orang yang tepat. Pada usia kandungan yang sudah mencapai 8 bulan, Mbak Camelia mengalami pendarahan. Penyebabnya, Ibu Mertuanya terjatuh di kamar mandi dan kebetulan saat itu tidak ada seorangpun di rumah, hanya ada 2 orang karyawan laki-laki (kebetulan rumah dan bengkel menjadi satu). Akhirnya Mbak Camelia dengan dibantu 2 karyawannya mengangkat tubuh Ibu Mertua dan membawanya ke rumah sakit. Mungkin karena kelelahan, tiba-tiba Mbak Camelia mengalami pendarahan. Dan akhirnya harus opname di rumah sakit. Karena kandungannya sudah tua dan fisiknya agak lemah, membuat Mbak Camelia berkali-kali harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Sang suami mengurusnya dengan dibantu sang isteri muda. Seperti yang saya lihat, sang isteri muda memperlihatkan sikap tidak sukanya. Jujur, saya kurang suka dengan sikap sang isteri muda itu, karena beberapa kali berinteraksi dengannya, saya tidak mendapatkan keramahan darinya.

Hingga puncaknya, suatu sore ketika kondisinya sudah membaik, pendarahan terulang lagi. Ssng suami membawanya ke rumah sakit. Dan akhirnya Alloh memang yang paling berhak mengambil segala sesuatu yang dititipkan pada hamba-Nya. Dengan pertimbangan banyak hal, maka dengan sangat terpaksa Dokter menyarankan untuk mengeluarkan si bayi sebulan sebelum waktunya (prematur). Dokter menyarankan untuk caesar namun Mbak Camelia menginginkan untuk melahirkan secara normal. Dan dengan kegigihan serta keyakinan, Mbak Camelia dapat melahirkan secara normal. Namun sayangnya, si bayi hanya mampu bertahan hidup selama satu jam. Karena kondisi Mbak Camelia yang lemah dan untuk menjaga sisi psikologisnya, sementara waktu Dokter menyarankan untuk tidak memberitahukan kondisi si bayi pada Mbak Camelia. Hingga akhirnya saya menjenguknya di rumah sakit, kondisinya memang masih lemah. Saya tidak berani menyinggung tentang bayinya, saya hanya menanyakan kondisinya dan mencoba membesarkan hatinya. Dan sangat tidak disangka-sangka, Mbak Camelia akhirnya menceritakan semuanya, kondisinya dan si bayi. Ternyata, keluarga sudah memberi tahu kondisi si bayi.

Saya mencoba menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Lidah saya kelu, tak tahu harus berkata apa. Hanya mampu bilang, “Sabara ya mbak ... Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Bayi lelaki yang sudah diimpikannya sejak belasan tahun lalu, harus direlakannya untuk diambil kembali oleh Pemiliknya.

Saya tahu, Mbak Camelia pasti shock, tetapi saya yakin perempuan itu mempunyai kesabaran lebih.

Ah ya, inilah sosok perempuan yang begitu menginspirasi saya. Yang tegar, meski diduakan oleh kekasih tercintanya. Tegar, saat semua yang dengan susah payah diusahakannya harus dikembalikan lagi pada Sang Pencipta.

Perempuan, jika suatu saat harus berbagi. Dia akan tahu, bagaimana dia harus melangkah sebagai seorang perempuan.

Dan suatu saat, jika saya dihadapkan pada sebuah pilihan, saya akan memilih apa yang memang saya inginkan. Karena saya tahu, Alloh pun memang telah memilihkannya untuk saya.


Solo, hujan deras mengguyurnya sore ini ....
_di setiap jengkal kehidupan saya sebagai perempuan, i’m proud to be a woman_

Saturday, November 14, 2009

Mudah Saja*

Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. cintamu seperti cintaku

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku

Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku

Mudah saja…


*Sheila On 7

Friday, November 6, 2009

SKETSA : “Mari kita lihat bisa sebaik apa kau tanpa seorang ibu!”

Hari ini (bahkan dari beberapa waktu yang lalu), koran masih membahas hal yang sama : Anggodo, Anggodo, Anggodo! Hah! Hebat benar dia, sampai diperbincangkan dimana-mana. Dan dunia Indonesia pun semakin semrawut dengan “mafia-mafia”nya. Tapi saat ini aku sedang tak berminat untuk membahas apa, kenapa, dan bagaimana itu makhluk bernama Anggodo.
.................................................................................>>

Pernah dengar lagu ini?
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ...
Ibu
Ibu

Tadi pagi kubaca sebuah berita di salah satu sudut sebuah koran cukup terkenal di Solo. Disana ditulis sebuah kisah seorang Ibu di China yang berusaha menyelamatkan anaknya. Usianya sudah mencapai 55 tahun. Perempuan itu rela berjalan kaki sejauh 10 kilometer setiap hari selama 7 bulan. Hal itu dilakukannya agar dia bisa menurunkan berat badannya dan menyelamatkan nyawa putranya.

Chen Yurong, perempuan itu, berjalan kaki lebih dari 2.000 kilometer secara keseluruhan setelah diberitahu bahwa putranya yang berusia 31 tahun, Ye Haibin, memerlukan cangkok hati. Namun pada Februari lalu dokter mengatakan hati Chen tak cocok karena telah tertimbun sangat banyak lemak.

Dalam upaya membuat hatinya siap untuk pencangkokan, Chen berjalan kaki di sepanjang tanggul sungai di dekat rumahnya di kabupaten Jiang’an, Provinsi Hubel, setiap hari. Ia juga menjalani diet, dan hanya makan nasi serta sayuran. Dan upaya keras si ibu itu terbukti tidak sia-sia. Berat badannya berhasil turun 8 kilogram, dan 19 Oktober lalu, tim dokter menyatakan hatinya telah mencapai standar untuk pencangkokan.
Dalam operasi selama 14 jam di Tonggi Hospital University, Chen telah memberikan sebagian hatinya kepada sang anak.

Desember tahun lalu, Chen memutuskan untuk mendonorkan hatinya kepada si anak, yang selama 18 tahun menderita penyakit Wilson. Penyakit Wilson merupakan penyakit genetika yang disebabkan oleh timbunan tembaga yang terlalu banyak dalam tubuh sehingga menyebabkan degenerasi (kemerosotan fungsi) hati.

Tim dokter mengatakan bahwa secara teori, hidup Ye Haibin dapat diperpanjang untuk waktu yang lama. Chen adalah ibu yang “luar biasa”.

SUBHANALLOH!

Aku benar-benar menangis membaca berita ini di koran.
That’s the wonderful person, IBU!
Dia lakukan semua untuk anaknya, meskipun nyawa taruhannya.

Ah, Ibu ...
Membayangkan wajahnya saja, terlintas begitu banyak kenangan.

Jadi ingat, kalau dulu sewaktu aku masih kecil, setiap kali Ibu menghadiri walimahan tetangga atau ketika rapat di kantor (kebetulan Ibuku adalah seorang guru) dan mendapatkan makanan kardus atau snack-snack kecil pasti dibawa pulang. Untuk anak-anaknya di rumah.

Setiap habis masak untuk keluarga dan tiba saatnya waktu makan, selalu menunggu semua anggota keluarga mengambil makan terlebih dahulu. Ibu menunggu untuk memastikan bahwa suami dan anak-anaknya telah kenyang.

Saat aku sedang menghadapi UAN SMA, dan jatuh sakit, Ibu dengan setia menemaniku belajar dan merawatku.

Saat aku akhirnya memutuskan untuk kuliah di Solo, dan kemudian menjadi aktivis (sok) sibuk hingga kadang jarang pulang ke rumah, Ibu hanya bisa bersabar dengan pertanyaannya “Kapan pulang, nduk?”.

Saat akhirnya aku collapse dengan tipusku dan opname beberapa kali di rumah sakit, Ibu berkata, ”Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa merawatmu dengan baik.” Kekhawatiran seorang Ibu.

Aku membuatnya sedih. Sedih.

Alloh ...

Aku tak bisa membayangkan, apa jadinya aku tanpa seorang Ibu. Siapalah aku, lahir dari rahim seorang perempuan tangguh, yang aku sangat tahu ketika beliau mendapatkan cobaan besar dalam hidupnya dan aku tak mampu berbuat apa-apa.

Alloh, kutitipkan penjagaannya pada-Mu.
Jangan ambil kebahagiaan dari sisinya, penuhi ia dengan limpahan rahmat-Mu.
Terlalu banyak kenangan, dan aku tak ingin menghapusnya.

Alloh, beri aku waktu ... sedikit lagi, untuk membahagiakannya.
Sampaikan usiaku hingga aku masih bisa mencium lembut kedua tangannya yang tak pernah henti menengadah ke langitmu, memanjatkan doa di tiap shalat malamnya.

Maafkan aku, Bu ...



_Ibu, akujatuhcintaditiapsenyumtulusmu_

Monday, November 2, 2009

Sebuah Reuni, “Me” Dalam 4 Slide

Slide Taman Kanak-kanak
Ehm ... ingatan apa ya yang tersisa dari taman kanak-kanak ku? Masih ingat waktu karnaval memakai kostum “guru”, seragam korpri sebutannya. Begitu ramainya kelas ku saat ada teman yang berulang tahun, syukuran dengan makanan yang untuk ukuran masa itu begitu berharga bagi anak-anak usia TK. Belajar menyanyi “Indonesia Raya”, “Pelangi”, “Bintang Kecil” hingga “Ibu Kita Kartini”. Dan foto-foto kenangan masa itu masih tersimpan rapi di salah satu sudut rumahku. Ah, ternyata aku dulu pernah kecil ... hihihi.


Slide 6 Tahun Di Sebuah Madrasah
Masa 6 tahun ini kuhabiskan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (hihihi). Aku masih ingat pelajaran yang paling kusukai, “Sejarah Islam” karena aku sangat suka dengan kisah-kisah heroik para mujahid/mujahidah Islam di masanya. Alhamdulillah selama enam tahun belajar selalu masuk populasi ranking teratas (nggaya). Aku juga masih ingat bagaimana lucunya jadi “komandan upacara” saat kelasku menjadi petugas upacara waktu itu. Dua kali ikut lomba tennis meja dan akhirnya kalah di akhir set, hiks, masih grogi-an kalau dilihat banyak orang. Jambore di Banyumas yang membuatku berurai air mata gara-gara didatangi bapakku waktu itu.
Kangen sungai dekat rumah, yang dulu tak pernah absen kusinggahi bersama teman-teman masa kecilku. Iya, sering banget main di sungai (meski awal-awalnya harus petak umpet dengan Ibu, hehe), rumahku kan ndeso. Meski sekedar menangkap capung atau nyeser iwak atau lebih seringnya keburan nang kali. Apalagi pas lagi banjir, seneng banget naik perahu, namanya juga anak kecil.
Masih ingat banget pasar-pasaran, manten-mantenan, petak umpet, kasti, gobag sodor, kecik. Ah, terlalu banyak kalau disebutkan. Tapi benar-benar menyenangkan. Kalau sekarang, mungkin nggak ada permainan kayak gitu lagi.


Slide 3 Tahun Di Menengah Pertama
Setiap masa, ada kenangannya. Pasti! Ingat rebutan bakwan di kantin SMP-ku, habis bakwannya uenakkk banget hehe. Pernah ikut lomba paduan suara (yang aneh) dan akhirnya mendapat juara harapan 1 (harapan sendiri, maksudnya hihihi). Latihan drama yang lucu hingga nasib tragis kelompok dramaku. Satu-satunya ekstrakurikuler yang kuikuti adalah PKS (Patroli Keamanan Sekolah). Menyenangkan bersepeda ria bersama teman-teman SMP-ku, waktu itu jamannya masih naik sepeda onthel. Dan yang paling kuingat, waktu pelajaran Tata Boga edisi table manner dan dengan terpaksanya harus menghabiskan semua makanan yang tersedia di meja makan (mentah dan matangnya), glekh!! Ah, rindu dengan segala pernak-perniknya.


Slide 3 Tahun Nostalgia SMA
Ehm ... penuh perjuangan untuk masuk SMA favorit di kotaku. MOS dengan nguber-nguber tandatangan kakak tingkat (sok artis banget gak sih) dan akhirnya dapat giliran diuber-uber juga hehehe. Pelajaran paling menyebalkan adalah KIMIA, arrggghhhh! Sampai sekarang juga nggak suka, makanya masuk Sosial, dan disana aku menemukan “kenyamanan”ku. Dan lagi-lagi ditunjuk untuk ikut PKS (Patroli Keamanan Sekolah), lumayan sih dapat sertifikat (lho?). Paling seneng soto-nya Bu Is di kantin pojok, meski sering kehabisan ... nyummy!
Kangen latihan taekwondo di dojang Kutoarjo, kangen tendang-tendangan, kangen gojlokan pas ujian kenaikan tingkat, kangen mengalahkan sparing partnerku! Kangen juga dengan pendakian ke Merbabu dan Sumbing, kapan lagi ya? Kangen kenakalan-kenakalan jaman itu sama teman-teman satu kost, main basket malam-malam dan konangan satpam hihihi, kabur dari sekolah waktu classmeeting, hah! Namanya juga masih berjiwa muda hehehe.
Masih ingat banget pentas mujahid di SMA sebelah, saat beraksi menjadi seorang mujahid, mengharukan! Dan yang paling indah, kudapatkan hidayahku. I am jilbaber, now and forever, insya Alloh!